Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

HAKIKAT ETIKA FILSAFAT

22.16 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , 1 comment
HAKIKAT ETIKA FILSAFAT
Etika filsafat sebagai  cabang ilmu, melanjutkan kecenderungan seseorang dalam hidup sehari-hari. Etika filsafat merefleksikan unsur-unsur tingkah laku dalam pendapat-pendapat secara sepontan. Kebutuhan refleksi itu dapat dirasakan antara lain karena pendapat etik tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.Etika filsafat dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis, metodis dan sistematis tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma susila atau dari sudut baik atau buruk. Dari sudut pandang normatif, etika filsafat merupakan wacana yang khas bagi perilaku kehidupan manusia, dibandingkan dengan ilmu lain yang juga membahas tingkah laku manusia.Etika filsafat termasuk salah satu cabang ilmu filsafat dan malah dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua. 
Dalam konteks filsafat yunani kuno etika filsfat sudah terbentuk terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan. Etika filsafat merupakan ilmu, tetapi sebagai filsafat ia tidak merupakan suatu ilmu emperis, artinya ilmu yang didasarkan pada fakta dan dalam pembicaraannya tidak pernah meniggalkan fakta. Ilmu-ilmu itu bersifat emperis, karena seluruhna berlangsung dalam rangka emperis (pengalaman inderawi) yaitu apa yang dapat dilihat, didengar, dicium, dan dirasakan. Ilmu emperis berasal dari observasi terhadap fakta-fakta dan jika ia berhasil merumuskan hukum-hukum ilmiah, maka kebenaran hukum-hukum itu harus diuji lagi dengan berbalik kepada fakta-fakta. Dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain, etika filsafat tidak membatasi gejala-gejala konkret. Tentu saja, filsafat berbicara juga tentang yang konkret, kadang-kadang malah tentang hal-hal yang amat konkret, tetapi ia tidak berhenti di situ.Pada awal sejarah timbulnya ilmu etika, terdapat pandangan bahwa pengetahuan bener tentang bidang etika secara otomatis akan disusun oleh perilaku yang benar juga. Itulah ajaran terkenal dari sokrates yang disebut Intelektualisme Etis. 
Menurut sokrates orang yang mempunyai pengetahuan tentang baik pasti akan melakukan kebaikan juga. Orang yang berbuat jahat, dilakukan karena tidak ada pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika. Makanya ia berbuat jahat.Kalau dikemukakan secara radikal begini, ajaran itu sulit untuk dipertahankan. Bila orang mempunyai pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika, belum terjamin perilakunya baik. Disini berbeda dari pengalaman ilmu pasti. Orang-orang yang hampir yang tidak mendapat pendidikan di sekolah, tetapi selalu hidup dengan perilaku baik dengan sangat mengagumkan. Namun demikian, ada kebenarannya juga dalam pendapat sokrates tadi, pengethuan tentang etika merupakan suatu unsur penting, supaya orang dapat mencapai kematangan perilaku yang baik. Untuk memperoleh etika baik, studi tentang etika dapat memberikan suatu kontribusi yang berarti sekalipun studi itu sendiri belum cukup untuk menjamin etika baik dapat terlaksana secara tepat.Etika filsafat  juga bukan filsafat praktis dalam arti ia menyajikan resep-resep yang siap pakai. 
Buku etika tidak berupa buku petunjuk yang dapat dikonsultasikan untuk mengatasi kesulitan etika buruk yang sedang dihadapi. Etika filsafat merupakan suatu refleksi tentang teman-teman yang menyangkut perilaku. Dalam etika filsafat diharapkan semuah orang dapat menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, kewajiban, dan keutamaan.Di kalangan orang-orang kebanyakan, sering kali etika filsafat tidak mempunyai nama harum. Tidak jarang ia dituduh mengawang-awang saja, karena membahas hal-hal yang abstrak dan kurang releven  untuk hidup sehari-hari. Banyak uraian etika filsafat dianggap tidak jauh dari kenyataan sesungguhnya. Itulah hakikat filsafat mengenai etika. Disini tidak perlu diselidiki sampai dimana prasangka itu mengandung kebenaran. Tetapi setidak-tidaknya  tentang etika sebagai cabang filsafat  dengan mudah dapat disebut dan disetujui relevansinya bagi banyak persoalan yang dihadapi umat manusia. (M. Yatimin Abdullah: 2006).Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. 
Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan kerancuan (kekacauan). Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral yang dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral, sedangkan kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakkan manusia dilihat dari segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. (Surajiyo: 2005)
Daftar Pustaka :
Asmoro Achmadi.2011.Edisi Revisi-Filsafat Umum. Jakarta: Rajawali Pers2. 

Sabtu, 17 Desember 2016

OBJEK FILSAFAT

18.02 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Objek Filsafat
            Secara umum, filsafat mempunyai objek yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dan boleh juga diaplikasikan, yaitu tuhan, alam semesta, dan sebagainya. Apabila diperhatikan secara seksama objek filsafat tersebut dapat dikatagorikan kepada dua:


  1. Objek material
Objek material ini adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian keilmuan. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secar umum.
  1. Objek formal
Objek formal merubah objek khusus filsafat yang sedalam-dalamnya (Poedjawijatna, 1994: 8). Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Suatu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan ilmu yang berbeda-beda.Objek formal ini dapat dipahami melalui dua kegiatan:
a.       Aktivitas berfikir murni (reflective thinking) artinya kegiatan akal manusia dengan usaha untuk mengerti dengan usaha untuk mengerti secara mendalam segala sesuatunya sampai ke akar-akarnya.
b.      Produk kegiatan berfikir murni, artinya hasil dari pemikiran atau penyelidikan dalam wujud ilmu atau ideologi.
Mengenai objek forma ini ada juga yang mengindentikan dengan metafisika, yaitu hal-hal diluar jangkauan panca indra, seperti persoalan esensi dan substansi alam, yaitu sebab utama terjadinya alam. Metafisika berasal dari bahasa yunani, yaitu metha artinya di belakang, sedangkan fisika artinya fisik atau nyata. Untuk itu dapat dipahami pengertian methafisika adalah pemikiran yang jauh dan mendalam dibalik apa yang bisa dijangkau oleh panca indra seperti Tuhan, asal alam, hakikat manusia, dan sebagainya.
Bagi plato(+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagi Aritoteles(+ 384-322 SM) filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku ada”(being as being) atau “peri ada sebagaimana adanya”(being as such). Dari dua pernyataan tersebut, dapatlah diketahui bahwa “ada” merupakan objek materi dari filsafat. Karena fisafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendirinya, maka “ada” disini meliputi segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mungkin ada atau seluruh ada. Jadi, secara singkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat holistik atau keseluruhan, sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat Fragmental atau bagian-bagian.
          Persoalan filsafat berbeda dengan persoalan nonfilsafat. Perbedaanya terletak pada materi dan ruang lingkupnya. Ciri-ciri persoalan filsafat adalah sebagai berikut:
1.      Bersifat Umum, artinya persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus dengan kata lain sebagian besar masalah kefilsafatan berkaitan dengan ide-ide besar. 
2.      Tidak menyangkut fakta. Dengan kata lain persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut fakta.
3.      Bersangkutan dengan nilai-nilai (Values), artinya persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian baik nilai moral-etika, estetika, agama, dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada suatu hal.
4.      Bersifat kritis, filsafat merupakan analisi secara kritis terhadap konsep-konsep dan arti-arti yang biasanya diterima begitu saja. 
5.      Oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis. 
6.      Bersifat sinoptis, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
7.      Bersifat implikatif, artinyakalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan.

Daftar Pustaka :
Ihsan,Fuad.2010.Filsafat Ilmu.Jakarta:PT. Rineka Cipta

Rabu, 14 Desember 2016

ETIKA SEBAGAI CIRI KHAS FILSAFAT

21.12 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
ETIKA SEBAGAI CIRI KHAS FILSAFAT 
Etika filsafat merupakan ilmu penyelidikan bidang tingkah laku manusia yaitu menganai kewajiban manusia, perbuatan baik buruk dan merupakan ilmu filsafat tentang perbuatan manusia. Banyak perbuatan manusia yang berkaitan dengan baik atau buruk, tetapi tidak semua perbuatan yang netral dari segi etikanya. Contoh, bila di pagi hari saya menganakan lebih dulu sepatu kanan dan kemudian sepatu kiri, perbuatan itu tidak mempunyai hubungan baik atau buruk. Boleh saja sebaliknya, sepatu kiri dulu baru kemudian sepatu kanan. Cara itu baik dari sudut efisiensi atau lebih baik karena cocok dengan motorik saya, tetapi cara pertama atau kedua tidak lebih baik atau lebih buruk dari sudut etika. Perbuatan itu boleh disebut tidak mempunyai relevansi etika.Immanuel Kant (1724-1804) berpendapat bahwa manusia mempunyai perasaan etika yang tertanam dalam jiwa dan hati sanubarinya. Orang merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjauhi perbuatan buruk dan menjalankan perbuatan baik. Etika filsafat merupakan suatu tindakan manusia yang bercorak khusus, yaitu didasarkan kepada pengertiannya mengenai baik dan buruk. Etika sebagai cabang filsafat sebenarnya yang membedakan manusia daripada makhluk Tuhan lainnya dan menempatkannya bila telah menjadi tertib pada derajat di atas mereka. (M. Yatimin Abdullah: 2006).
Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Mohamad Mufid: 2009 bahwa etika sering disebut filsafat moral. Etika merupakan cabang filsafat yang berbicara mengenai tindakan manusia dalam kaitannya dengan tujuan utama hidupnya. Etika membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika mempersoalkan bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak.Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma. Etika menolong manusia untuk mengambil sikap terhadap semuah norma dari luar dan dari dalam, supaya manusia mencapai kesadaran moral yang otonom.Etika menyelidiki dasar semua norma moral. 
Dalam etika biasanya dibedakan antara etika deskriptif dan etika normatif. 
1.      Etika Deskriptif 
Etika deskriptif menguraikan dan menjelaskan kesadaran-kesadaran dan penngalaman moral secara deskriptif. Ini dilakukan dengan bertitik pangkal pada kenyataan bahwa terdapat beragam fenomena moral yang dapat digambarkan dan diuraikan secara ilmiah. Etika deskriptif berupaya menemukan dan menjelaskan kesadaran, keyakinan dan pengalaman moral dalam suatu kultur tertentu. Etika deskriptif dibagi menjadi dua, yaitu:a)     Sejarah moral, yang meneliti cita-cita, aturan-aturan dan norma-norma moral yang pernah berlaku dalam kehidupan manusia dalam kurun waktu dan tempat tertentu.b)      Fenomenologi moral, yang berupaya menemukan arti dan makna moralitas dari beragam fenomena ysng ada. Fenomenologi moral berkepentingan untuk menjelaskan fenomena moral yang terjadi masyarakat. Ia tidak memberikan petunjuk moral dan tidak mempersalahkan apa yang salah. 
2.      Etika Normatif 
Etika normatif dipandang sebagai suatu ilmu yang mengadakan ukuran atau norma yang dapat dipakai untuk menanggapi menilai perbuatan. Etika ini dapat menjelaskan tentang nilai-nilai yang seharusnya dilakukan serta memungkinkan manusia untuk mengukur tentang apa yang terajdi.Etika normatif menagandung dua bagian besar, yaitu: pertama membahas tentang teori nilai (theory of value) dan teori keharusan (theory of obligation). Kedua, membahas tentang etika teologis dan etika deontelogis. Teori nilai mempersoalkan tentang sifat kebaikan, sedangkan teorin keharusan membahas tingkah laaku. Sedangkan etika teolog berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh konsekuensinya. Adapun deontologis berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh sebab-sebab yang menjadi dorongan dari tindakan itu, atau ditetukan oleh sifat-sifat hakikinya atau oleh keberadaannya yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan prinsip-prinsip tertentu. Ciri khas etika filsafat itu dengan jelas tampak juga pada perbuatan baik-buruk, benar-salah, tetepi diantara cabang-cabang ilmu filsafat mempunyai suatu kedudukan tersendiri. Ada banyak cabang filsafat, seperti filsafat alam, filsafat sejarah, filsafat kesenian, filsafat hukum, dan filsafat agama. Sepintas lalu rupanya etika filsafat juga menyelidiki suatu bidang tertentu, sama halnya seperti cabang-cabang filsafat yang disebut tadi. Semua cabang filsafat berbicara tentang yang ada, sedangkan etika filsafat membahas yang harus dilakukan. Karena itu etika filsafat tidak jarang juga disebut praktis karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia, dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia.Perlu diakui bahwa etika sebagai cabang filsafat, mempunyai batasan-batasan juga. Contoh, mahasiswa yang memperoleh nilai gemilang untuk ujian mata kuliah etika, belum tentu dalam perilakunya akan menempuh tindakan-tindakan yang paling baik menurut etika, malah bisa terjadi nilai yang bagus itu hanya sekedar hasil nyontek, jadi hasil sebuah perbuatan yang tidak baik (M. Yatim Abdullah: 2006).
Daftar Pustaka :
Asmoro Achmadi.2011.Edisi Revisi-Filsafat Umum. Jakarta: Rajawali Pers2.

Senin, 12 Desember 2016

SIFAT-SIFAT ILMU PENGETAHUAN

09.33 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Sifat-sifat Ilmu Pengetahuan
Sejarah membuktikan, bahwa dengan metode ilmu, akn membawa manusia kepada kemajuan dalam pengetahuannya. Kemajuan dalam pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu itu memungkinkan, karena beberapa sifat, atau cirri khas yang dimiliki oleh ilmu.
Dalam hal ini, Randall mengemukakan beberapa ciri umum daripada ilmu, di antaranya ialah:
  1. Hasil ilmu sifatnya akumulatif dan merupakan milik bersama. Artinya, hasil daripada ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru, dan tidak menjadi monopoli bagi yang menemukannya saja, setiap orang dapat menggunakan, memanfaatkan hasil penyelidikan atau hasil penemuan orang lain.
  2. Hasil ilmu, kebenarannya tidak mutlak, dan bisa terjadi kekeliruan, karena yang menyelidikinya adalah manusia. Namun yang perlu diketahui, kesalahan-kesalahan itu bukan karena metodenya, melainkan terletak pada manusia yang menggunakan metode tersebut.
  3. Ilmu itu objektif, artinya prosedur cara penggunaan mtode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi. Berbeda dengan prosedur otoritas dan intuisi, yang tergantung kepada pemahaman secara pribadi.
Selanjutnya, Ralph Ross dan Ernest Van den Hagg yang disunting oleh Prof. Drs. Harsojo, mengemukakan ciri-ciri umum daripada ilmu, yaitu:
  1. Bahwa ilmu itu rasional
  2. Bahwa ilmu itu Bersifat empiris
  3. Bahwa ilmu itu Umum
  4. Bahwa ilmu itu Akumulatif
Ilmu dikatakan rasional, karena ilmu merupakan hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal, atau hasil berpikir secara rasional.
Pada umumnya, orang-orang menggolongkan filsafat itu pasti ke dalam ilmu-ilmu pengetahuan. Walaupun filasafat iu muncul sebagai salah satu ilmu pengetahuan, akan tetapi ia mempunyai struktur tersendiri dan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai “ilmu pengetahuan”.
Tentu saja sedikit banyak bagi setiap ilmu pengetahuan berlaku, bahwa ilmu itu mempunyai struktur dan karakteristik tersendiri. Studi tentang ilmu kedokteran adalah sesuatu yang berbeda sekali dengan sejarah kesenian, dan ilmu pasti/matematika sesuatu yang berlainan sekali dengan ilmu pendidikan. Akan tetapi untuk filsafat, hal yang “tersendiri” ini berlaku dengan cara yang dasarnya lain.
Daftar Pustaka :
Burhanuddin Salam. 2005. ”Pengantar filsafat”. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Minggu, 11 Desember 2016

TEORI-TEORI HUMOR

13.29 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
TEORI-TEORI HUMOR
Kategori yang komis dan kategori yang humoris membangkitkan pada orang perasaan yang menggelikan, yang membuat tertawa, yang menghibur dan yang lucu. Khusus pada kategori yang humoris selain membuat orang tertawa atau tersenyum, juga dapat dijadikan sarana untuk secara halus atau secara tak langsung menyindir, mengejek, menghantam, dan melakukan pembalasan kepada pihak lain kawan atau lawan.
Lelucon yang humoris kini banyak diciptakan orang dalam masyarakat sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan atau menyampaikan suatu maksud. Dengan demikian lahirlah berbagai humor. Istilah humor menurut Martin Eshleman dewasa ini dipakai secara luas untuk menunjuk pada setiap hal yang merangsang kecenderungan orang pada tertawa yang lucu (everything that appelas to man's disposition toward comic laughter). Para ahli estetika kini telah mengembangkan berbagai teori humor untuk menunjukkan dan menerangkan apa sesungguhnya yang terdapat pada sesuatu hal yang membangkitkan gelak tertawa lucu pada orang-orang. Dalam garis besarnya berbagai teori humor itu dapat digolongkan menjadi tiga macam : 
1.  Teori Keunggulan  (Superiority theory)
2.  Teori ketaksesuaian (Incongruity theory)
3.  Teori pembebasan (Relief theory)

1).    Teori keunggulan menekankan bahwa inti humor ialah rasa lebih baik, lebih tinggi, atau lebih sempurna pada seseorang dalam menghadapi sesuatu keadaan yang mengandung kekurangan atau kelemahan. Menurut teori ini, seseorang akan tertawa bilamana mendadak memperoleh perasaan unggul karena dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kekeliruan atau mengalami hal tak menguntungkan. Teori ini dapat dipakai untuk menerangkan mengapa para penonton tertawa terbahak-bahak melihat badut sirkus yang terbentur tiang, jatuh tersandung, melakukan aneka kekeliruan, atau perilakunya menunjukkan berbagai ketololan.

2).    Teori ketaksesuaian menjelaskan bahwa humor timbul karena perubahan yang sekonyong-konyong dari sesuatu situssi yang sangat diharapka mejadi suatu hal yang sama sekali tidak diduga atau tidak pada tempatnya. Tertawa terjadi karena harapan yang dikacaukan (frustated expectation) sehingga seseorang dari suatu sikap mental dilontarkan ke dalam sikap mental yang sama sekali berlainan.

3).    Menurut teori pembebasan, inti dari humor ialah pembebasan atau pelepasan dari kekangan yang terdapat pada diri seseorang. Karena berbagai pembatasan dan larangan yang ditentukan oleh masyarakat, dorongan-dorongan batin alamiah dalam diri seseorang mendapat kekangan atau tekanan. Bilamana kekangan/tekanan itu dapat dilepaskan atau dikendorkan oleh misalnya lelucon sex, sindiran jenaka, atau ucapan nonsense, maka meledaklah perasaan orang dalam bentuk tawa.

Menurut tokoh psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939), lelucon memiliki kimiripan dengan impian, yakni kedua-duanya pada dasarnya merupakan sarana untuk mengatasi kekangan (censor) yang datang dari luar atau telah tumbuh dalam diri seseorang. Dalam impian, ide-ide yang terlarang dapat diserongkan atau diselubungi, sedang dalam kelakar orang bisa menyelipkan kecaman, cacian, atau pelepasan diri dari apa saja secara tidak begitu keras dan langsung.
Menurut Hans Eyeseck dan Glen Wilson, segenap humor dapat dibedakan menjadi 4 ragam atau kategori, yaitu :
1.      Humor yang disebut "nonsense". Ragam humor ini tidak berisi sindiran, serangan dan lelucon sex, melainkan menggunakan berbagai teknik permainan kata atau unsur-unsur yang tak sesuai untuk membangkitkan gelak tertawa pada orang .

2.      Humor yang disebut "satire" dan berisi sindiran terhadap orang, pejabat, kelompok atau lembaga. Ini merupakan semacam serangan tak langsung atau kecaman halus yang ditujukan kepada suatu pihak tertentu.

3.      Humor agresi secara langsung yang berisi kekerasn fisik, kebiadaban, penghinaan dan penyiksaan yang sadis.

4.      Humor berisi sesuatu lelucon sex yang bisa ditampilkan secara kasar sekali atau amat halus.

Terakhir perlu dibahas tentang kategori yang jelek. Tampaknya memang agak janggal bahwa salah satu kategori keindahan adalah kejelekan. Hal yang jelek bersifat kontradiktif terhadap hal yang indah. Kejelekkan tidaklah berarti kosongnya atau kurangnya ciri-ciri yang membuat sesuatu benda disebut indah, melainkan mengacu pada sifat-sifat yang nyata-nyata bertentangan dengan sifat indah. Misalnya kalau ketertiban pada sesuatu hal dianggap menimbulkan perasaan senang sehingga hal itu dinyatakan indah, maka hal yang jelek bukanlah kecilnya ketertiban melainkan suatu keadaan yang amat kacau balau. Kejelekkan menimbulkan pada orang perasaan muak dan mual. Hal yang jelek kini dianggap mempunyai nilai estetis karena dapat membangkitkan sesuatu emosi tertentu yang negatif, suatu nilai estetis yang negatif,yang bertentangan dengan sifat-sifat indah. Oleh karena itu, dapatlah dimengerti kalau belakangan ini ada produser film yang menyajikan tokoh-tokoh jelek atau seniman yang menciptakan sesuatu karya seni menjijikkan yang tergolong pada kategori yang jelek.

Daftar Pustaka :
1. Wadjiz Anwar, L.Th., 1980, Filsafat Estetika, Nur Cahaya, Yogyakarta
2. Mudji Sutrisno, Chist Verhaak, 1993, Estetika Filasafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta


Sabtu, 03 Desember 2016

BATASAN-BATASAN PENGKAJIAN ILMU PENGETAHUAN

19.37 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Batasan-batasan Pengkajian Ilmu Pengetahuan
Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari ikhwal surga dan neraka. Sebab ikhwal surga dan neraka berada diluar Jangkauan pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari sebab musabab terciptanya manusia sebab kejadian itu terjadi diluar jangkauan pengalamann manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun hal-hal yang terjadi setelah kematian manusia, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu.
Ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena fungsi ilmu sendiri dalam hidup manusia yaitu sebagai alat bantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan pada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu.
Ilmu membatasi batas penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan pada metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah diuji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, maka pembuktian metodologis tidak dapat dilakukan.
Ilmu tanpa bimbingan moral agama adalah buta. Kebutaan moral dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka. Contoh penyalahgunaan teknologi nuklir yang  telah merenggut jutaan jiwa.
Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita menjadi “kapling kapling”  berbagai disiplin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai dengn perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Dahulu ilmu dibagi menjadi dua, ilmu alam dan ilmu sosial. Kini telah terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan. Oleh karena itu, seorang ilmuwan harus tahu benar batas-batas penjelajahan cabang keilmuan maing-masing.
Mengenai batas-batas kapling ini, disamping menunjukkan kematangan keilmuan dan profesional kita, juga dimaksudkan agar kita mengenal tetangga-tetangga kita. Dengan makin sempitnya  daerah penjelajahan suatu bidang keilmuan, maka sering sekali diperlukan “pandangan”  dari disiplin-disiplin yang lain. Saling pandang memandang ini  atau pendekatan multi disipliner, membutuhkan pengetahuan tentang tetangga-tetangga yang berdekatan. Artinya harus jelas bagi semua, dimana disiplin seseorang berhenti dan dimana disiplin orang lain mulai. Tanpa kejelasan batas-batas ini maka pendekatan multi disipliner akan berubah menjadi sengketa kapling.
Daftar Pustaka: 
Gerrard Beekman dan  RA.Rifai. 1973. ”Filsafat Para Filsuf Berfilsafat” Jakarta: Penerbit Erlangga

Jumat, 02 Desember 2016

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

11.36 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
ALIRAN-ALIRAN  PENDIDIKAN

  1. Aliran Empirisme (Environmentalisme)
Aliran Empirisme pertama kali dikemukakan John Locke dalam bukunya “ An Easy Concerning Human Understanding”, yang berpendapat bahwa satu-satunya cara manusia memperoleh pengetahuan adalah melalui pengalaman atau penginderaan. Pandangan John Locke ini terinspirasi oleh pemikiran Aristoteles, bahwa manusia identik dengan papan tulis kosong. Manusia tidak mampu merumuskan ide-ide yang melekat pada dirinya.
Aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulus eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk pendidikan.
Tokoh perintisnya adalah John Locke (1632-1704), seorang filosof Inggris , yang mengembangkan paham Rasionalisme. Teori ini berpendapat bahwa  anak yang lahir ke dunia, ibarat kertas putih yang kosong belum ditulisi atau terkenal dengan Teori “ Tabularasa” (a blank sheet of paper). Istilah Tabulara secara historis artinya meja dilapisi lilin yang digunakan menulis pada masa bangsa Romawi kuno. Teori Tabularasa berpandangan jika manusia lahir merupakan anak yang suci seperti meja lilin (tabularasa). Anak-anak yang lahir dianggap tidak mempunyai bakat dan pembawaan apapun, bagaikan kertas putih yang polos (M. Sukardjo & Ukim Komarudin, 2012: 20). “ Some thoughts concerning education”, bahwa manusia lahir dengan jiwa yang masih kosong, dan jiwa ini terisi oleh ide-ide atau pengertian-pengertian karena pengaruh dari luar melalui proses psichologis sensation dan reflection. Sensation ialah pengalaman (empiri) yang ditangkap oleh indera manusia, sedangkan reflection merupakan pengolahan  hasil kesan indera, di dalam jiwa manusia (Suwarno, 1985:27).
Pada perkembangannya, anak tersebut sangat tergantung kepada asuhan dan pendidikan dari orang tua atau orang dewasa disekellilingnya. Lebih lanjut, teori  empirisme berpendapat bahwa semua anak lahir dalam keadaan sama. Perkembangan anak merupakan hasil belajar dan pengalaman. Seorang anak akan lebih baik dari lainnya karena perbedaan lingkungan yang membesarkannya, memberi bimbingan, kesempatan, dan fasilitas belajar yang memadai akan menjadi anak yang cerdas.  Sementara itu, anak yang tinggal pada keluarga yang kurang memberikan bimbingan, kesempatan dan fasilitas kurang memadai, akan berkembang menjadi anak yang kurang cerdas (I.G.K. Wardani & Siti Julaeha, 2008: 622). Menurut hukum empirisme, pengetahuan dan keterampilan manusia dibentuk oleh pengalaman inderawi dan perlakuan yang diterima oleh anak. Anak laksana biji besi yang mencair, sehingga bisa dibentuk seperti apa saja. Ketika anak agak lemah dalam belajar, dapat diberikan pembelajaran tambahan atau remedial, sehingga akhirnya bisa mumpuni seperti yang dikehendaki (Sudarwan Danim, 2010: 51).
Berkenaan dengan  kegiatan pembelajaran, Teori Empirisme mengemukakan “ Empat Prinsip Belajar “, yaitu:
  • Asosiasi
Menurut Teori Empirisme, pikiran dan perasaan terbentuk melalui asosiasi. Teori ini berpendapat bahwa antara pikiran dan perasaan, selalu terjadi secara bersama-sama. Kita tidak dapat memikirkan sesuatu tanpa memikirkan yang lainnya. Seseorang akan memikirkan dan merasakan sesuatu dalam kaitannya dengan pengalaman yang telah dimilikinya. Misalnya, seorang anak yang pernah jatuh dari tangga, akan dibayangi rasa takut jika melihat tangga, demikian juga siswa yang kesulitan mempelajari soal-soal matematika, akan gelisah jika mengikuti pelajaran matematika.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, guru harus menumbuhkan rasa percaya diri siswa agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan di atas.
  • Pengulangan
Menurut Teori Empirisme, mayoritas tingkah laku individu, terbentuk melalui pengulangan. Kebiasaan anak melakukan kegiatan rutin sehari-hari seperti menyikat gigi sesudah makan, dikarenakan orang tuanya selalu memintanya secara berulang-ulang kepada si anak untuk menyikat gigi.
Gambaran di atas sebagai sebuah ilustrasi jika ingin membentuk kemampaun diri siswa, hendaknya guru sering memberikan latihan-latihan kepada siswanya.
  • Peniruan
Berkenaan dengan proses belajar, Teori Empirisme berpandangan bahwa belajar melalui proses peniruan. Sebagai contoh, seorang anak pandai menirukan iklan dari telivisi. Hal ini sebagai bukti jika anak  dapat belajar dengan cara menirukan tindakan atau perkataan orang lain.
Melihat kenyataan tersebut, orang tua dan guru harus menjadi teladan atau contoh yang baik bagi anak didik. Jika guru menghendaki siswa datang ke sekolah tidak terlambat, maka para guru juga harus memberi teladan bahwa mereka datang ke sekolah juga tidak terlambat.
  • Ganjaran dan Hukuman
Teori Empirisme berpendapat bahwa individu belajar melalui ganjaran (reward) dan hukuman (punisment). seseorang akan melakukan suatu tindakan yang dapat memberikan penghargaan atau pujian dari orang lain, dan akan menghentikan suatu tindakan apabila individu mendapatkan konsekwensi yang tidak menyenangkan. Sebagai ilustrasi, seorang anak akan selalu datang ke sekolah tepat waktu, karena guru-guru sering memujinya sebaliknya, jika mereka datang terlambat akan mendapat hukuman sebagai konsekwensi atas keterlambatannya.


Aliran Empirisme dipandang sebagai aliran yang sangat optimis terhadap pendidikan. Aliran ini hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan (environment), sementara kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan keberhasilan seseorang. Aliran ini percaya, bahwa manusia sebagai makhluk pasif, yang mudah dibentuk atau direkayasa, sehingga lingkungan pendidikan dapat menentukan segalanya (M. Sukardjo & Ukim Komarudin, 2012: 21).
Pandangan Aliran Empirisme ini dikritisi  berbagai  kalangan, karena banyak sekali dalam kenyataan sehari-hari, ditemukan anak yang berhasil dikarenakan memang dirinya mempunyai bakat potensial meskipun lingkungannya kurang mendukung. Keberhasilan anak tersebut, antara lain disebabkan kemauan yang luar biasa, karena menyadari akan kemampuannya. Kesadarannya akan kemampuannya, mendorong dirinya berusaha dan diekspresikan melalui kerja keras dan mencari lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kemampuannya, sehingga anak tersebut berhasil.


  1. Aliran Nativisme
Aliran Nativisme bertolak dari Leinitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap dan pendidikan anak.
Aliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan anak ditentukan faktor keturunan, yaitu faktor-faktor yang telah dibawa anak sejak lahir. Aliran ini menekankan pada kemampuan diri anak, sebaliknya faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan ditentukan oleh pembawaan yang diperoleh sejak kelahirannya. Jika kita memperhatikan Aliran Empirisme, maka Aliran Nativisme merupakan paham yang menentang aliran John Locke. Nativisme berasal dari kata ‘nativs” (Bahasa Latin) berarti “ terlahir” atau “pembawan”. Menurut paham ini, dengan tokohnya filsuf dari Jerman, Schopenhauer (1788-1860) berpandangan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia, telah memiliki pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Pembawaan tersebut ada yang baik dan sebaliknya. Dengan demikian, perkembangan anak tergantung dari pembawaan sejak lahir. Dalam Aliran Nativisme, disimpulkan, keberhasilan anak ditentukan anak itu sendiri (M. Sukardjo & Ukim Komarudin, 2012: 23-24). Pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan anak didik, karena perkembangan manusia ditentukan oleh nativusnya atau pembawaannya (Suwarno, 1985:25). Faktor kodrati diyakini tidak dapat diubah oleh pengaruh  lingkungan atau alam sekitar, termasuk pendidikan (Sudarmin Danim, 2010: 48).
Aliran ini juga berpandangan, manusia yang jahat akan menjadi jahat, sebaliknya yang baik tetap akan menjadi baik. Aliran Nativisme menekankan kemampuan dalam diri anak, sementara itu faktor lingkungan dan pendidikan, kurang berpengaruh terhadap pendidikan anak. Pembawaan sebagai faktor dominan, dalam pandangan aliran ini. Schopenhauer berpendapat bahwa bayi lahir sudah dengan pembawaan baik ataupun sebaliknya. Keberhasilan pendidikan ditentukan  anak itu sendiri. Manusia yang jahat akan menjadi jahat, yang baik akan menjadi baik dengan sendirinya.
Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Hal ini sesuai dengan istilah nativisme dari kata natie yang berarti terlahir. Bagi penganut aliran nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya karena lingkungan tidak berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Meskipun dalam kenyataannya sering kali terjadi, seorang anak secara fisik mirip dengan orang tuanya dan anak juga mewarisi bakat-bakat orang tuanya. Namun pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju kedewasaan.
Dari gambaran di atas dapat disimpulkan, bahwa aliran nativisme berpandangan bahwaanak tumbuh dan berkembangnya, tidak dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan, baik lingkungan sehari-hari maupun lingkungan yang direkayasa oleh orang dewasa, yang dikenal dengan pendidikan. Pendidikan, orang tua dan lingkungan masyarakat tidak berpengaruh terhadap perkembangan anak, karena anak akan berkembang sesuai dengan pembawaannya, bukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar.


  1. Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme, yang berasal dari bahasa Latin, nature artinya alam. Tokoh pendukung aliran naturalisme adalah Jean Jacques Rousseau (1712-1778), seorang filsuf Perancis mengucapkan sesuatu yang terkenal yaitu “ Kembalilah ke Alam”. Ia berpandangan bahwa semua anak yang lahir mempunyai pembawaan yang baik dan tidak ada seorangpun  anak yang lahir dengan pembawaan buruk. Lingkunganlah yang merubah sifat baik yang dibawa sejak lahir menjadi buruk dan rusak.
Jean Jacques Rousseau juga berpendapat  dalam bukunya yang berjudul “Emile” yang menulis sebagai berikut “ Everything is good as it come from the hand of the author of the nature, everything degenerates in the hand of man” artinya “segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam, dan segala sesuatu menjadi jelek atau rusak, manakala ia sudah berada di tangan manusia . Aliran ini juga disebut negativisme, sebuah pandangan negatif tentang manusia karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Kekuatan alam yang akan mengajarkan kebaikan-kebaikan yang terlahir secara alamiah.
Pemikiran Rousseau ingin menjauhkan anak dari aneka perilaku buruk masyarakat, termasuk guru yang serba tidak orisinil (artificial). Dengan demikian, anak-anak akan memperoleh pendidikan dan pembelajaran secara alamiah. Dengan menyerahkan pendidikan anak ke alamnya, pembawaan anak yang  baik tidam berubah menadi rusak akibat intervensi guru dalam proses pendidikan. Pandangan semacam ini disebut nafisme dan fatalisme.
Rousseau berpandangan ekstrim, bahwa kebaikan akan terus diserap setiap anak yang terlahir, secara spontan dan bebas dari rekayasa orang dewasa, sehingga pendidikan atau sekolah tidak perlu diadakan. Ia juga mengusulkan, perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuan-kemampuannya dan kecenderungan- kecenderungannya. Pendidikan harus dijauhkan dari anak karena dapat menjauhkan anak  dari segala hal yang bersifat artificial (hal-hal yang dibuat-buat).
Gagasan naturalisme ini memang bertolak belakang dengan fenomena yang ada. Naturalisme menolak segala campur tangan pendidikan, namun sampai saat ini pandangan tersebut tidak terbukti karena pendidikan semakin lama dan jaman bertambah maju, semakin diperlukan.


  1. Aliran Konvergensi
Aliran Konvergensi  merupakan perpaduan antara teori nativisme dan empirisme. Konvergensi diartikan sebagai titik pertemuan, perkembangan manusia hasil perpaduan kerja sama konvergensi antara faktor bakat dan faktor alam sekitarnya. Aliran Konvergensi dipelopori oleh William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan dari Jeman yang berpandangan bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Proses perkembangan anak, faktor pembawaan maupun faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan sesuai untuk perkembangan anak itu.
William Stern menjelaskan pemahamannya tentang pentingnya pembawaan dan lingkungan, sebagai perumpamaan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan. Teori nativisme dan empirisme mempunyai kekuatan sendiri-sendiri dan kedua teori tersebut mempunyai kebenaran untuk menjelaskan gejala-gejala perkembangan manusia. Kedua teori dipadukan, yang sebelumnya kedua teori tampak bertentangan. Hal inilah yang menjadikan teorinya disebut Konvergensi ( memusat ke titik pertemuan). Menurut teori konvergensi:
  1. pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
  2. pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik, untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
  3. yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan (Umar Tirtarahardja & S.L. La Sulo, 2008: 199).
Hasil pendidikan dan pembelajaran, tergantung dari interaksi antara pembawaan dan lingkungan. Aliran konvergensi ini, pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting atau dominan dalam menentukan tumbuh kembang anak tersebut.
Adanya perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategidisposisional atau konstitusional, strategi phenomenologis atau humanistik, strategi behavioral, strategi psikodinamik atau psikoanalitik, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan belajar mengajar, dimana  variasi pendapat telah menyebabkan munculnya berbagai teori belajar dan model mengajar. Variasi pendapat tersebut melahirkan berbagai gagasan tentang belajar mengajar.

Daftar Pustaka
1. Baharudin & Esa Nur Wahyuni.  2007. Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Ar-Ruz Media
2. Sudarwan Danim. 2010. Pengantar Kependidikan,Bandung, Alfabeta
3. Umar Tirtarahardja & S.L. La Sulo.2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta