Senin, 19 Desember 2016

ANALISIS BUKU FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA

22.05 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Buku               : FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA
Penulis             : PROF. DR. AHMAD TAFSIR
Penerbit           :PT REMAJA ROSDAKARYA
Tahun Terbit    : 2008
Jika menilik pada pemikiran Kant terkait akal dan hati yang memiliki kesinambungan diantara keduanya. Yang jika melihat sejarah akal dan hati pada pemikiran jalur barat seperti Kant ini memiliki perbedaan dengan pandangan akal dan hati di jalur timur yaitu dunia islam. Dimana dalam buku kedua mengenai FILSAFAT UMUM akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, terdapat perbedaan mengenai akal dan hati yakni dari segi waktu dan sifat dominasinya. Dimana akal sedang kalah total di Barat, seperti misalnya dalam abad pertengahan namun di Timur akal sedang dihargai. Hal ini berkaitan dengan waktunya. Sedangkan mengenai sifat dominasinya, akal di Timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga menyebabkan orang islam meninggalkan agama, lalu mengambil materialism dan ateisme. Sedangkan barat dominasi akan terlalu besar sehingga orang akan mengambil materialism dan ateisme sementara hati, ketika mendominasi akal secara total akan ditentang. Dalam hal dominasi ini bertolak belakang dengan pernyataan Kant dimana ia menyebutkan bahwa dalam memahami agama akal dan sains tidak dapat diandalkan maka selanjutnya morallah yang dapat menjawabnya. Sehingga antara Kant dan dominasi ini terdapat perbedaan penempatan akal dan hati dimana dominasi timur lebih kepada keberpihakan terhadap satu hal baik akal ataupun hati yang kemudian mendominasi. Namun menurut Kant akal dan hati ini diperlukan atau sama-sama menang.
Terdapat perbedaan antara pemikiran rasional (filsafat) dan rasa (tashawwuf) atau jalur hati (rasa), yang diantaranya ada yang bersiat prinsip. Akan tetapi perbedaan itu tidak menyebabkan ada orang islam yang didominasi oleh akal secara total sebagaimana halnya tidak ada juga orang islam yang didominasi oleh hati (rasa) seratus persen. Buktinya ialah tidak ada filosof maupun sufi islam yang meninggalkan iman, apalagi sampai mengambil paham materialisme atau atheism. Penghargaan terhadap Al-qur’an pada akal dan hati ini tidak menimbulkan akibat seperti di Barat. Jadi penghargaan pada akal di Barat dan di Timur sama-sama membawa akibat berkembangnya filsafat rasional, tetapi tidak sama kekuatan dominasinya terhadap jalan hidup manusia. Adanya pembahasan dominasi ini menilik pada beberapa abad yang terjadi adanya kemenangan terhadap satu hal saja misalnya hati atau akal semata. Dalam dunia barat yakni kitab suci Kristen memang tidak memberikan ruang bagi penggunaan akal berbeda dengan kitab suci Al-Quran yang menghargai akal dan hati sehingga terjadi pula perbedaan dominasi diantara keduanya.
penghargaan terhadap hati di barat dan timur sama-sama mengembangkan mistisisme, tetapi di barat sampai menjauhi filsafat, sedangkan di Timur tidak berakibat menjauhi akal. Mengapa demikian ? Karena Kitab Suci Islam (Al-Qur’an) menghargai akal dan hati, sedangkan kitab suci kristen memang tidak memberi tempat bagi penggunaan akal. Pertengahan anatara akal dan hati (iman) memang terjadi juga di dalam islam, tetapi tidak sehebat di Barat. Di Timur filosof ada yang benar-benar mengambil paham materialisme dan atau ateisme. Di dalam islam perbedaan antara filosof dan sufi hanyalah perbedaan visi dalam menafsirkan Kitab Suci; orang-orang filsafat umumnya menggunakan takwil kearah rasio sementara orang-orang tashawwuf juga menggunakan takwil, tetapi ke arah rasa. Perkembangan itu tidak meyebabkan gejolak yang berarti didalam islam. Gejolak ada juga sedikit seperti terlihat pada buku Al-Ghazali. Jadi, perbedaan dominasi itu, sekalipun tidak total, tetap ada merugikan Islam dan umat Islam.
Filosof menafsirkan kitab suci terlalu didominasi oleh akal rasional; metode dan ukurannya ialah logika. Dari cara ini muncul pendapat mereka yang sepintas seperti berlawanan dengan teks Kitab Suci. Nasution (1989:44-45) mengutip Al-Ghazali, menerangkan bahwa ada sepuluh pendapat filosof yang dianggap menyimpang dari Islam, menurut Al-Ghazali, yaitu : (1) Tuhan tidak mempunyai sifat, (2) Tuhan mempunyai substansi sederhana dan tidak mempunyai hakikat (mahiyah), (3) Tuhan tidak mengetahui partikular (Juz’iyyat), (4) Tuhan tidak dapat diberi sifat genus dan diferentia, (5) planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan, (6) jiwa planet mengetahui Juz’iyyat, (7) Hukum alam tidak dapat berubah, (8) pembangkitan jasmani tidak ada, (9) alam ini qadim, dan (10) alam ini kekal. Tiga diantara kesepuluh pendapat itu, menurut Al-Ghazali, membawa kepada kekufuran, yaitu (1) alam qadim (tidak mempunyai permulaan), (2) Tuhan tidak mengetahui partikular, dan (3) pembangkitan jasmani tidak ada.
Pemikiran rasional itu mungkin saja dapat menimbulkan akibat negatif bagi Islam dan umat Islam, tetapi mungkin juga Al-Ghazali yang benar bahwa pendapat itu dapat membawa kepada kekufuran. Akan tetapi, pemikiran rasioanal itu ternyata telah menunjang perkembangan budaya dalam Islam. Perkembangan itu terutama terjadi setelah abad ke-8 sampai dengan abad ke-13. Pada masa-masa ini berkembanglah penerjemahan karya yunani ke dalam bahasa Arab atas dorongan khalifah Al-Manshur dan Harun al-Rasyid, kemudian al-Ma’mun. berdirilah perguruan Bait al-Hikmah yang selain sebagai pusat penerjemahan, juga menjadi pusat pengembangan filsafat dan sains.
Kepala penerjemah di Bait al-Hikmah ialah Hunain Ibn Ishaq al-‘Ibadi (809-877), orang nasrani. Mereka menerjemahkan buku-buku yunani seperti karya Galen, Hipokrates, Ptolemeus, Euklid, dan Aristoteles. Yang mencakup pengetahuan filsafat, kedokteran, matematika, fisika, mekanika, botani, optika, astronomi, dan lain-lain. Gerakan penerjemahan ini berlangung selama tahun 750-900. Hasilnya ialah berkembangnya ilmu hitung, ilmu ukur, al-jabar, ilmu falak, kedokteran, kimia, ilmu alam, geografi, sejarah, dan bahasa serta sastra Arab di samping filsafat itu sendiri, terkenallah nama-nama besar seperti Al-Biruni (973-1048), Umar al-Khayyam (1048-1123), Ibn Musa al-Khawarizmi(780-850), Zakaria Ar-Razi (865-925), dan Ibn Sina (filosof dan dokter) (980-1037). Buku-buku ini kelak yang mempengaruhi Barat menuju modernisasinya.
Uraian selintas itu memperlihatkan bahwa penghargaan Al-Qur’an kepada akal telah menimbulkan kemajuan yang amat penting, itu adalah akibat yang positif. Akibat negatif juga ada, antara lain, Al-Qur’an cenderung dirasionalkan. Akibat yang lain adalah rasa beragama yang dangkal, beragama terasa kering, maka kesungguhan beragama akan kurang, dengan kata lain, agamanya kurang kuat.
Berkembangnya pemikiran rasional (filsafat) dalam islam memperoleh dorongan dari dua sumber : dari Al-Qur’an dan dari luar Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diterima kebenarannya sehingga ia amat berwibawa. Berbeda dari kitab suci kristen, kitab suci yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw, amat menghargai akal. Kata arab yang dapat berarti “kegiatan pikir” cukup banyak terdapat di dalam Al-Qur’an.
Dalil-dalil naqli itu mempunyai kekuatan yang amat dahsyat mendorong orang islam untuk menggunakan dan mengembangkan akalnya. Hasilnya, seperti dapat dilihat dalam sejarah, ialah berkembangnya pengetahuan rasional (filsafat) dan sains dalam islam. Filsafat yunani (dan sains yunani) banyak mempengaruhi perkembangan filsafat dan sains salam islam. Filsafat dan sains yunani mulai bekembang sejak kurang-lebih tahun 600 SM. Pada masa aristoteles (384-322 SM), jadi hanya kira-kira 300 tahun sejak thales, filsafat dan sains yunani sudah berkembang pesat, baik obyek bahasan maupun kedalamannya. Islam lahir pada tahun  600-an. Filsafat dalam islam berkembang secara intensif sejak tahun 800-an.
Masuknya filsafat dan sains yunani ke dalam islam lebih banyak terjadi melalui irak dibandingkan dengan melalui daerah-daerah lain. Disanalah timbulnya gerakan penerjemahan karya-karya yunani ke dalam bahasa arab, atas dorongan khalifah Al-Manshur, kemudian khalifah Harun Ar-Rasyid, dilanjutkan oleh puteranya, khalifah Al-Ma’mun. Ba’it al-Hikmah didirikannya. Selain sebagi pusat penerjemah, masjid juga sebagai pusat pengembangan filsafat dan sains yang ditinggalkan oleh yunani tadi. Selain buku-buku yunani, buku persia dan India juga diterjemahkan kedalam bahasa arab.
Dari India terutama diambil astronomi dan matematika, dari persia diambil sastra dan seni. Gerakan penerjemahan ini terjadi dari tahun 750 samapi tahun 900 M. Inilah riwayat singkat masuknya filsafat dan sains yunani (dan india serta parsi sedikit) ke dalam islam. Oleh karena itu, dapatlah dipahami mengapa filsafat dengan beberapa cabangnya, dengan cepat berkembang di dalam masyarakat Islam. Dalam pengembangan sains dan filsafat itu, jasa orang islam sekurang-kurangnya ada tiga : (1) menerjemahkan, (2) Membuat komentar sehingga karya yunani itu lebih mudah dipahami, dan (3) menambahkan beberapa hal baru, termasuk koreksi-koreksi.
Karya-karya itu tersebar ke Barat melalui berbagai jalur. Jalur yang paling utama ialah Cordova. Selain itu, melalui Sisilia pengetahuan itu meyeberang juga ke Barat. Jika orang mengatakan orang barat dapat maju karena berhutang pada Islam, pernyataan itu tidaklah semuanya benar. Yang benar ialah orang barat berhutang pada orang yunani dan juga kepada orang Islam, sebenarnya juga pada orang india dan parsi.
Al-Qur’an menghargai akal. Dari dorongan ini berkembanglah filsafat dan sains Islami yang kelak diteruskan ke Barat. Selain itu Al-Qur’an juga menghargai rasa atau hati. Ayat-ayat Al-Qur’an banyak juga yang tidak dapat dipahami dengan akal; yang hanya mungkin dipahami dengan rasa. Oleh karena itu, pengetahuan yang berbasis rasa cukup berkembang  masyarakat Islam yang ini disebut jalur rasa, jalur tashawwuf.

Sehingga berdasar pada uraian tadi mengenai akal dan hati di jalur barat, telah dijelaskan dengan melihat Al-Ghazali itu membuktikan bahwa dominasi akal yang tidak seimbang dengan dominasi hati akan merugikan Islam dan umat Islam, demikian juga dominasi hati yang tidak seimbang dengan dominasi akal. Keseimbangan pikir dan dzikir, dapat dilakukan dalam Islam. Penyeimbangan seperti itu tampaknya tidak dapat dilaukan di dunia Barat kristen. Bukti yang jelas ialah perlunya sekuralisme di Barat. Ini membuktikan tak mungkinnya keseimbangan dominasi itu dilakukan.

Dalam hal ini terdapat kesamaan dengan kritik kant dimana mengemukakan bahwa akal dan hati haruslah seimbang, tidak ada satu yang saling mendominasi. Seperti yang telah dijelaskan oleh kan hanya akal budi praktis sajalah yang mampu menyentuh daerah noumena sehingga perlu adanya keteraturan, keseimbangan antara akal, dan hati karena antara keduanya saling melengkapi. Begitu yang telah dikemukakan pada akal dan hati di jalur timur ini harus terdapat kesesuaian antara akal dan hati. Tidak dapat salah satunya mendominasi karena akan menghasilkan kehancuran bagi umat islam. Karena hakikatnya al-qur’an sendiri menghargai akal bukan hanya sebatas pada hati semata atau lebih mengunggulkan hati.

Setelah membaca keduanya, saya kemudian lebih berpihak terhadap pemikiran kant dan jalur timur ini karena pada dasarnya manusia sejak lahir memiliki kata hati dan telah terlahir dengan memiliki hati. Dimana suara hati ini ialah suara yang selalu mengajak menjadi orang yang baik. Dan dalam dunia ini khususnya kehidupan ini kebaikan kemudian menjadi suatu nilai yang dielukan ataupun didambakan oleh sebagian masyarakat karena mampu membawa kehidupan kearah kedamaian dan mendekatkan kepada tuhan sebagai puncak dari segala kebaikan yang ada. Dan kemudian dengan adanya hati juga maka akan timbul moral yang merupakan aturan berbuat yang muncul setelah manusia itu bergaul dengan masyarakat atau telah mengalami interaksi maupun sosialiasi dengan yang lainnya. Sehingga kemudian moral ini dibentuk oleh pengaruh lingkungan.

ANALISIS BUKU KTIRIK ATAS AKAL BUDI PRAKTIS IMMANUEL KANT

22.04 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Judul Buku      : KRITIK ATAS AKAL BUDI PRAKTIS
Penulis             : IMMANUEL KANT
Penerjemah      : NURHADI, M.A
Penerbit           :PUSTAKA PELAJAR
Tahun terbit     : 2005
Dalam buku Immanuel Kant “Kritik Atas Akal Budi Praktis”. Critique ini Kant membahas diantaranya mengenai akal budi dimana akal budi ini menuntun pembentukan pengetahuan secara sistematis dengan mengatur pencarian kita atas kondisi-kondisi absolut dari semua kondisi kontingen, yang akan mendukung seluruh bangunan pengetahuan. Kant juga mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini termasuk manusia berperilaku menurut hukum-hukum tertentu. Tetapi hanya makhluk rasionallah yang dapat berperilaku sesuai dengan konsepsi hukum-hukum. Selain akal budi, Kant pun membahas mengenai moral. Dimana moral adalah kata hati, suara hati, perasaan, suatu prinsip yang a priori absolut. Moral ini merupakan suatu realitas yang amat mengherankan karena tak dapat dielakkan menentukan benar atau salah. Moral ini berkaitan pula dengan kata hati dimana dalam kata hati, kata hati itu memerintah. Perintah itu merupakan perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan universal yaitu suatu hukum kewajaran.
Dalil akal murni ini berasal dari prinsip moralitas yang bukan merupakan suatu dalil melainkan perlu dipahami bahwa akal budi ini secara langsung menentukan kehendak. Kehendak ini muncul berdasarkan fakta bahwa akal budi ini sangat ditentukan, sebaai kehendak murni mengharuskan adanya syarat niscaya bagi kepatuhan terhadap prinsip-prinsipnya. Maka dari itu dikarenakan sejalan dengan prinsip moralitas maka kemudian terdapat kesaaman untuk adanya suatu syarat hukum tertentu. Sehingga dalil ini bukan merupakan dogma teoritis melainkan  pengandaian dari aturan praktis yang diperlukan, jadi kendati tidak memperluas pengetahuan spekulatif, mereka memberikan realitas obyektif kepada ide tentang akal budi praktis secara umum (dengan sarana relasi mereka dengan arena praktis) dan mereka membenarkannya dengan berpengangan kepada konsep itu walaupun kemungkinannya tidak akan dengan berani diakui.
Antara akal budi dan moral ini kemudian memunculkan suatu hukum tertentu bagi akal budi dan hukum kewajaran bagi moral dimana keduanya memiliki suatu kesamaan yakni adanya suatu keharusan berperilaku sesuai dengan hukum yang bersifat secara universal dalam kehidupan manusia. Sehingga dengan demikian tindakan manusia bukan lagi didasarkan atas menghasilkan tindakan yang baik tau menguntungkan bagi si pelaku akan tetapi tindakan dilakukan karena merupakan kepatuhan kepada perintah kalbu hukum moral yang baku yang dalam melakukan tindakan tersebut merupakan kemauan yang baik, kemauan bertindak mengikuti hukum tadi tanpa memperhitungkan untung atau rugi bagi diri kita atau bagi orang lain. sehingga moralitas ini kemudian bukanlah doktrin tentang bagaimana kita mencapai kebahagiaan, tetapi bagaimana kita dapat membuat diri kita layak berbahagia.
Yang kemudian terdapat hubungan antara akal teoritis (logis) dengan moral, yakni akal teoritis (logis) tidak dapat dijadikan dasar agama, maka kitab suci harus dipahami sesuai dengan nilainya bagi moral, tetapi kitab suci tidak dapat dijadikan penilaian moral. Gereja dan dogma ada gunanya hanya bila dimajukan pertumbuhan moral masyarakat. karena tesis utama Kant yaitu tuhan itu tidak dapat dibutikan adanya dengan akal teoritis. Maka disinilah kemudian Kant menjawab melalui karya kritik akal budi praktis bahwa moral mampu membantu menjawab persoalan tersebut. Karena menurut Kant ide-ide tentang adanya Tuhan, Kebebasan, dan keabadian hanya mungkin bagi akal budi spekulatif, tidak aktual. Namun Kant mengatakan bahwa ide-ide tersebut diperlukan bagi moralitas.
Dengan demikian menurut Kant akal dan moral (dalam hal ini hati) sama-sama diperlukan dan perlu adanya suatu kesinambungan antara keduanya atau dengan kata lain akal dan hati sama-sama menang, tidak ada yang diunggulkan antara akal ataupun moral. Karena menurut kant kehidupan memerlukan kebenaran. Dan kebeneran tidak dapat seluruhnya diperoleh dengan indera dan akal. Indera dan akal terbatas kemampuannya. Ada kebenaran yang diperlukan, dan hanya mungkin diperoleh dengan hati atau iman. Sampai sekarang masih banyak orang yang beranggapan bahwa semua kebenaran dapat diperoleh dengan indera dan akal, dengan metode sains dan filsafat. Dalam hal inilah pentingnya kant menjelaskan bahwa sains terbatas. Bila sains memasuki daerah noumena, sains akan sesat dalam antinomy. Filsafat pun terbatas, bila filsafat memasuki daerah noumena, ia akan sesat dalam paralogisme. Dan daerah noumena ini hanya mungkin dimasuki oleh akal praktis.


Buku Immanuel Kant yang berjudul “Kritik Atas Akal Budi Praktis” yang dterbitkan oleh Pustaka Pelajar ini merupakan buku terjemahaan dari buku asli karya Immanuel Kant yakni Critique Of Practical Reason dimana dalam buku berbahasa Indonesia ini diterjemahkan oleh Nurhadi, M.A.. buku ini membahas mengenai seputaran metafisika moral, kritik dan akal budi praktis ini bagi pemula pembelajar filsafat akan mengalami kesulitan dalam memahami makna ataupun esensi dari pemikiran Kant jika tidak di baca dengan seksama, karena dalam terjemahannya ini menggunakan kata-kata intelektual yang tidak semuanya mampu dijabarkan dengan mudah sehingga bagi para pemula mengalami kesulitan tersendiri untuk memahami pemikiran Kant. Padahal salah satu sumber buku seorang filsuf yang mengikuti pemikiran kant mengatakan bahwa seseorang belum dapat dikatakan dewasa jika belum memahami filsafat Immanuel kant. Dikarenakan kant dalam setiap karyanya mengupas mengenai permasalahan moral yang menjadi sorotannya maupun beberapa topik metafisika pun tak luput dari pembahasan kant ini. sehingga kelebihan dari buku ini adalah pembahasan yang disajikan oleh penulis sangatlah beragam, dimulai dari bagaimana prinsip-prinsip akal budi praktis itu sendiri hingga ke metodologinya pun dibahas oleh penulis secara lengkap sehingga buku ini cocok untuk dipelajari guna memahami bagaimana filsafat moral dan kaitannya antara akal budi dengan hati secara praktisnya yang kemudian dapat digunakan dalam memahami realita yang terjadi ditengah masyarakat.  

Minggu, 18 Desember 2016

AMANAT BUYUT BADUY LEBAK BANTEN

22.52 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Buyut nu dititipkeun ka puun                    
Nagara salelung puluh telu
Bangawan sawidak lima
Pancer salawe Negara
Gunung teu menang dilebur
Lebak teu menang dirusak
Larangan teu meunang dirempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung
Nu lain kudu dulainkeun
Nu ulah kudu diulahkeun
Nu enya kudu dienyakan
---Artinya---
Buyut yang dititipkan kepada pun
Negara tiga puluh tiga
Sungai enampuluh lima
Pusat duapuluhlima Negara
Gunung tak boleh dihancurkan
Lembah tak boleh dirusak
Larangan tak boleh dilanggar
Buyut takboleh diubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditiadakan
Yang jangan harus dinaifkan
Yang benar harus di benarkan


Daftar Pustaka :
Kurnia, Asep. Ahmad Sihabudin. 2010. Saatnya Baduy Bicara. Jakarta : Bumi Aksara.


PENGANGGURAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI

15.29 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
Pengangguran terjadi disebabkan antara lain, yaitu karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja. Selain itu juga kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif; peraturan yang menghambat inventasi; hambatan dalam proses ekspor impor, dan lain-lain. Menurut data BPS angka pengangguran pada tahun 2002, sebesar 9,13 juta penganggur terbuka, sekitar 450 ribu diantaranya adalah yang berpendidikan tinggi. Bila dilihat dari usia penganggur sebagian besar (5.78 juta) adalah pada usia muda (15-24 tahun). Selain itu terdapat sebanyak 2,7 juta penganggur merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (hopeless). Situasi seperti ini akan sangat berbahaya dan mengancam stabilitas nasional. Masalah lainnya adalah jumlah setengah penganggur yaitu yang bekerja kurang dari jam kerja normal 35 jam per minggu, pada tahun 2002 berjumlah 28,87 juta orang. Sebagian dari mereka ini adalah yang bekerja pada jabatan yang lebih rendah dari tingkat pendidikan, upah rendah, yang mengakibatkan produktivitas rendah. Dengan demikian masalah pengangguran terbuka dan setengah penganggur berjumlah 38 juta orang yang harus segera dituntaskan.
Namun sebagaimana dilansir dalam HarianJogja.com bahwa pengangguran pada tahun ini tahun 2016 mengalami penurunan angka pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2016 berkurang 430.000 orang, dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2015.
“Jumlah pengangguran pada Februari 2016 tercatat 7,02 juta orang, dengan persentase 5,5 persen (dari total angkatan kerja). Realisasi tersebut, terjadi penurunan 430.000 dibandingkan dengan Februari 2015 yang sebesar 7,45 juta orang dengan persentase 5,81 persen,” demikian ungkap Kepala BPS, di Jakarta, Rabu (4/5/2016), seperti diberitakan situs Kemnaker.go.id.
Penurunan angka pengangguran tersebut juga terjadi jika dibandingkan dengan angka pengangguran pada bulan Agustus 2015. Data pengangguran per Agustus 2015 sendiri sebesar 7,56 juta orang.  
Terkait permasalahan pengangguran ini semua mata serasa tertuju ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) sebagai operator (pemerintah) penyelesaian soal ketenagakerjaan ini. Untuk menanggulangi masalah penganggur dan setengah penganggur, efek netto dari hasil pembangunan yang diperkirakan akan semakin baik di masa mendatang perlu didistribusikan kembali kepada masyarakat dalam berbagai bentuk, antara lain terciptanya kesempatan kerja produktif dan remunerative. Dengan cara ini, redistribusi pendapatan dalam bentuk seperti pengalihan subsidi BBM tidak perlu lagi dilakukan, atau hanya bersifat supplemen bilamana keadaan terlalu memaksa.
Kebijakan itu perlu ditempuh untuk menghindari dampak negatif yang lebih besar dari sekadar dampak negatif, seperti yang kita alami sekarang ini. Ketidak-stabilan peta politik dan keamanan, kemungkinan besar akan semakin parah dan mengganggu sendi-sendi pembangunan lainnya. Bila hal ini benar-benar terjadi, Indonesia akan berada pada bibir jurang kehancuran yang sulit dihindarkan. Untuk itu seluruh komponen bangsa, termasuk instansi-instansi pemerintah yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan dan ketenaga-kerjaan untuk harus segera mengkonsolidasikan diri, bersama-sama mengatasi masalah ini. Konsolidasi ini, mencakup berbagai aspek penting, antara lain: identifikasi dan pemilihan program, pembiayaan, koordinasi pelaksanaan, pengawasan dan lain-lain. Tanpa harus mengabaikan core-programe masing-masing instansi atau pihak terkait, aspek penanggulangan pengangguran harus dijadikan sebagai titik perhatian. Depnaker tidak mampu mengatasi pengangguran. Yang mampu mengatasinya adalah semua sektor, pemerintah dan masyarakat sendiri, harus bersama-sama.

Selama ini Depnakertranas sudah menyebarkan informasi dan mendorong ke arah wira-usaha.
Umumnya negara berkembang, 54-60 persen sektor informal mampu menampung pencari kerja, sebagai usaha mandiri, kecil-menengah. Yang di dorong itu pencari kerjanya, baik lewat tenaga kerja pemuda mandiri professional, tenaga kerja terdidik, lalu masalah pengembangan penerapan teknologi tepat guna, maupun pola-pola pemberian kredit bank.
Selain itu, Depnakertrans juga mencoba “menyentil” instansi lain untuk peduli terhadap masalah pengangguran, supaya juga bisa membuat tolak ukur, membuat gambaran: berapa sektor kerja dan tenaga kerja yang riil ada. Seperti pertanian, dimana diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Data-data menunjukkan, sampai dengan 40 persen, sektor pertanian menyerap tenaga kerja. Kemudian diikuti sektor kelautan. Untuk itu, departemen pertanian dan kelautan misalnya, harusnya mampu memperluas kesempatan pekerjaan di sektor mereka sendiri.

Tapi Depnakertrans mengaku, anggaran yang dimiliki sangat terbatas untuk mendorong kesempatan kerja. Untuk 2002 saja, Depnakertrans hanya mempunyai dana 40-41 milyar rupiah dan dibagikan ke seluruh Indonesia. Programnya mencakup pelatihan dan upaya-upaya pendorongan ke wira-usaha. Idealnya untuk penanggulangan penganggur ini, Depnakertrans diberikan dana sekitar 1 trilyun rupiah agar sampai tenaga kerja sarjana bisa di tampung dan fokuskan pada pengembangan desa. Karena desa memerlukan ahli, motivator, perencana, dinamisator masyarakat desa.
Sampai sekarang Depnakertrans juga belum mempunyai peta potensi wilayah dan pengangguran sampai ke daerah terkecil, seperti kelurahan dan desa. Daerah tidak pernah meng-update data yang ada. Bagaimana mungkin Depnaker bisa menjalankan programnya jika basis data saja tidak punya? Sudah pernah di mintakan ke Pemda, seperti data penganggur, dimana, latar-belakangnya dan potensi wilayah yang ada. Tapi tidak pernah ada. Masalahnya, Pemda hanya mengharapkan PAD, tidak pernah memikirkan bagaimana masyarakatnya makmur, sejahtera dan berkembang dan tidak menganggur. Dengan otonomi daerah, pemerintah pusat hanyalah pembuat kebijakan, fasilitator, pendorong dan pemberi wacana-wacana. Praktek dan rill di lapangan, Pemdalah yang mengurusi semuanya.
Permasalahan pengangguran kemudian memang menjadi begitu pelik, serta upaya penanggulangannya pun memerlukan strategi penyelesaian yang tepat sasaran dan mampu diaplikasikan di Negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki berbagai problema bukan saja dari segi ekonominya. Adapun beberapa penyelesaian untuk pengangguran yaitu sebagai berikut seperti dengan melakukan peningkatan mobilitas tenaga kerja dan moral,
dengan peningkatan mobilitas tenaga kerja dilakukan dengan memindahkan pekerja ke kesempatan kerja yang lowong dan melatih ulang keterampilannya sehingga dapat memenuhi tuntutan kualifikasi di tempat baru. Peningkatan mobilitas modal dilakukan dengan memindahkan industry (padat karya) ke wilayah yang mengalami masalah pengangguran parah. Cara ini baik digunakan untuk mengatasi msalah pengangguran struktural.
Cara lain juga dapat dengan pengelolaan permintaan masyarakat pemerintah sehingga dapat mengurangi pengangguran siklikal melalui manajemen yang mengarahkan permintaan-permintaan masyarakat ke barang atau jasa yang tersedia dalam jumlah yang melimpah. Selain itu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan penyediaan informasi tentang kebutuhan tenaga kerja untuk mengatasi pengangguran musiman, perlu adanya pemberian informasi yang cepat mengenai tempat-tempat mana yang sedang memerlukan tenaga kerja. Masalah pengangguran dapat muncul karena orang tidak tahu perusahaan apa saja yang membuka lowongan kerja, atau perusahaan seperti apa yang cocok dengan keterampilan yang dimiliki. Masalah tersebut adalah persoalan informasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diadakan sistem informasi yang memudahkan orang mencari pekerjaan yang cocok. Sistem seperti itu antara lain dapat berupa pengumuman lowongan kerja di kampus dan media massa. Bias juga berupa pengenalan profil perusahaan di sekolah-sekolah kejuruan, kampus, dan balai latihan kerja.
Melalui pertumbuhan ekonom juga dapat menjadi upaya peretasan masalah pengangguran. Pertumbuhan ekonomi baik digunakan untuk mengatasi pengangguran friksional. Dalam situasi normal, pengangguran friksional tidak mengganggu karena sifatnya hanya sementara. Tingginya tingkat perpindahan kerja justru menggerakan perusahaan untuk meningkatkan diri (karir dan gaji) tanpa harus berpindah ke perusahaan lain. Menurut Keynes, pengangguran yang disengaja terjadi bila orang lebih suka menganggur daripada harus bekerja dengan upah rendah. Di sejumlah Negara, pemerintah menyediakan tunjangan/santunan bagi para penganggur. Bila upah kerja rendah maka orang lebih suka menganggur dengan mendapatkan santunan penganggur. Untuk mengatasi pengangguran jenis ini diperlukan adanya dorongan-dorongan (penyuluhan) untuk giat bekerja. Pengangguran tidak disengaja, sebaliknya, terjadi bila pekerja berkeinginan bekerja pada upah yang berlaku tetapi tidak mendapatkan lowongan pekerjaan. Dalam jangka panjang masalah tersebut dapat diatasi dengan pertumbuhan ekonomi.
Upaya lain yang sudah banyak dilakukan kini walaupun belum merata yakni program pendidikan dan pelatihan kerja.Pengangguran terutama disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di Negara kita, mengingat sejumlah besar penganggur adalah orang yang belum memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Selain itu dengan wiraswasta dapat menjadi upaya penyelesaian pengangguran. Selama orang masih tergantung pada upaya mencari kerja di perusahaan tertentu, pengangguran akan tetap menjadi masalah pelik. Masalah menjadi agak terpecahkan apabila muncul keinginan untuk menciptakan lapangan usaha sendiri atau berwiraswasta yang berhasil. Meskipun wiraswasta pun memerlukan modal dan pembekalan yang cukup guna terciptanya wiraswasta yang mapan dan mandiri.
Sumber :

SISTEMATIKA FILSAFAT

12.32 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Sistematika Filsafat
Perlu diulang lagi bahwa dalam garis besar filsafat mempunyai 3 cabang besar, yaitu teori pengetahuan, teori hakikat dan teori nilai.
Ø  Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan (epistomologi).
Ø  Teori hakikat membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat (ontologi).
Ø  Teori nilai, membicarakan guna pengetahuan tadi (aksiologi) 
Epistimologi
Epistimologi membicarakan pengetahuan dan cara memperoleh pengetahuan. Disebut juga sebagai filsafat pengetahuan. Istilah ini pertama kali muncul dan digunakan oleh J.F.Ferrier pada tahun 1854 (Runes, 1971:94). Pengetahuan diperoleh manusia dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang mebicarakan tentang ini.
Empirisme
Berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari empeiria yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini, manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.
Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh  dan diukur dengan akal. Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melaui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini ialah Rene Descartes(1596-1650). Akan tetapi sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada aristoteles.
Positivisme
Tokoh aliran ini ialah August Compte (1798-1857). Ia penganut empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen. Pada dasarnya positivisme bukan aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerjasama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memerlukan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme.
Intuisionisme Henri Bergson(1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu. Jadi dalam hal seperti itu manusia tidak mengetahui keseluruhan. Tidak juga dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari objek. Kemudian bagian-bagian itu digabungkan oleh akal.
Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara dalam sampai pada hakikatnya. Itulah sebabnya teori ini dinamakan teori hakikat. Ada pula yang menamainya ontologi. Hakikat merupakan kenyataan yang sebenarnya. Kosmologi membicarakan hakikat asal, hakikat turunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos.
Matrealisme
Menurut aliran ini, hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit, dan sebagainya mucul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya tidak akan ada seandainya tidak ada benda.
Idealisme
Aliran ini berpendapat sebaliknya. Hakikat benda adalah rohani, spirit, atau sejenisnya.Alasannya:
a. Nilai roh lebih tinggi dari pada badan
b. Manusia lebih dapat memahai dirinya dari pada dunia luar dirinya
c. Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang; benda tidak ada, yang ada itu energi saja (Oswald)
DualismeYang merupakan hakikat pada benda itu ada dua , yakni materi dan imaterial, benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Pemikiran orang idealis menyatakan bahwa hakikat adalah roh. Paham ini akan berujung padaTuhan, surga, dan neraka.
a. Theodichea membicarakan Tuhan dari segi pikiran. Apa tuhan itu ada, apa buktinya, apa sifatnya, dll.
b. Teisme merupakan paham yang menyatakan bahwa tuhan itu ada.
c. Monoteisme mengajarkan bahwa tuhan itu esa.
d. Trinitisme mengajarkan bahwa tuhan itu satu tapi beroknum tiga.
e. Politeisme adalah paham yang mengajarkan bahwa tuhan itu banyak.
f. Panteisme mengajarkan bahwa antara alam dan tuhan tidak ada jarak.
g. Panenteisme mengajarkan bahwa tuhan adalah kesadaran jagat raya.
h. Ateisme merupakan isme yang mengajarkan bahwa tuhan itu tidak ada.
i. Agnostisisme merupakan paham ketuhanan yang terletak antara teisme dan ateisme.
Logika merupakan cabang filsafat yang dikembangkan oleh Aristoteles. Logika membicarakan norma-norma berpikir benar agar diperoleh dan terbentuk pengetahuan yang benar. Ada dua macam logika yaitu logika formal dan logika material.


Logika formal merupakan logika yang memberikan norma berpikir benar dari segi bentuk berpikir. Logika formal adalah logika bentuk. Logikanya ialah agar diperoleh pengetahuan yang benar, maka bentuk berpikirnya pun harus benar. Benar atau salah isinya, dibicarakan oleh logika material.


Dalam logika,dikenal perbedaan antara kesimpulan yang tepat dan kesimpulan yang benar. Kesimpulan yang tepat diperoleh bila bentuk berpikirnya benar. Kesimpulan yang benar berasal dari penyelidikan terhadap isi kesimpulan itu.
- Contoh bentuknya benar (tepat) dan isinya benar:
Setiap manusiaakan mati. Muhammad adalah manusia. Jadi, Muhammad akan mati.


- Contoh bentuknya tepat tapi isinya tidak benar:
Manusia adalah sejenis hewan. Kuda adalah salah satu jenis hewan, jadi kuda sama dengan manusia.


Suatu kesimpulan dikatakan benar bila isi kesimpulan itu sesuai dengan objeknya. Sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk mengetahui kesesuaian itulah tugas logika material. Dalam garis besarnya, logika formal membicarakan masalah pengertian, putusan dan penuturan.


Pengertian merupakan gambaran di dalam jiwa tentang objek yang telah diabtraksikan. Cara membentuk pengertian ialah dengan membuat gambaran dalam jiwa kita tentang objek itu dengan membuang seluruh ciri aksidensinya. Bila kita buang ciri aksidensinya maka yang tersisa ialah ciri esensinya. Ciri esensi merupakan ciri yang menunjukkan bahwa ia adalah ia, dan merupakan ciri yang tidak boleh tidak adapada objek. Ciri aksidensi adalah ciri pelengkap , sifat yang melekat pada esensi objek. Selanjutnya tugas logika adalah membentuk pengertian itu menjadi definisi. Definisi ialah penyebutan ciri esensi suatu objek. Bakry dan Mehra menjelaskan jika definisi ialah pengertian yang lengkap tentang suatu istilah yang mencakup semua unsur yang menjadi ciri utama istilah itu. Ada 4 syarat definisi:
1. Ciri esensi yang disebut tidak boleh berlebihan dan tidak boleh kurang
2. Tidak memakai kata yang berulang-ulang
3. Tidak memakai perkataan yang terlalu umum
4. Tidak memakai kata negatif


Tahap-tahap dalam logika disebut memutuskan dan hasilnya disebut putusan. Kegiatan memutuskan harus mempertimbangkan hal berikut:
1. Menguasai struktur kalimat
2. Menyadari mana esensi dan aksidensi
3. Mengetahui mana esensi dan mana aksidensi yang telah menjadi aksidensi untuk objek yang lebih khusus.
4. Memahami pola putusan
Penuturan ialah putusan baru yang dibentuk dari putusan-putusan yang telah ada. Kegiatan putusan baru tersebut disebut menuturkan. Jadi urutannya ialah pengertian,putusan, putusan baru. Etika merupakan teori tentang nilai baik dan buruk. Sedangkan estetika merupakan nilai keindahan.
Aksiologi
Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Filsafat sebagai philosophie of life merupakan suatu kondisi ketika filsafat dijadikan sebagai pandangan hidup. Yang amat penting ialah, filsafat sebagai methodology dalam memecahkan masalah. Sesuai dengan sifat filsafat, ia memecahkan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam maksudnya menyelesaikan masalah dengan mencari penyebabnya sebagai langkah awal. Universal artinya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.
Khulasah
Pengantar kepada filsafat yang ringkas ini bermaksud menjelaskan apa filsafat itu, apa objek yang ditelitinya, bagaimana cara penelitiannya, dan apa saja sistematikanya. Lalu diperkenalkan juga isme-isme dalam filsafat.

 Daftar Pustaka :
Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA

KEDUDUKAN FILSAFAT DALAM ILMU PENDIDIKAN

08.10 Posted by TyasSiti Nur Asiyah 1 comment
Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pendidikan

Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafat lah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan.lambat laun sesuai dengan sifatnya, manusia tidak pernah merasa puas dengan meninjau suatu hal dari sudut yang umum, melainkan juga ingin memperhaikan hal-hal yang khusus.
Kedudukan atau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan atau berfikir filosofis dan berfikir ilmiah akan dilengkapi uraian ini dengan piaget tentang epistemologi genetis, yaitu fase-fase berfikir dan pikiran manusia dengan mengambil contoh perkembangan akan mulai dari tahun pertama usia anak hingga dewasa sebagaimana diuraikan oleh halford sebagai berikut:
Jasa utama dari piaget adalah uraiannya mengenai perkembangan anak dalam hal tinggah laku yang terdiri atas empat fase, yaitu:
1)      Fase Sensorimotor, berlangsung antara umur 0 tahun sampai usia dimana cara berfikir anak masih sangat ditentukanoleh kemampuan pengalaman sensorinya, sehingga sangat sedikit terjadi peristiwa berfikir yang sebenarnya, dimana tanggapan tidak berperan sama sekali dalam proses berfikir dan pikiran anak.
2)      Fase Pra-operasional, pada usia kira-kira antara 5 – 8 tahun, yang ditandai adanya kegiatan berfikir dengan mulai menggunakan tanggapan (disebut logika fungsional).
3)      Fase Operasional yang kongkrit, yaitu kegiatan berfikir untuk memecahkan persoalan secara kongkrit dan terhadap benda-benda yang kongkrit pula.
4)      Fase Operasi Formal, pada anak dimulai usia 11 tahun. Anak telah mulai berfikir abstrak, dengan menggunakan konsep-konsep yang umum dengan menggunakan hipotesa serta memprosenya secara sistematis dalam rangka menyelesaikan problema walaupun si anak belum mampu membayangkan kemungkinan-kemungkinan bagaimana realisasinya.
Bisa disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara lain :
1)      Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai objek dan problem
2)      Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu pengetahuan itu.
3)      Di samping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.
4)      Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan. Tidak mungkin tiap ilmu itu meninggalkan dirinya sebagai ilmu pengetahuan dengan meninggalkan syarat yang telah ditentukan oleh filsafat.
5)      Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka :
Prasetya. 1997. FILSAFAT PENDIDIKAN. Bandung : CV. PUSTAKA SETIA


Sabtu, 17 Desember 2016

OBJEK FILSAFAT

18.02 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Objek Filsafat
            Secara umum, filsafat mempunyai objek yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dan boleh juga diaplikasikan, yaitu tuhan, alam semesta, dan sebagainya. Apabila diperhatikan secara seksama objek filsafat tersebut dapat dikatagorikan kepada dua:


  1. Objek material
Objek material ini adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian keilmuan. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secar umum.
  1. Objek formal
Objek formal merubah objek khusus filsafat yang sedalam-dalamnya (Poedjawijatna, 1994: 8). Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Suatu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan ilmu yang berbeda-beda.Objek formal ini dapat dipahami melalui dua kegiatan:
a.       Aktivitas berfikir murni (reflective thinking) artinya kegiatan akal manusia dengan usaha untuk mengerti dengan usaha untuk mengerti secara mendalam segala sesuatunya sampai ke akar-akarnya.
b.      Produk kegiatan berfikir murni, artinya hasil dari pemikiran atau penyelidikan dalam wujud ilmu atau ideologi.
Mengenai objek forma ini ada juga yang mengindentikan dengan metafisika, yaitu hal-hal diluar jangkauan panca indra, seperti persoalan esensi dan substansi alam, yaitu sebab utama terjadinya alam. Metafisika berasal dari bahasa yunani, yaitu metha artinya di belakang, sedangkan fisika artinya fisik atau nyata. Untuk itu dapat dipahami pengertian methafisika adalah pemikiran yang jauh dan mendalam dibalik apa yang bisa dijangkau oleh panca indra seperti Tuhan, asal alam, hakikat manusia, dan sebagainya.
Bagi plato(+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagi Aritoteles(+ 384-322 SM) filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku ada”(being as being) atau “peri ada sebagaimana adanya”(being as such). Dari dua pernyataan tersebut, dapatlah diketahui bahwa “ada” merupakan objek materi dari filsafat. Karena fisafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendirinya, maka “ada” disini meliputi segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mungkin ada atau seluruh ada. Jadi, secara singkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat holistik atau keseluruhan, sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat Fragmental atau bagian-bagian.
          Persoalan filsafat berbeda dengan persoalan nonfilsafat. Perbedaanya terletak pada materi dan ruang lingkupnya. Ciri-ciri persoalan filsafat adalah sebagai berikut:
1.      Bersifat Umum, artinya persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus dengan kata lain sebagian besar masalah kefilsafatan berkaitan dengan ide-ide besar. 
2.      Tidak menyangkut fakta. Dengan kata lain persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut fakta.
3.      Bersangkutan dengan nilai-nilai (Values), artinya persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian baik nilai moral-etika, estetika, agama, dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada suatu hal.
4.      Bersifat kritis, filsafat merupakan analisi secara kritis terhadap konsep-konsep dan arti-arti yang biasanya diterima begitu saja. 
5.      Oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis. 
6.      Bersifat sinoptis, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
7.      Bersifat implikatif, artinyakalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan.

Daftar Pustaka :
Ihsan,Fuad.2010.Filsafat Ilmu.Jakarta:PT. Rineka Cipta