Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2016

AMANAT BUYUT BADUY LEBAK BANTEN

22.52 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Buyut nu dititipkeun ka puun                    
Nagara salelung puluh telu
Bangawan sawidak lima
Pancer salawe Negara
Gunung teu menang dilebur
Lebak teu menang dirusak
Larangan teu meunang dirempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung
Nu lain kudu dulainkeun
Nu ulah kudu diulahkeun
Nu enya kudu dienyakan
---Artinya---
Buyut yang dititipkan kepada pun
Negara tiga puluh tiga
Sungai enampuluh lima
Pusat duapuluhlima Negara
Gunung tak boleh dihancurkan
Lembah tak boleh dirusak
Larangan tak boleh dilanggar
Buyut takboleh diubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditiadakan
Yang jangan harus dinaifkan
Yang benar harus di benarkan


Daftar Pustaka :
Kurnia, Asep. Ahmad Sihabudin. 2010. Saatnya Baduy Bicara. Jakarta : Bumi Aksara.


Jumat, 09 Desember 2016

PERANAN FILSAFAT DAN KEBUDAYAAN

16.25 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Peranan Filsafat dan Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil budaya atau kebulatan cipta (akal), rasa dan karsa (kehendak) manusia yang hidup bermasyarakat. Antara manusia dan masyarakat serta kebudayaan ada hubungan yang erat. Tanpa masyarakat, manusia dan kebudayaan tidak mungkin berkembang layak. Tanpa manusia tidak mungkin ada kebudayaan. Tanpa manusia tidak mungkin ada masyarakat.
Wujud kebudayaan ada yang rohani, misalnya adat istiadat dan ilmu pengetahuan. Ada yang jasmani, misalnya rumah dan pakaian. Buku adalah kebudayaan jasmani, akan tetapi isi buku merupakan yang rohani. Demikian juga filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang terdalam. Oleh karena itu filsafat termasuk kebudayaan.
Suatu kebudayaan ialah cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu waktu. Cara berpikir dan cara merasa itu menyatakan diri dalam cara berlaku dan cara berbuat. Jadi kebudayaan meliputi seluruh kehidupan manusia (Sidi ( 1973 :72)). Manusia dan budayanya merupakan dua komponen yang terus menerus berinteraksi sepanjang hidupnya. Demikian pula manusia memperhatikan budaya tersebut. (Hanafi ( 2004 :133 )) Karena itu suatu studi tentang budaya memang merupakan sesuatu yang unik. Namun keunikan budaya sebagai obyek studi itu tidak perlu mengabaikan fungsi utama ilmu itu sendiri, yaitu mengembangkan harkat serta martabat manusia dan kemanusiaan di atas dunia ini, yang berhubungan secara harmonis dengn seluruh lingkungannya.  Maka filsafat itu mengendalikan cara berfikir kebudayaan. Dibelakang tiap kebudayaan selalu kita temukan filsafat. Perbedaan kebudayaan dapat dikembalikan kepada perbedaan filsafat. Kebudayaan bersahaja diatur oleh adat. Adat disusun oleh nenek-moyang. Nenek-moyang itu berfungsi sebagai filosof bagi kebudayaan bersahaja. Cara hidup suatu masyarakat agama berpedoman pada ajaran penganjur atau Nabi-nya, yang dapat dipandang sebagai filosof masyarakat itu. Cara hidup suatu kurun dipengaruhi oleh ahli-ahli pikir besar kurun itu ( Hanafi (2004 :133)).
Pandangan hidup dan sistem pemikiran bangsa Indonesia tidak sama dengan pandangan hidup dan sistem pemikiran bangsa di negara lainnya. Seperti bangsa-bangsa di negara-negara Barat, di mana pandangan hidup dan sistem pemikirannya bersumber pada pemikiran filsafat Yunani ( Ibid hal.74 ), Sedangkan pemikiran filsafat Indonesia adalah suatu pemikiran filsafat yang diperuntukkan dalam atau sebagai landasan hidup bangsa Indonesia. Dan hakikat pribadi dalam kedudukannya sebagai manusia Indonesia adalah sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Untuk mencapai kesejahteraan, kebahagiaan, dan ketentraman seseorang harus mengupayakan dengan tiga cara keselarasan atau keharmonisan, menurut Asmoro (2005 :107 ) yaitu:
a.       Selaras atau harmonis dengan dirinya sendiri.
b.      Selaras atau harmonis terhadap pergaulan sesama manusia, dan di lingkungan kehidupannya.
c.       Selaras atau harmonis terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.
Jadi, kedudukan filsafat terhadap kehidupan masyarakat adalah seperti pemerintah terhadap negara. Filsafat Pancasila mengatur dan mengendalikan kehidupan Republik Indonesia. Dalam negara ini hidup bangsa Indonesia yang berkebudayaan Indonesia. Republik Indonesia mengatur dan mengendalikan kebudayaan yang hidup dalam wilayahnya. Dan Republik itu sendiri diatur oleh Pancasila. Lima sila yang terdapat dalam Pancasila merupakan suatu kebulatan tunggal, yang setiap sila-silanya selalu mengandung keempat sila yang lainnya. Setiap sila tidak boleh dipertentangkan terhadap sila yang lain karena di antara sila-sila itu memang tidak terdapat hal-hal yang bertentangan.
Dengan demikian, Pancasila mempunyai sifat yang abstrak, umum, universal, tetap tidak berubah, menyatu dalam suatu inti hakikat mutlak (Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil, yang kedudukannya sebagai inti pedoman dasar yang tetap). Jadi Pancasila merupakan pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia, yang telah disetujui oleh para wakil rakyat menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Maka, Pancasila adalah  satu-satunya pandangan (filsafat) yang dapat mempersatukan rakyat dan bangsa Indonesia.
Istilah kebudayaan sebagaimana dikemukakan, diakui berasal dari kata budi, dengan memberi contoh budi manusia. Budi juga merupakan tata nilai yang dimiliki manusia sebagai sikap perilaku dan cara berpikir. Kebudayaan pada umumnya dipergunakan sebagai salah satu sumber tata nilai dalam masyarakat maupun dalam agama. Kebudayaan dipandang orang sebagai tata nilai. Dengan demikian tingkah laku dan hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju kepada realisasi nilai, yang tersusun dalam pola cita. Untuk mewujudkan pola cita itu lahirlah kompleks aktivitas yang membentuk pola laku. Maka cara berlaku dan berbuat yang dilahirkan oleh cara berpikir dan merasa dan hasil dari cara berlaku-berbuat mengandung nilai.
     Posisi dan peranan filsafat terhadap segi-segi kebudayaan (sosial, ekonomi, politik, ilmu dan teknik dan seni). Selama pemikiran kita terikat oleh fakta-fakta sosial, ekonomi, politik, hukum, teknik, seni dll, kita berada di medan ilmu. Tetapi ketika pemikiran kita menjangkau lebih jauh dan terlepas dari fakta, kita memasuki lapangan filsafat (Sidi (1973 :75)).

Daftar Pustaka :
1. Sidi, G. (1973 :72-80 ). Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.
2. Hanafi, M. (2004 :133 ). Sains, Humaniora, dan Agama. Surabaya: Airlangga
        University Press.
3. Asmoro, A (2005 :107-112 ). Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rabu, 07 Desember 2016

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN KEBUDAYAAN

15.26 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , 1 comment
Hubungan filsafat dengan kebudayaan
Berbicara mengenai sosial budaya tidak akan terlepasa dari peran manusia sebagai makhluk sosial dan kebiasaan sebagai budaya mereka. Pada dasarnya kebudayaan merupakan hasil ciptaan manusia yang berlangsung dalam kehidupan.Pendidikan dan kehidupan ialah suatuyaitu pendidikan adalah proses kebudayaan dalam arti membudayakan manusia aspek lain dari fungsi pendidikan adalah mengolah kebudayaan itu menjadi sikap mental, tingkah laku, bahkan menjadi kepribadian anak didik. Jadi hubungan pendidikan dengan kebudayaan adalah hubungan nilai. Dimana fungsi pendidikan sebagai pengoper kebudayaan mempunyai tujuan yang lebih utama yaitu untuk membina kepribadian manusia agar lebih kreatif dan produktif yakni mampu menciptakan kebudayaan.
Tidak terlepas dari itu manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa dan negara hidup dalam suatu sosial budaya. Maka membutuhkan penerus sosial budaya yang dilakukan melalui pendidikan. Agar pendidikan berjalan dengan baik dan sesuai. Maka pendidikan harus berazas filosofis yang menjamin tujuan untuk meningkatkan perkembangan sosial budaya, martabat bangsawan, kewibawaan dan kejayaan negara. Pentingnya kebudayaan untuk mengembangkan suatu pendidikan dalam budaya nasional mengupayakan, melestarikan dan mengembangkan nilai budaya-budaya dan pranata sosial dalam menunjang proses pengembangan dan pembangunan nasional serta melestarikan nilai-nilai luhur budaya bangsa.Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat, berbagai macam kekuatan harus dihadapi seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Selain itu manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan baik secara spritual maupun materil. Manusia merupakan makhluk yang berbudaya, melalui akalnya manusia dapat mengembangkan kebudyaan. Begitu pula manusia hidup dan tergantung pada kebudayaan sebagai hasil ciptaanya. Kebudayaan memberikan aturan bagi manusia dalam mengolah lingkungan dengan teknologi hasil ciptaannya. Dan dengan pendidikan yang akan mengembangkan dan membangkitkan budaya-budaya dulu, agar dia tidak punah dan terjaga untuk selamanya.
Dengan adanya filsafat, kita dapat mengetahui tentang hasil karya manusia yang akan menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap alam lingkungannya. Sehingga kebudayaan memiliki peran :
1.      Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompoknya.
2.      Wadah untuk menyalurkan perasan dan kemampuan lain.
3.      Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusiapembeda manusia dengan binatang.
4.      Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana harus bertindak dan berperilaku dalam pergaulan.
5.      Pengaturan agar manusia dapat mengerti bagaimnaa seharusnya bertindak, berbuat, menentukan sikapnya jikga berhubungan dengan orang lain.
6.      Sebagai modal dasar pembangunan
Apabila dibandingkan defenisi kebudayaan dan defenisi filsafat, dalam hal berfikir. Filsafat ialah cara atau metode berfikiryang teratur dan logis (sistematikdan universal yang berujung pada setiap jiwa, sedangkaan kebudayaan adalah salah satu hasil berfilsafat yang terwujud (termanifestasi) pada cipta, rasa, dan karsa sikap hidup dan pandangan hidup (Gazalba). Dengan demikian, jelaslah filsafat mengendalikan cara berfikir kebudayaan. Di balik kebudayaan ditemukan filsafat. Perbedaan kebudayaan dikembalikan kepada perbedaan filsafat. Karena setiap manusia memiliki filsafat yang berbeda, apalagi kelompok atau masyarakat, tentunya akan berbeda filsafatnya.
Tuhan menentukan nilai melalui agama. Manusia menentukan nilai melalui filsafat. Kebudayaan berpangkal pada manusia, maka yang menentukan kebudayaan adalah filsafat.

Daftar Pustaka :
Asy’arie, Musa, dkk. (1988 ). Agama, Kebudayaan dan Pembangunan.
        Yogyakarta.

Selasa, 06 Desember 2016

KEGUNAAN LOGIKA

20.06 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , 1 comment
KEGUNAAN LOGIKA
Logika membantu  manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseoranng, karena itu ia mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan tempat. Selain hubungannya erat dengan filsafat dan matematik, logika dewasa ini juga telah mengembangkan berbagai metode logis (logical methods) yang banyak sekali pemakaiannya dalam ilmu-ilmu, sebagai misal metode yang umumnya pertama dipakai oleh suatu ilmu.
Selain itu logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian yang cermat, lambang yang abstrak dan aturan-aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu, melainkan ternyata juga mempunyai penerapan. Misalnya dalam penyusunan program komputer dan pengaturan arus listrik, yang tidak bersangkutan dengan argumen.
Pengertian ilmu logika secara umum adalah ilmu yang mempelajari aturan-aturan berpikir benar. Jadi dalam logika kita mempelajari bagaimana sistematika atau aturan-aturan berpikir benar. Subjek inti ilmu logika adalah definisi dan argumentasi. Yang selanjutnya dikembangkan dalam bentuk silogisme.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kegunaan logika adalah sebagai berikut:
  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.
  5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan serta kesesatan.
  6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  7. Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa ).
  8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
Karena yang dipelajari dalam ilmu logika hanyalah berupa aturan-aturan berpikir benar maka tidak otomatis seseorang yang belajar logika akan menjadi orang yang selalu benar dalam berpikir. Itu semua tergantung seperti apa dia menerapkan aturan-aturan berpikir itu, disiplin atau tidak dalam menggunakan aturan-aturan itu, sering berlatih, dan tentu saja punya tekad dalam kebenaran.

Kegunaan dari kita belajar logika adalah daya analisis kita semakin bertambah dan dimana apabila ada suatu masalah, kita dapat mengambil keputusan dengan benar. Disamping itu belajar logika juga sangat bermanfaat dalam manajemen waktu, dan juga logika merupakan dasar ilmu psikologi yang paling mendasar. Intinya dengan belajar logika kemampuan berpikir dan daya analisis kita semakin berkembang.

Daftar Pustaka :
1. Asmoro Achmadi. 2011. Edisi Revisi-Filsafat Umum. Jakarta : Rajawali Pers

Kamis, 24 November 2016

Be Aware With Karinding As Traditional Culture Which Can Stimulate Social Conscious

14.32 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , , No comments
Be Aware With Karinding As Traditional Culture Which Can Stimulate Social Conscious
By Tyas Siti Nur Asiyah (2290150047/Sociology education)
Karinding is one of traditional music from Indonesia from sundanese. Karinding was made by the bamboo and in the few century ago karinding use for eradicate the pest because karinding product the low decibel voice. Beside that karinding also be an intercommunication music for the young people in that time, and also be a music which can interested the women with the melody from the karinding because karinding has characteristic sound to listen, and use for the region ritual as an accompaniment music. Some history expert  in their opinion said that karinding was come from the Padjajaran kingdom. Difficult to know when karinding appear in sundanese people because there is’nt source tell about that. One of the reference that ever made by Ragil Soeripto and that post in bulletin west java’s culture, kawit on 1192, Rachmat Ruchiyat has said that beside the throve of bamboo music in Indonesia that so close with the transmigration the people from Asia on 1000 BC even far from 10.000-5000 BC there is a few people stay on asia and there’s a few of them was in Irian Jaya. And Irian Jaya also has a few traditional music from bamboo like karinding but with another name, like karinding in pasundan called rinding or genggong in central java and east java or ginggung in Bali. But the true information about karinding come from should be there is a special study for it. But in Banten was on 300 years ago karinding appear. But karinding was extinct on 1953 because the existence was lost with radio in that time. But in Jaha village karinding was exist again by the young generation who introduce karinding to the people in Jaha village by the tradisional club Barak Karinding which give the learning to the people about karinding, and how to play karinding. Before that karinding in Jaha village was extinct by the era and globalization.
The way to play karinding is we have to know about the part of karinding is. Karinding has three part that is pancepengan, cecet ucing, and panenggeul. If we hit the part of panenggeul, that can product a sound if we keep the karinding in front of the mouth that karinding squeeze with the mouth can result a characteristic sound from karinding. That sound setting by our shape of mouth when we open our mouth, the depth of resonance, and our taking breath. Karinding can play in single and also in group. And karinding can collaborate with other bamboo percussion to made a new creation like guitar or celempung. Karinding is not about music performance but also about the musical drama. For make one of karinding the old people use the old bamboo one. Because that can result a good voice and that can survive for a long time than the young bamboo.
When we play karinding there is the philosophy that present by Sir Entang the one of karinding expert from Cicalengka, that philosophy is “Confident, Patient, and Awareness”. That philosophy contain the value that can use for the player to implement that value in their life. That philosophy also inspire the player of karinding to make a creation that can make the people’s conscious to aware about social reality around us as social human. Like from the song the title “peace” and another song is “the core of conscious”. From the “peace” that tell to the people to take the peace in every act with another people because we lived in Indonesia which has many culture and we have to tolerance to it and make the peace everywhere. And from “the core of conscious” that tell to the people so that they use their live to do the best not to waste the time with the worse thing like consume alcohol and using drug which can make their life getting bad.

The philosophy of karinding can also use in the daily live to guide us to face the problem or when we want to do something to consider with the philosophy to made our life better that before. In karinding also has the value like we have to simple in our life that face with the costume that the player use in their performance. And also the value to always patient and aware also to confident to face the era and do in our life so to take that value to a new people or to another people we can use the strategy to success it. Like we can go to the field together to gather so close and in the free time can play karinding, so with this we can try to love our culture by go to the field which the place that karinding the first time was played in the few century ago. And for remember that karinding is from the the field in the first cause Indonesia is a agrarian country which there’s so many field in Indonesia can meet and that can be the strategy for know karinding more, another way we can make the solidarity so close than before so the people feel comfortable with karinding and want to play and learn karinding, that strategy can use by eat together, play football together, hang out to drink a coffee than when a free time can play karinding together and that the another way to preserve karinding as traditional culture. Another strategy we can visit to the place that has the culture value and region value. For the place which has the culture value like visit Baduy as a culture village in Banten and karinding was there also so that’s the ideal place to make us more interest to karinding. For visit the place that has religion value that’s for make us more close with God and that can also be the implementation by karinding’s the philosophy we also have to aware and sure to the God and patient to face the problem when we get it. In this globalization era also we can use the social media for introduce karinding to the people by using instagram, twitter, facebook, and youtube that’s can be a way to make karinding more exist and we can give the culture value by the karinding to another people with the philosophy, creation, and every act when their performance. Build the relation with another community and the government also can be the starategy to introduce karinding beside with that the player of karinding has another experience, with government the traditional culture can get the attention for be preserve if that was almost extinct. With that traditional culture can introduce with the government by the government’s program to preserve the traditional culture. So with that karinding can be the traditional culture and exist in this globalization era as the identity of Indonesia in global and karinding also give the value to the listener and that can stimulate them for be aware with the social conscious like the function of the music is a music for the conscious like said before in Plekhanov theory. So when the people know about the value that can live in themselves and than they can implement about the value in their daily activity, because the people do by the meaning that they get from something that similar with karinding to the value in karinding then can be a meaning for the player and listener and then they implement that for the guide of live in their activity.

Upaya Menanamkan Nilai-Nilai Budaya Dalam Karinding Padepokan Seni Barak Karinding Kepada Kaula Muda

13.41 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments

Barak karinding merupakan sebuah padepokan seni yang melestarikan karinding dengan dipadukan juga dengan alat musik yang berasal dari bambu. Padepokan ini beraliran kontemporer, yakni perpaduan antara musik tradisional sunda, modern dan seni tetrikal. Barak karinding didirikan oleh seniman jalanan yang memiliki tujuan untuk melestarikan budaya asli Indonesia, terutama alat musik karinding. Saat ini padepokan seni barak karinding telah berkembang menjadi sebuah lembaga seni dan telah memiliki struktur kepengurusan serta puluhan dan penggemar setia.
Barak karinding memilih alat musik tradisional karena melihat kebiasaan yang terjadi pada kalangan pemuda yang perlahan melupakan keberadaan alat musik tradisional dan lebih banyak yang mendalami alat-alat musik yang berasal dari budaya luar Indonesia. Karena terdorong oleh perkembangan zaman yang mendukung perkembangannya keberadaan budaya dari luar Indonesia.
“…pakai juga alat musik tradisional yang kita kenal kaya angklung dan gamelan dan lain-lain, terus biar menarik, dibuatlah teaternya gitu, teater kontemporer. Tapi perkembangan kemari, dengan banyaknya anak-anak, terus penggalian budaya tentang karinding di banten akhirnya kita mengambil tujuan, visi misi, yaitu dengan yakin sabar sadar di kebudayaannya, kearifan lokal terus pembangannya kesenian teater musik kontemporer”. (Muklis Ponco, salah satu pendiri Padepokan Barak Karinding).
Selain pendiri, para pengurus dan para anggota, barak karinding juga berhasil menularkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat sekitar lingkungan padepokan, hal ini dibuktikan dengan lahirnya Bakkar Lovers, nama untuk anggota muda sekaligus fans club dari barak karinding, dan dukungan penuh dari masyarakat sekitar untuk pelestarian kesenian teater musik kontemporer barak karinding. Masyarakat menilai kegiatan yang dilakukan oleh padepokan ini merupakan kegiatan yang positif dan layak untuk mendapatkan dukungan.
Padepokan seni barak karinding melandasi teater musik kontemporernya dengan pesan moral yang meliputi norma sosial dikehidupan masyarakat yang diharapkan dapat dicerna oleh publik apa yang hendak disampaikan oleh barak karinding dalam karya-karyanya yang menyiarkan tentang kebaikan. Penggambaran melalui visual gerak pemain atau disebut teater menjadi penjabaran maksud yang hendak disampaikan. Ketika pementasan barak karinding ini menggunakan pakaian tradisional khas sunda yaitu baju pangsi/lomar putih atau hitam, celana pangsi putih atau hitam, dan sarung polos berwarna putih atau hitam. Hal ini dilakukan untuk mencerminkan identitas budaya yang bisa menjadi gaya ketika digunakan oleh kaula muda. Dalam pakaian tradisional ini mengajarkan pada penikmat musik karinding agar hidup sederhana seperti pakaian yang digunakan oleh para pemain karinding dan baju tradisional sunda ini lebih sering menggunakan yang berwarna hitam karena warna hitam melambangkan kesederhanaan dan terdapat filosofi bahwa hitam artinya berasal dari tanah atau bumi sehingga sudah seharusnya sebagai anak bangsa juga mampu menghargai bumi dan menjaga kelestariannya. Selain dari pakaian yang terdapat nilai kesederhanaan, karya-karya barak karinding yang lain juga mengandung nilai-nilai budaya seperti karya “Walungan Cisadane” yang merupakan lagu yang menggambarkan keindahan alam Indonesia. Keindahan alam Indonesia itu menentramkan hati dan jiwa. Namun keindahan itu tidak akan selamanya indah. Kita harus menjaga dan melestarikannya. Itu adalah tugas kita semua sebagai warga Indonesia dan juga sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Selain itu ada pula karya lain yaitu “ Rajah Nabi” yang menggambarkan kehidupan setelah kematian, yang dimana manusia dikumpulkan dialam mahyar. Manusia diingatkan agar tidak lalai dalam menjalankan aktivitas beribadah seperti shalat. Tekun beribadah dan rajin serta tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.
Nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh padepokan ini melalui musik karinding tak terlepas dari filosofi yang dipegang teguh yakni “Yakin, Sabar dan Sadar”. Penanaman nilai-nilai budaya terhadap penikmat musik karinding ini dapat dilakukan dengan memahami terlebih dahulu kebiasaan anggota ataupun yang bukan anggota pada pergaulan sehari-harinya sehingga individu tersebut tidak merasa terpaksa. Setelah itu maka dapat dilakukan hal seperti mengajak bermain ke sawah. Mengingat Indonesia adalah negara yang agraris dan masih dapat ditemukan sawah disekitaran daerah Banten ini khususnya dilingkungan penulis melakukan penelitian maka mengajak bermain di sawah merupakan hal yang mampu menjadikan kesempatan bagi kita untuk memperkenalkan karinding sebagai salah satu alat musik tradisional kebudayaan sunda yang pada awalnya tercipta sebagai alat musik pengisi waktu luang ketika di sawah sehingga mengajak menikmati indahnya agraris Indonesia mampu menjadi upaya untuk menanamkan kecintaan kepada karinding sebagai musik tradisional.
Selain bermain ke sawah, berwisata ke kampung adat juga mampu menjadi upaya untuk menumbuhkan kemauan untuk mempelajari karinding sebagai salah satu warisan budaya khususnya sunda dan di Banten sendiri di masyarakat baduy karinding ini juga sudah berkembang sejak lama, sehingga dengan kita berjalan-jalan ke kampung adat seperti baduy contohnya akan menumbuhkan perasaan ingin mengetahui kebudayaan sunda dan karinding merupakan salah satu kebudayaan sunda.
Upaya lain untuk memperkenalkan karinding hingga akhirnya mampu menanamkan nilai-nilai budayanya dapat dilakukan dengan berbaur pada kegiatan-kegiatan rutin dan merupakan kebiasaan mereka misalnya melakukan permainan futsal bersama, melakukan makan bersama atau istilah lain dikenal dengan babacakan ataupun ngeliwet, ataupun sekedar berkumpul diwarung kopi yang semuanya itu mampu meningkatkan rasa solidaritas sehingga muncul kemauan untuk mempelajari karinding. Karena bisa diselipkan ditengah-tengah waktu berkumpul ketika ada waktu luang digunakan untuk bermain karinding. Wisata rohani untuk meningkatkan keimanan kepada Sang Pencipta juga dapat dilakukan sejalan dengan filosofi “Yakin, Sabar, Sadar” yang dapat pula diimplementasikan untuk kerohanian. Wisata kerohanian ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pengajian rutin seperti yang sering dilakukan oleh anggota barak karinding setiap malam selasa yang dipimpin oleh ustadz-ustadz di Kampung Jaha. Dengan meningkatkan apresiasi terhadap pementasan akan membuat para pemain karinding lebih bersemangat untuk melestarikan kebudayan karinding, dan dengan adanya apresiasi sebagai orang awam yang belum mengenal karinding akan memiliki ketertarikan yang berawal dari apresiasi tersebut sehingga nantinya akan mampu menanamkan nilai-nilai kebudayaan.

Selain upaya yang telah dijelaskan tadi, melakukan kerja sama juga dapat menjadi upaya untuk lebih memperluas penanaman nilai-nilai budaya. Seperti dengan melakukan kerja sama dengan komunitas lain akan mampu membuat para pemain karinding terpacu dan terus melakukan inovasi untuk melahirkan karya-karya yang mampu membangkitkan realitas sosial yang ada. Peran pemerintah dalam pelestarian budaya juga sangat berpengaruh, maka dengan melakukan kerja sama dengan lembaga nega dapat menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan nilai-nilai kebudayan ditengah masyarakat Indonesia. Dan di tengah era globalisasi seperti sekarang pemanfaatan media sosial juga dapat digunakan untuk mengunggah hasil-hasil karya seni karinding kepada khalayak umum sehingga eksistensinya semakin luas seperti pemanfaataan instagram, facebook, twitter ataupun youtube dapat menjadi pilihan untuk memperkenalkan karinding sebagai kebudayaan Indonesia yang kemudian dapat menimbulkan ketertarikan dan minat untuk mempelajari karinding barulah lanjut pada penanaman nilai-nilai budayanya. 

Mengenal Tentang Musik Tradisional Karinding

13.24 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments

Karinding yaitu sebuah alat yang pada mulanya digunakan sebagai alat untuk mengusir hama dikarenakan karinding menghasilkan bunyi decibel rendah (ultrasonik). Karinding terbuat dari pelepah daun enau atau bambu. Cara memainkannya yaitu dengan pukulan jari tangan (telunjuk) dan rongga mulut sebagai resonatornya.[1] Namun karena karinding menghasilkan bunyi yang mampu menghasilkan irama sehingga karinding termasuk kedalam alat musik. Menurut Enoch (2006) karinding merupakan alat kesenian yang terbuat dari pohon enau atau bambu. Alat ini bentuknya kecil namun bunyinya cukup nyaring. Selain nama alat, karinding juga merupakan nama seni pertunjukan yang menggunakan waditra karinding. Alat musik berupa karinding ini berbentuk lempengan kayu enau atau bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan karinding ini berbentuk lempengan kayu enau atau bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cara mengiris bagian tengahnya sehingga terlihat menjulur seperti lidah. Apabila dipukul akan bergetar dan menimbulkan suara. Untuk memperkeras dan mengatur tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan, yang diatur adalah rongga mulutnya, yang berfungsi sebagai resonator.[2]
Alat karinding ini diperkirakan telah ada sejak beberapa abad yang lalu. Beberapa ahli sejarah sunda berpendapat bahwa alat musik ini berasal dari kebudayaan yang ada pada zaman kerajaan padjajaran. Sulit dilacak kapan pertama kali karinding hadir di masyarakat Sunda karena tak ada sumber tertulis yang meyebutkan secara pasti kapan waditra ini mulai ada. Satu tinjauan pernah dibuat Ragil Soeripto dan dimuat dalam Buletin Kebudayaan Jawa Barat, Kawit, tahun 1992, “Rachmat Ruchiyat berkesimpulan bahwa di samping berkembangnya musik bambu di Indonesia erat sekali kaitannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia tahun 1000 SM, bahkan yang jauh sebelumnya (10.000 – 5.000 SM) sudah ada suku bangsa yang telah menetap juga dari daratan Asia yang sisa-sisanya antara lain di Irian Jaya ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain menyerupai karinding (Pasundan) atau rinding atau genggong (Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau Bali Ginggung.” Dari kutipan tersebut, waditra bambu sejenis karinding sebenarnya sudah hadir di Indonesia sejak 10.000 – 5.000 SM, namun tentang keberadaan karinding di tanah Pasundan, perlu tinjauan sejarah yang lebih khusus. Untuk di Banten sendiri karinding ada sekitar 300 tahun yang lalu. Namun karinding ini menurut orang tua sekarang pertama kali punah sekitar tahun 1953 karena kalah esksistensinya dengan radio.
Pada zaman dahulu karinding selain digunakan untuk membasmi hama karinding juga digunakan sebagai alat musik pergaulan. Dikatakan sebagai alat musik pergaulan karena pada zaman dahulu karinding dimainkan oleh pemuda-pemudi ketika berkumpul ataupun sengaja untuk mengisi waktu luang mereka. Selain itu karinding juga dikenal sebagai alat musik pemikat wanita. Konon pada zaman dahulu lelaki yang memainkan karinding memiliki stratifikasi yang tinggi dalam hal musikalitas jika dikorelasikan dengan zaman sekarang karinding bagaikan gitar yang biasanya digunakan lelaki untuk merayu wanita. Lelaki yang hendak mengunjungi rumah wanita pujaannya biasanya membawa karinding dan memainkan karinding ketika bertemu dan bercengkrama dengan wanita yang ia puja. Dan wanita juga menilai lelaki dari alunan musik karinding yang dibawakan oleh sang lelaki. Hal ini diperkuat dengan adanya kisah dari Tasikmalaya. Kisah ini merupakan kisah jajaka kalamanda sebagai pencipta karinding di Tasikmalaya. Dalam syairnya “karinding ti Citamiang” penyair Nazaruddin Azhar mengisahkan kembali cerita yang dituturkan oyon Noraharjo tentang Kalamanda. Nun dahulu kala, di kampung Citamiang, Pasir Mukti, ada dalam kekuasaan kerajaan Galuh. Di kampung ini tersebutlah seorang jejaka tangguh bernama kalamanda tang merupakan cucu dari Raja Kerajaan Tengah atau Galuh. Terkisah Kalamanda ingin memikat Sekarwati yang menggunakan karinding sebagai alat untuk memikatnya dan mampu membuat pesaingnya yang lain tersingkir. Kalamanda memiliki ide membuat karinding karena berdasarkan hasil konsultasi dengan kakeknya. Sehingga kalamanda kemudia bertapa untuk memohon petunjuk untuk mendapatkan Sekarwati. Akhirnya Kalamanda mendapat petunjuk untuk membuat sejenis alat musik yang suaranya mampu mencerminkan perasaan cintanya yang dalam bagi sang pujaan. Segala bentuk dicoba sampai akhirnya terciptalah alat yang sangat sederhana terbuat dari pelepah kawung (aren) kering. Kemudian dimainkanlah karinding itu secara diam-diam pada malam hari di dekat jendela bilik Sekarwati dan memainkannya dengan sepenuh cinta. Suara yang menyentuh sanubari itu membuat Sekarwati hampir tertidur. Kisah kalamanda ini menjadi bukti bahwa karinding sebagai alat musik pemikat wanita yang pada saat itu juga karinding dijadikan simbol perlawanan terhadap tradisi pingit yang dianggap tradisi kontra produktif bagi kaum muda zaman dahulu sehingga pemuda dan pemudi terinspirasi untuk meniru apa yang dilakukan Kalamanda dan Sekarwati. Kisah lain mengenai karinding sebagai alat musik pemikat wanita juga muncul dalam kisah Ki Slenting yang menggunakan karinding untuk memikat wanita, bukan hanya satu wanita tetapi banyak wanita. Kisah ki Selenting pernah dikisahkan Yoyo Dasriyo dalam artikel berjudul “Karinding Menggelinding, Mengiring Ki Selenting” (kompas Jawa Barat, 4/7/2010). Selain itu karinding juga digunakan sebagai musik pengiring doa karena suara yang dihasilkan memiliki kesan yang sejuk untuk mengiringi dalam pembacaan doa seperti tahlilan, muludan, khaulan ataupun acara memanjatkan puji syukur.
            Adapun cara memainkan karinding  terlebih dahulu perlu mengetahui bagian-bagian karinding. Karinding terdiri dari tiga bagian tempat memegang karinding (pancepengan), jarum tempat keluarnya nada disebut ekor kucing (cecet ucing) dan pembatas jarum serta bagian ujung yang disebut pemukul (panenggeul).[3] Jika bagian pemukul ditabuh, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas. Seperti ketika kita melihat ayam yang sedang bertelur jika diganggu ia akan mengeluarkan suara dengan rongga leher yang membesar, kurang lebih itu satu contoh yang dapat kita pelajari dari ayam bertelur untuk melihat bentuk rongganya. Sehingga karinding tidak dimainkan seperti halnya alat musik tiup biasa, tetapi karinding akan menghasilkan suara saat dikatupkan di bibir pemainnya dan digetarkan pada ruas pertama sehingga tercipta resonansi suara. Karinding ini dapat dimainkan secara solo, maupun duet atau grup. Selain itu karinding dapat dikolaborasi dengan alat musik yang lain baik alat musik yang terbuat dari bambu seperti celempung air dapat juga di padukan dengan gitar. Pertunjukan karinding ini juga bukan hanya ditampilkan secara pagelaran musik saja tetapi dapat juga ditampilkan dalam sebuah drama musikal. Pada saat membuat karinding orang tua dahulu tidak sembarangan dalam menggunakan bahan yang akan digunakan untuk membuat karinding yaitu pelepah aren yang jenisnya pelepah aren apu atau pelepah aren putih begitupun dengan bambu, bambunya yaitu bambu bitung, bambu hitam, dan bambu haur yang benar-benar sudah tua karena hasilnya akan lebih bagus dibandingkan dengan bambu yang muda, dikarenakan bambu yang muda jika dibuat karinding nantinya akan mengalami penyusutan bentuk.
            Dalam memainkan karinding terdapat falsafah karinding yang diperkenalkan oleh Bah Entang seorang tokoh karinding yang berasal dari Cicalengka yaitu “Sabar, Sadar, Yakin”. Falsafah ini lahir sejauh yang mampu para pemain karinding terdahulu pahami dalam karinding. Makna sabar yaitu sabar dalam memainkan karinding karena dalam memainkan karinding diperlukan kesabaran jika ketika bermain karinding tidak dapat menghasilkan suara. Selanjutnya sadar, artinya bahwa ketika memainkan karinding harus dalam keadaan sadar tidak sedang dalam pengaruh obat-obatan terlarang ataupun alkohol. Dan yang terakhir yakin yaitu bahwa harus memiliki keyakinan bahwa kita mampu memainkan karinding dengan baik.
            Kehadiran karinding di tengah masyarakat sunda tak jauh dari kebudayaan agraris dan kedekatan masyarakat sunda dengan kayu dan bambu. Dua bahan ini terutama dianggap sebagai tanaman yang memberikan manfaat pada banyak kegiatan masyarakat Indonesia termasuk dalam hal kebudayaan. Bahan bambu ini melahirkan karya seni sebagai sarana pengantar upacara-upacara ritual, pergaulan, hiburan, pengungkapan nilai-nilai pandangan hidup, juga sebagai alat musik dan kesenian. Bentuk karinding yang dibuat menyesuaikan selera pembuat misalnya laki-laki biasanya pada zaman dahulu bentuk karindingnya lebih pendek agar dapat masuk di tempat tembakau sedangkan perempuan bentuk karindingnya lebih panjang agar dapat ditusukan di sanggul rambut mereka tutur ki Sueb. Hadirnya karinding ini juga di latarbelakangi pada mata pencaharian masyarakat Indonesia yang rata-rata sebagai petani dan tak kadang berternak. Untuk mengisi waktu luang dalam menjalani kegiatan itu maka orang tua dahulu menciptakan karinding untuk melepas penat mereka dan menghilangkan kejenuhan ketika sedang beristirahat di sawah ataupun menunggu hewan ternak yang sedang digembala.
            Di Kampung Jaha sendiri karinding dahulu banyak digunakan oleh kaum muda-mudi untuk menghibur diri sendiri ataupun merayu lawan jenisnya, karinding di kampung Jaha terbuat dari bahan pelepah aren dan dalam penggunaannya permainan musik biasanya dibarengi dengan celempung petik khas Balaraja. Menurut Ki Jahawan lelaki yang juga sebagai pemain karinding di kampung Jaha, karinding juga menuturkan karinding juga digunakan pada saat mereka sedang berada di sawah ketika sedang beristirahat ketika selesai bertani, dahulu ketika sedang beristirahat di sawah laki-laki yang bertani berkumpul bersama dan memainkan alat musik karinding bersama-sama. Ada juga yang memainkankannya diatas kerbau sambil berteduh dibawah pohon. Karena dahulu sawah Jaha sangat luas dan belum terpisahkan oleh jalan tol maka pemain karinding itu tidak hanya dari kampung jaha semata tapi mereka yang berasal dari kampung lain pun yang bertani di daerah dekat kampung jaha seperti almarhum mang Domba yang berasal dari kampung Kosambi yang juga pemain karinding.


[1] Oktavia Fitria. Pembelajaran Karinding Vol.1 No.3, Desember 2013 : 1-7 hlm 4. 
[2] Atmadibrata, Enoch. 2006. Khasanah Seni Pertunjukan. Jawa Barat. Bandung : DISBUDPAR.
[3]Setiawan Muhammad Irvan. Yulianita Neni. Proses komunikasi dalam Sosialisasi Pelestarian Kesenian Kariding (studi Deskriptif Mengenai Proses Komunikasi Dalam SosialisasiPelestarian Karinding Oleh Abah Olot) Vol.2 . No 3  November 2015 : 33-39.  hlm 34