Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

HAKIKAT ETIKA FILSAFAT

22.16 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , 1 comment
HAKIKAT ETIKA FILSAFAT
Etika filsafat sebagai  cabang ilmu, melanjutkan kecenderungan seseorang dalam hidup sehari-hari. Etika filsafat merefleksikan unsur-unsur tingkah laku dalam pendapat-pendapat secara sepontan. Kebutuhan refleksi itu dapat dirasakan antara lain karena pendapat etik tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.Etika filsafat dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis, metodis dan sistematis tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma susila atau dari sudut baik atau buruk. Dari sudut pandang normatif, etika filsafat merupakan wacana yang khas bagi perilaku kehidupan manusia, dibandingkan dengan ilmu lain yang juga membahas tingkah laku manusia.Etika filsafat termasuk salah satu cabang ilmu filsafat dan malah dikenal sebagai salah satu cabang filsafat yang paling tua. 
Dalam konteks filsafat yunani kuno etika filsfat sudah terbentuk terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan. Etika filsafat merupakan ilmu, tetapi sebagai filsafat ia tidak merupakan suatu ilmu emperis, artinya ilmu yang didasarkan pada fakta dan dalam pembicaraannya tidak pernah meniggalkan fakta. Ilmu-ilmu itu bersifat emperis, karena seluruhna berlangsung dalam rangka emperis (pengalaman inderawi) yaitu apa yang dapat dilihat, didengar, dicium, dan dirasakan. Ilmu emperis berasal dari observasi terhadap fakta-fakta dan jika ia berhasil merumuskan hukum-hukum ilmiah, maka kebenaran hukum-hukum itu harus diuji lagi dengan berbalik kepada fakta-fakta. Dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain, etika filsafat tidak membatasi gejala-gejala konkret. Tentu saja, filsafat berbicara juga tentang yang konkret, kadang-kadang malah tentang hal-hal yang amat konkret, tetapi ia tidak berhenti di situ.Pada awal sejarah timbulnya ilmu etika, terdapat pandangan bahwa pengetahuan bener tentang bidang etika secara otomatis akan disusun oleh perilaku yang benar juga. Itulah ajaran terkenal dari sokrates yang disebut Intelektualisme Etis. 
Menurut sokrates orang yang mempunyai pengetahuan tentang baik pasti akan melakukan kebaikan juga. Orang yang berbuat jahat, dilakukan karena tidak ada pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika. Makanya ia berbuat jahat.Kalau dikemukakan secara radikal begini, ajaran itu sulit untuk dipertahankan. Bila orang mempunyai pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika, belum terjamin perilakunya baik. Disini berbeda dari pengalaman ilmu pasti. Orang-orang yang hampir yang tidak mendapat pendidikan di sekolah, tetapi selalu hidup dengan perilaku baik dengan sangat mengagumkan. Namun demikian, ada kebenarannya juga dalam pendapat sokrates tadi, pengethuan tentang etika merupakan suatu unsur penting, supaya orang dapat mencapai kematangan perilaku yang baik. Untuk memperoleh etika baik, studi tentang etika dapat memberikan suatu kontribusi yang berarti sekalipun studi itu sendiri belum cukup untuk menjamin etika baik dapat terlaksana secara tepat.Etika filsafat  juga bukan filsafat praktis dalam arti ia menyajikan resep-resep yang siap pakai. 
Buku etika tidak berupa buku petunjuk yang dapat dikonsultasikan untuk mengatasi kesulitan etika buruk yang sedang dihadapi. Etika filsafat merupakan suatu refleksi tentang teman-teman yang menyangkut perilaku. Dalam etika filsafat diharapkan semuah orang dapat menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, kewajiban, dan keutamaan.Di kalangan orang-orang kebanyakan, sering kali etika filsafat tidak mempunyai nama harum. Tidak jarang ia dituduh mengawang-awang saja, karena membahas hal-hal yang abstrak dan kurang releven  untuk hidup sehari-hari. Banyak uraian etika filsafat dianggap tidak jauh dari kenyataan sesungguhnya. Itulah hakikat filsafat mengenai etika. Disini tidak perlu diselidiki sampai dimana prasangka itu mengandung kebenaran. Tetapi setidak-tidaknya  tentang etika sebagai cabang filsafat  dengan mudah dapat disebut dan disetujui relevansinya bagi banyak persoalan yang dihadapi umat manusia. (M. Yatimin Abdullah: 2006).Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. 
Etika tidak memberikan ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan kerancuan (kekacauan). Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral yang dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral, sedangkan kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakkan manusia dilihat dari segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. (Surajiyo: 2005)
Daftar Pustaka :
Asmoro Achmadi.2011.Edisi Revisi-Filsafat Umum. Jakarta: Rajawali Pers2. 

Senin, 19 Desember 2016

AKAL DAN HATI PADA ZAMAN PASCAMODERN

23.16 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
 Akal dan Hati pada Zaman Pascamodern

Kritik filsafat pascamodern terhadap filsafat modern terungkap dalam istilah dekonstruksi seperti yang digunakanpara tokoh filsafat pascamodern. Yang didekonstruksi tentu saja rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh isi kebudayaan dunia barat. Beberapa tokoh dalam filsfat pascamodern yaitu Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgenstein. Mengapa filsafat rasionalisme perlu didekonstruksi kemudian karena ia merupakan filsafat yang keliru dan juga keliru cara menggunakannya. Gara-gara rasionalisme dan kekeliruan dalam menggunakan rasionalisme itulah budaya barat hancur. Bila hubungan natara hati dan akal manusia telah diputusan maka manusia akan memperoleh kenyataan bahwa pertanyan tentang rumusan hidup ideal tidak pernah akan terjawab. Memilih sains dan teknologi sebagai satu-satunya gantungan hidup, atau meletakkan sains dan teknologi sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam kehidupan, berarti kita telah menyerahkan kehidupan manusia kepda alat yang dibuatnya sendiri. Paham posivistik memang akan bermuara pada sikap sekularistik seperti itu.
Tiga dasa warsa terakhir menjelang berakhirnya abad ke 20, terjadi perkembangan bau yang mulai menyadari bahwa manusiaa selama ini telah salah dalam menjalani kehidupannya. Manusia mulai merindukan dimensi spiritual yang telah hilang dari kehidupannya. Di dunia ilmu muncul pandangan yang menggugat paradigma positivistik. Tokoh seperti Khuntelah mengisyaratkan adanya upaya pendobrakan tatkala ia mengatakan bahwa kebenaran ilmu bukanlah suatu kebenaran sui generis (objektif). Dengan mengatakan itu, berarti Kuhn telah menyerang jantungnya positivisme yang menjadikan rasionalisme sebagai andalan satu-satunya.

Haedar Nashir, dalam Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern (1990) mengungkapkan segi menarik pada krisis manusia modern. Bagaimana pendewasaan rasio manusia telah menjerumuskan manusia pada sekularisasi kesadaran dan menciptakan ketidakberartian hidup. Penyakit mental justru menjadi penyakit zaman seperti keserakahan, saling menghancurkan, sekularisasi kebudayaan, dan ada juga pencarian makna hidup. Tetapi akhirnya untuk mencapai tujuan hidup manusia modern justru melakukan kekerasan. Kekerasan itu amat mungkin berkembang karena adanya pandangan bahwaa ukuran keberhasilan seseorang adalah sejauh mana ia mampu mengumpulkan materi dan simbol-simbol lahiriah yang bersifat formal.

Syafi’i Ma’arif dalam kata pengantar buku Haedar Nashir itu menyatakan bahwa modernisme telah gagal karena telah mengabaikan nillai-nilai spiritual transendental sebagai fondasi kehidupan. Akibatnya, dunia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dal membangun peradaban. Dari analisis filsafat dan sejarah kebudayaan kita mengetahui bahwa budaya barat disusun dengan menggunakan hanya satu paradigma, yaitu paradigmasains. Paradigma ini disusun berdasarkan warisan Descartesdan Newton.
Proseskehancuran budaya barat yang dijelaskan Capra yakni sebagai berikut:
1. Rasionalisme
2. Cartesian dan Newtonian
3. Paradigma Sains yang Tunggal
4. Budaya Barat
5. Kehancuran (kacau, penuh kontradiksi)
Dibutuhkan tiga paradigma (masing-masing untuk budaya sains, seni, dan etika) untuk merekayasa kembali budaya dunia, ketiga paradigma itu diturunkan dari Islam. Filsafat pascamodern tidak puas terhadap rasionalisme, karena itu rasionalisme harus didekonstruksi, dan harus direkonstruksi filsafat baru.

Daftar Pustaka :  

Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA

KESEIMBANGAN INDERA, AKAL DAN HATI

23.01 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Keseimbangan Indera, Akal dan Hati

Kemantapan hidup hanya ditentukan oleh dua hal, yaitu kaidah sains dan filsafat di satu pihak dan akidah agama dipihak lain. Kedua-duanya telah diragukan pada masa sofisme. Tentu saja kehidupan menjadi kacau karena sistem nilai telah kacau. Pada abad pertengahan, terutama sejak tahun 200-an, akal kalah total dan iman menang mutlak. Keadaan ini seharusnya telah dapat diperhitungkan sebelum terjadi. Dapat dipahami mengapa baik Socrates maupun Kant mati-matian menghentikan relativisme kebenaran. Pendapat yang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif (termasuk agama) adalah pendapat yang sangat berbahaya. Konsekuensi pandangan ini ialah kekacauan (chaos). Karena sains itu relatif, maka tidak akan ada kebenaran yang dapat dipegang (dipercaya) bersama. Salah satu akibatnya ialah tidak akan ada sesuatu yang menjadi tali pengikat dalam hubungan-hubungan sosial.

Untuk membuktikan kerelatifan filsafat, cukup dilihat andalan kebenaran filsafat. Andalan kebenaran filsafat ialah kelogisan argumennya. Bila Kant ingin menegakkan sains dengan meletakkan dasar-dasarnya pada kebenaran yang bersifat a priori, sedangkan a priori itu berada di dalam daerah filsafat, jadi bersifat relatif, maka pelacakan kebenaran sains akan berakhir pada jalan buntu. Yang ditemukan pada akhirnya ialah sains yang relatif juga. Manusia membawa sejak lahir (innate) kata hati(suara hati) yan bersifat imperatif. Suara hati itu ialah suara yang selallu mengajak menjadi orang  yang baik. Puncak kebaikan itu adalah Tuhan. Menurut Al-Syaibani, manusia mempunyai tiga kekuatan atau potensi yang sama pentingnya, laksana sebuah segitiga yang sisi-sisinya sama panjang. Potensi yang dimaksud ialah jasmani, akal, dan roh. 

Kemajuan kebahagiaan, dan kesempurnaan kepribadian manusia banyak bergantung pada keselarasan ketiga potensi itu. Islam, menurut Al-Syaibani, tidak hanya mengakui adanya ketiga potensi tersebut, tetapi juga meneguhkannya dan memantapkan wujudnya. Manusia bukan hanya jasmani, bukan hanya akal dan bukan hanya roh. Manusia adalah kesatuan semua itu yang saling melengkapi kesempurnaan manusia.
Islam tidak dapat menerima materialisme yang mengajarkan benda terpisah dari roh, atau sebaliknya spiritualisme yang mengajarkan roh sama sekali terpisah dari benda. Islam tidak membenarkan akal berkuasa merajalela sehingga menjadikan pengetahuan yang diperoleh akal menjadi tidak terkendali. 

Islam berpendapat bahwa manusia hanya mungkin maju bila terjadi perkembangan yang harmonis antara jasmani, akal, dan roh. Sebenarnya di dalam hidup ini indera, akal, dan hati harus diperhatikan sekurang-kurangnya sama besar kalau tidak dapat  dikatakan hati lebih dipentingkan untuk diperhatikan. Bila ingin sempurna, manusia harus didominasi secara seimbang oleh indera, akal, dan rasa. Potensi itu masing-masing harus mendapat latihan secara serentak dan seimbang. Bila salah satu  telah mendominasi lebih dari yang lain, maka kehidupan mulai terancam, sejarah telah memperlihatkan hal itu. 

Manusia yang baik ialah manusia yang jasmani, akal, dan kalbunya berkembang secra seimbang di dalam tuntunan ajaran Tuhan Yang Maha Pintar.

Daftar Pustaka :

Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung     : PT REMAJA ROSDAKARYA

AKAL DAN HATI PADA ZAMAN MODERN

22.43 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Akal dan Hati Pada Zaman Modern

Banyak orang yang jengkel oleh dominasi gereja. Rene Decrates jelas bertujuan untuk melepaskan filsafat dari kekangan gereja, terlihat dari argumen Cogito yang terkenal. Setelah itu, banyak bermunculan filsof-filsof yang lain. Akal yang dikekang selama kira-kira 1500tahun itu sekarang berpesta pora merayakan kebebasannya. Akal menang lagi. Akan tetapi, silanya, sofisme Yunani terulang lagi. Sofisme modern, cirinya kebenaran itu relatif. Alasan adanya sofisme, yaitu pertama sesungguhnya tidak ada perbedaan yang esensial antara sofisme dan skeptisisme sekurang-kurangnya dalam akibat pemikiran itu. Kedua, agar lebih mudah mengikuti alur sistem yang dikemukakan dalam tulisan in, terutama sejak Thales hingga Capra.
Sofisme pertama ialah suasana pemikiran yang dihadapi oleh Socrates. Tokoh-tokoh utamanya ialah Parmanides dan Gorgias. Sofisme kedua atau sofisme modern ialah suasana pemikiran yang dihadapi oleh Kant.
Renaissance
Merupakan istilah Prancis. Dalam bahasa latin, re-nasvi berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad 15  dan 16. Mula-mula istilah ini digunakan oleh sejarahwan terkenal, Michelet, dan dikembangkan oleh J. Burckhardi (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia,sebagai periode yang dilawankan dengan periode pertengahan. Ciri utama dari renaissance ialah humanisme, individualisme, lepas dari agama(tidak mau diatur oleh agam), empirisme dan rasionalisme.

Rasionalisme
Pada bagian ini dibicarakakn pemikiran pokok Descartes, Spinoza, dan Leibnis. Merupakan tokoh besar dalam filsafat rasionalisme. Rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memproleh dan mengetes pengetahuan. Jika empiris memengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris,maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis (logika).
Rasionalisme ada dua macam, yaitu rasionalisme dalam bidang agama dan rasionalisme dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas, dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme. Rasionalisme dalam bidang agama biasanya digunakan unuk mengkritik ajaran agama, sedangkan dalam bidang filsafat berguna sebagai teori pengetahuan.

Idealisme objektif
Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam ketergantungannya pada jiwadan spirit. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Plato sring disebut sebagai seorang idealis sekalipun ideanya tidak khusus (spesifik) mental, tetapi lebih merupakan objek universal.


Idealisme Theist- Pascal.
Ada dua cara memperoleh pengetahuan menurut Pascal, pertama dengan menggunakan akal, Dan yang kedua dengan menggunakan hati.

- Immanuel Kant
Sejarah filsafat adalah sejarah pertarungan akal dan hati (iman) dalam berebut dominasi mengendalikan jalan hidup manusia. Menurut Kant, semua planet sudah atau akan dihuni, dan planet-planet yang jauh dari matahari akan mempunyai masa berkembang lebih panjang, barangkali dihuni oleh spesies yang lebih cerdas dibandingkan dengan penghuni kita ini. 
Penemuan Kant yang penting ialah bahwa dunia luar itu kita ketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa bukan sekadar tabula rasa,jiwa itu alat yang positif, memilih dan merekonstruksi hasil sensasi yang masuk.

Empirisisme
Empirisisme adalah suatu dktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.

Pragmatisme
Pragmatisme merupakan realitas sebagaimana yang kita ketahui. Sebenarnya istilah pragmatise lebih hanya berarti sebagai metode untuk memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.

Eksistensialisme
Filsafat selalu lahir dari suatu krisis yang berarti penentuan. Filsafat ialah perjalanan satu krisis ke krisislain.  Ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat meninjau kembali dirinya. Sifat materialisme merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme.  Yang dimaksud dengan eksistensi  ialah cara orang berada di dunia.


Daftar Pustaka :
Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA

AKAL DAN HATI PADA ABAD PERTENGAHAN

22.30 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Akal dan Hati Pada Abad Pertengahan

Plotinus (204-270)
Ajaran Plotinus atau Ployinisme erat kaitannya dengan ajaran Plato, yakni menganut realitas idea. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendens. Menurut pendapatnya, di dalam pikiran terdapat tiga realitas, yakni the one, the mind, dan the soul. The one (Yang Esa) adalah Tuhan dalam pandangan Philo, yaitu suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Ia berada di luar eksistensi, di luar segala nilai. The mind merupakan gambaran dari Yang Esa dadi dalamnya mengandung idea-idea Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asliobjek-objek.The soul, teori ini adalah realitas ketiga dalam filsafat Plotinus. Sebagai arsitek semua fenomena yang ada di alamini, soul itu mengandung satu jiwa dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, ia adalah energi di belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta. Jiwa manusia juga mempunyai dua aspek, yang pertama intelek yang tunduk pada reinkarnasi, dan yang kedua adalah irasional.


Augustinus (354-430)
Alih-alih akal dan pemikiran kritis diambilnya keimanan, alih-alih manusia dan kemampuannya diambil kedaulatanTuhan. Intelektualisme tidak penting dalam sistemnya, yang penting ialah cinta kepada Tuhan (Mayer, 357).Setiap pengertian tentang kemungkinan pasti mengandung kesungguhan. Bila orang menganggap bahwa suatu doktrin adalah sebuah kemingkinan, ia harus menganggap bahwa di dalam doktrin itu ada kebenaran. Bila orang ragu bahwa dia hidup, tentu ia benar-benar hidup.
Ia berpendapat bahwa tugas manusia adalah memahamii gejala kenyataan yang selalu berubah. Mengenai penciptan jiwa, penempatannya di dalam badan bukan hasil atau akibat kejatuhannya, melainkan memang kewajaraan atau naturnya jiwa itu bertempat dalam badan jasmani. Jiwa tidak ada tanpa badan, akan tetapi jiwa tidak bergantung pada badan. Jiwa lebih tinggi daripada badan, lebih hakikat daripada badan.

Anselmus(1033-1109)
Ia mendahulukan iman daripada akal. Ia mengatakan bahwa wahyu harus diterima lebih dulu sebelum kita mulai berpikir. Dalam membuktikan adanya Tuhan, Anselmus menjelaskan lebih dulu bahwa semua konsep adalah relatif. Karena di dalam makhluk kesempurnaan itu bervariasi, maka kesempurnaan universal haruslah ada. Menurut pendapatnya, makhluk terbatas ini tidaklah menciptakan diriny sendiri, mereka memerlukan pencipta, itu adalah Tuhan. Lebih jauh, semua makhluk memiliki sejumlah kebaikan, itu menunjukkan adanya kebaikan maha tinggi yang di sana semua makhluk berpartisipasi.
Teori pengetahuan Anselmus menyatakan bahwa pengetahuan dimulai dari penginderaan,lalu terbentuklah pengetahuan akliah, terakhir adalah menangkap kebesaran Tuhan melalui jalur mistik, kebaikan tertinggi bagi manusia ialah perenungan tentang kebesaran Tuhan.

Thomas Aquinas (1225-1274)
Pandangannya tentang pengetahuan dipengaruhi oleh keyakinannya bahwa Tuhan adalah awal dan akhir segala kebijakan. Secara singkat alam semesta ini dalam pandangan Aquinas dibagi kedalam lima kelas, yakni realitas anorganis, realitas animal, realitas manusia,realitas malaikat, dan realitas Tuhan.
Aquinas berpendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dari tiada, sekaligus, jadi berlawanan dengan teori Darwin. Dalam mencipta itu Tuhan tidak dipengaruhi oleh apapun, karena itu ia tidak memerlukan penciptaan secara evolusi. Menurut Aquinas, alam ini tidak kekal. Sekalipun demikian, menurut pendapatnya akal tidak dapat membuktikan apakah alam ini kekal ataukah tidak kekal.


Daftar Pustaka : 
Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA

AKAL DAN HATI PADA ZAMAN YUNANI KUNO

22.28 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Akal dan Hati Pada Zaman Yunani Kuno
Ciri-ciri umum filsafat Yunani adalah rasionalisme. Rasionalisme mencapai puncaknya padaorang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu dipahami lebih dulu latar belakangnya. Latar belakang itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya, yaitu pemikiran-pemikiran Tahles, Anaximander, Heraclitus, Permanidus, Zeno, Protagoras, Gorgias, Socrates, Plato dan Aristoteles
Thales
Digelari bapak filsafat karena ialah orang yang pertama kali berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang mendasar yang jarang diperhatikan orang jaman sekarang. “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?”. Terlepas dari apapun jawabannya, pertanyaan ini saja sudah bisa mengangkatnya menjadi filosof pertama. Ia sendiri menganggap air sebagai bahan alam semesta karena air sangat diperlukan dalam kehidupan. Dan menurut pendapatnya, bumi ini terapung di atasair. Bahkan jawabannya sendiri tidak lebih berbobot dibandingkan pertanyaannya.Pertanyaannya pun ia jawab menggunakan akal, bukan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya. Di sini akal mulai digunakan, lepas dari keyakinan.
Anaximander
Ia mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya. Anaximenes mengatakan itu udara. Udara merupakan sumber segala kehidupan, begitulah alasannya.

Heraclitus
Paham relativisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus menyatakan “kamu tidak dapat terjun ke sungai dua kali karena air sungai itu selalu mengalir”. Menurutnya, alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah. Sesuatu yang dingin menjadi panas, dan yang panas menjadi dingin. Implikasi pernyataan ini amat hebat. Pernyataaan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah,tidak tetap. Hari ini 2+2 =4 besok  bisa saja bukan empat. Pandangan ini merupakan warna dasar filsafat sofisme.

Paramanides
Paramanides yang lahir kira-kira tahun 450 SM dikatakan sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat. Bahkan disebut filosof pertama dalam pengertian modern. 
Ia bertanya: “apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas?” bagaimana hal itu dapat dipahami?” 
Ia menjawab:
Ukurannya ialah logika yang konsisten. Perhatikan contoh berikut:
Ada 3 cara berpikir tentang tuhan. (1) ada,  (2) tidak ada, (3) ada dan tidak ada. Yang benar ialah (1) tidak mungkin meyakini yang tidak ada (2) sebagai ada karena yang tidak ada pastilah tidak ada. Yang (3) pun tidak mungkin karena tidak mungkin tuhan itu ada sekaligus tiak ada. Jadi benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Ukuran kebenaran adalah akal manusia, ukuran kebenaran adalah manusia. 

Protagoras
Ia menyatakan bahwa manusia adalah ikuran kebenaran. Ia menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat pribadi, akibatnya tidak ada ukuran yang absolut dalam etika,metafisika, maupun agama. Bahkan menurutnya teori-teori matematika juga tidak mempunyai kebenaran yang absolut.

Gorgias
Georgias datang ke Athena 427 SM dari Leontini. Ada tiga proporsi yang diajukan Gorgias. Yang pertama adalah tidak ada yang ada. Maksudnya realitas itu sebenarnya tidak ada. Kedua, bila sesuatu itu ada,ia tidak akan dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Akal menurutnya tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semeta ini karena kita telah dikungkung oleh dilema subjektif. Kita berpikir sesuai dengan kemauan, ide kita yang kita terapkan pada fenomena. Proporsi yang ketiga adalah sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Socrates
Ia memulai filsafatnya dengan bertolak dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ada kebijakan objektif yang tidak bergantung kepada saya atau kepada kita hari ini. Untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif,  Socrates melakukan metode-metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dilakukan dengan percakapan-percakapan. Ia kemudian menganalisis pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat tentang salah dan tidak salah misalnya. Sering kali percakapan itu berakhir dengan kebingungan, tapi tak jarang dialog itu menghasilkan definisi yang berguna.Metode yang digunakan Socrates biasa disebut dengan dialektika. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisinya, Socrates bisa membuktikan kepada orang sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi itu.
Plato
Menurut Plato, kebenaran umum itu bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif, tapi pengertian umum itu sudah ada “di sana” di alam idea.

Aristoteles
Bila orang-orang sofis banyak yang menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran, maka Aristoteles menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran. 


Salah satu teori metafisika Aristoteles  yang penting ialah pendapatnya yang mengatakan bahwa form dan matter itu bersatu.  Matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungkusnya. Setiap objek terdiri atas form dan matter. Namun ada substansi yang murni form tanpa adanya matter yaitu Tuhan.  Aristoteles percaya adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan adalah Tuhan sebagai penyebab gerak. Tuhanmenurut aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan (memperdulikan) alam ini. Ia bukan pesona, ia tidak memperhatikan doa dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah berharap Tuhan mencintai kita. ia adalah kesempurnaan tertinggi dan kita mencontoh ke sana untuk perbuatan dan pikiran-pikiran kita.

Daftar Pustaka:
Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA


ANALISIS BUKU FILSAFAT ILMU

22.11 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Judul Buku      : FILSAFAT ILMU
Penulis             : PROF. DR. AMSAL BAKHTIAR, M.A.
Penerbit           :PT RAJAGRAFINDO PERSADA
Tahun terbit     : 2004
Agama, ilmu, dan masa depan manusia
Ilmu pengetahuan dari masa ke masa mengalami perubahan terhadap apa yang dianggap sebagai kebenaran yang hakiki. Berbagai tahapan pengetahuan serta ragam jenis sumber pengetahuan pun berkembang dimulai dari adanya filosofi alam hingga berkembangnya rasionalitas. Begitupun dengan agama dimulai adanya agama yang katanya bersifat kuno hingga bersifat modern yang membawa dampak tersendiri bagi agama tersebut. Dengan demikian agama dan ilmu dalam berberapa hal memang berbeda namun pada sisi tertentu memiliki kesaman. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual), cenderung eksklusif dan subjektif. Sedangkan ilmu selalu mencari yang baru, tidak terlalu terikat dengan etika, progresif, bersifat insklusif dan objektif. Walaupun begitu antara agama dan ilmu memiliki persamaan, yaitu bertujuan memberi ketenangan dan kemudaan bagi manusia.
Agama memberikan ketenangan dari segu batin karena ada janji kehidupan setelah kematian, sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia. Agama mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, hamper semua kitab suci menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu sebanyak mungkin.
Karakteristik agama dan ilmu tidak selalu harus dilihat dalam konteks yang bersebrangan, tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana keduanya bersinergi dalam membantu kehidupan manusia yang lebih layak. Seperi semakin berkembangnya ilmu maka semakin banyak pula problema yang datang mengiringinya. Tak hanya ilmu namun agama pun mendapat tantangan dari rasionalitas manusia yang telah membuktikan diri mampu mengubah penampilan dunia fisik. Perwujudan kearifan religious yang unspeakable dikalahkan oleh rasionalitas yang senantiasa melihat persoalan secara teknis sebatas alam fisik. Pada tingkat praktis, ‘agama kuno’ memiliki apresiasi terhadap kehidupan yang lebih baik dan ini mengacu kepada jiwa yang lebih ksatria dan mulia, sedangkan agama ;modern’ mewakili sikap egoistis manusia terhadap lingkungannya jika bukan memamerkan cara mengesahkan keserakahan, sekedar untuk tidak dianggap kuno ataupun ketinggalan zaman.
Kemudian semangat yang berlebihan dalam beragama justru akan merugikan dan merusak makna agama itu sendiri. Di satu pihak penerapan rasionalitas dalam agama yang dilakukan oleh mereka yang ingin memodernisasi agama agar sesuai dengan kemajuan zaman atau berpretensi untuk membersihkan agama dari berbagai bid’ah akan memiskinkan agama sekadar pelayan materialism, karena rasionalitas hanya dapat bekerja pada wilayah logis yang speakble dan bukan wilayah reflektif dari pengetahuan manusia dimana wilayah rasionalitas harus bekerja dua kali dan dengan demikian mengingkari dirinya. Di pihak lain, religiusitas tidak dapat direalisasi secara paksa karena hanya akan memuaskan perasaan manusia belaka. Dan visualisasi yang bagaimanapun tentang Tuhan hanya menghasilkan patung Tuhan.
Ilmu dapat dilumpuhkan oleh biasnya sendiri. Sebagai mana juga agama. Di dunia Barat dewasa ini tujuan ilmu adalah menjelaskan alam fisik, sementara tujuan agama adalah menjelaskan alam spiritual. Seharusnya sinergi agama dan ilmu dalam konteks ini dapat dilakukan demi terwujudnya keseimbangan peradaban manusia. Sebab demi terwujudnya keseimbangan peradaban manusia, masing-masing pihak masih tetap mempertahankan ego, maka masa depan umat manusia tidak dapat diramalkan, bahkan akibatnya jauh lebih dahsyat daripada kehancuran perang dunia ke II. Maka disnilah ilmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit tetapi haus dilihat dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan kehidupan yang lebih abadi.
Begitulah isi dari buku Filsafat Ilmu karya Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A yang menjelaskan bagaimana perkembangan ilmu dan kaitannya dengan agama di masa depan. Dimana buku ini memiliki bahasa tulisan ataupun gaya tulisan yang mudah dipahami sehingga bagi para pemula pembelajar filsafat dapat memahami konsep-konsep yang diberikan secara utuh sehingga itu kemudian menjadi kelebihan dari buku ini ditambah dengan penjelasan yang dipaparkan pun dijelaskan secara gamblang dan sedikit sekali penggunaan kosa kata yang menyulitkan bagi pembaca. Namun dibalik kelebihannya itu pembahasan mengenai perkembangan ilmu dalam buku ini hanya menawarkan sedikit konsep jika dibandingkan dengan buku filsafat ilmu yang lain sehingga pembaca yang telah memiliki pengalaman membaca filsafat ilmu dari sumber yang lain merasa kurang dikarenakan sedikitnya pembahasan konsep yang ditampilkan.

Jika dianalisa dengan dua buku sebelumnya yakni buku Immanuel kant mengenai akal budi dan buku filsafat umum akal dan hati sejak Thales hingga Capra,penulis menyajikan tulisan bernada sama dengan dua buku sebelumnya dimana dua buku sebelumnya menyebutkan perlu adanya berimbang antara ilmu (akal) dengan agama (hati) dimana dengan adanya keseimbangan antara ilmu dan agama akan membawa kepada peradaban yang lebih baik dan jika dominan salah satunya ataupun keberpihakan masyarakat terhadap ilmu atau agama saja maka akan terajadi hal yang lebih buruk dari perang dunia ke II dimana pada era modern seperti sekarang ini kemujan ilmu dan teknologi sendiri pun dianggap sebagai suatu kebaikan terhadap peradaban manusia sehingga kini pun banyak individu yang kemudian cenderung memilih terdapat satu sisi antara agama atau ilmu ini. Padahal sebagaimana yang dijelaskan oleh kant sendiri pun sains tidak dapat sepenuhnya memberikan keutuhan kebenaran walaupun sains memberikan jawaban terhadap apa yang bersifat empiris. Penting adanya peranan hati dalam kebaikan kehidupan manusia. Begitu pun dijelaskan dalam buku filsafat umum akal dan hati di jalur timur, jelas menjabarkan keberpihakan al-quran pun menghargai akal dan memerlukan hati dalam kehidupan manusia sehingga kelak di masa depan pun perlu adanya keteraturan antara agama dan ilmu. 

ANALISIS BUKU FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA

22.05 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Buku               : FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA
Penulis             : PROF. DR. AHMAD TAFSIR
Penerbit           :PT REMAJA ROSDAKARYA
Tahun Terbit    : 2008
Jika menilik pada pemikiran Kant terkait akal dan hati yang memiliki kesinambungan diantara keduanya. Yang jika melihat sejarah akal dan hati pada pemikiran jalur barat seperti Kant ini memiliki perbedaan dengan pandangan akal dan hati di jalur timur yaitu dunia islam. Dimana dalam buku kedua mengenai FILSAFAT UMUM akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, terdapat perbedaan mengenai akal dan hati yakni dari segi waktu dan sifat dominasinya. Dimana akal sedang kalah total di Barat, seperti misalnya dalam abad pertengahan namun di Timur akal sedang dihargai. Hal ini berkaitan dengan waktunya. Sedangkan mengenai sifat dominasinya, akal di Timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup sehingga menyebabkan orang islam meninggalkan agama, lalu mengambil materialism dan ateisme. Sedangkan barat dominasi akan terlalu besar sehingga orang akan mengambil materialism dan ateisme sementara hati, ketika mendominasi akal secara total akan ditentang. Dalam hal dominasi ini bertolak belakang dengan pernyataan Kant dimana ia menyebutkan bahwa dalam memahami agama akal dan sains tidak dapat diandalkan maka selanjutnya morallah yang dapat menjawabnya. Sehingga antara Kant dan dominasi ini terdapat perbedaan penempatan akal dan hati dimana dominasi timur lebih kepada keberpihakan terhadap satu hal baik akal ataupun hati yang kemudian mendominasi. Namun menurut Kant akal dan hati ini diperlukan atau sama-sama menang.
Terdapat perbedaan antara pemikiran rasional (filsafat) dan rasa (tashawwuf) atau jalur hati (rasa), yang diantaranya ada yang bersiat prinsip. Akan tetapi perbedaan itu tidak menyebabkan ada orang islam yang didominasi oleh akal secara total sebagaimana halnya tidak ada juga orang islam yang didominasi oleh hati (rasa) seratus persen. Buktinya ialah tidak ada filosof maupun sufi islam yang meninggalkan iman, apalagi sampai mengambil paham materialisme atau atheism. Penghargaan terhadap Al-qur’an pada akal dan hati ini tidak menimbulkan akibat seperti di Barat. Jadi penghargaan pada akal di Barat dan di Timur sama-sama membawa akibat berkembangnya filsafat rasional, tetapi tidak sama kekuatan dominasinya terhadap jalan hidup manusia. Adanya pembahasan dominasi ini menilik pada beberapa abad yang terjadi adanya kemenangan terhadap satu hal saja misalnya hati atau akal semata. Dalam dunia barat yakni kitab suci Kristen memang tidak memberikan ruang bagi penggunaan akal berbeda dengan kitab suci Al-Quran yang menghargai akal dan hati sehingga terjadi pula perbedaan dominasi diantara keduanya.
penghargaan terhadap hati di barat dan timur sama-sama mengembangkan mistisisme, tetapi di barat sampai menjauhi filsafat, sedangkan di Timur tidak berakibat menjauhi akal. Mengapa demikian ? Karena Kitab Suci Islam (Al-Qur’an) menghargai akal dan hati, sedangkan kitab suci kristen memang tidak memberi tempat bagi penggunaan akal. Pertengahan anatara akal dan hati (iman) memang terjadi juga di dalam islam, tetapi tidak sehebat di Barat. Di Timur filosof ada yang benar-benar mengambil paham materialisme dan atau ateisme. Di dalam islam perbedaan antara filosof dan sufi hanyalah perbedaan visi dalam menafsirkan Kitab Suci; orang-orang filsafat umumnya menggunakan takwil kearah rasio sementara orang-orang tashawwuf juga menggunakan takwil, tetapi ke arah rasa. Perkembangan itu tidak meyebabkan gejolak yang berarti didalam islam. Gejolak ada juga sedikit seperti terlihat pada buku Al-Ghazali. Jadi, perbedaan dominasi itu, sekalipun tidak total, tetap ada merugikan Islam dan umat Islam.
Filosof menafsirkan kitab suci terlalu didominasi oleh akal rasional; metode dan ukurannya ialah logika. Dari cara ini muncul pendapat mereka yang sepintas seperti berlawanan dengan teks Kitab Suci. Nasution (1989:44-45) mengutip Al-Ghazali, menerangkan bahwa ada sepuluh pendapat filosof yang dianggap menyimpang dari Islam, menurut Al-Ghazali, yaitu : (1) Tuhan tidak mempunyai sifat, (2) Tuhan mempunyai substansi sederhana dan tidak mempunyai hakikat (mahiyah), (3) Tuhan tidak mengetahui partikular (Juz’iyyat), (4) Tuhan tidak dapat diberi sifat genus dan diferentia, (5) planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan, (6) jiwa planet mengetahui Juz’iyyat, (7) Hukum alam tidak dapat berubah, (8) pembangkitan jasmani tidak ada, (9) alam ini qadim, dan (10) alam ini kekal. Tiga diantara kesepuluh pendapat itu, menurut Al-Ghazali, membawa kepada kekufuran, yaitu (1) alam qadim (tidak mempunyai permulaan), (2) Tuhan tidak mengetahui partikular, dan (3) pembangkitan jasmani tidak ada.
Pemikiran rasional itu mungkin saja dapat menimbulkan akibat negatif bagi Islam dan umat Islam, tetapi mungkin juga Al-Ghazali yang benar bahwa pendapat itu dapat membawa kepada kekufuran. Akan tetapi, pemikiran rasioanal itu ternyata telah menunjang perkembangan budaya dalam Islam. Perkembangan itu terutama terjadi setelah abad ke-8 sampai dengan abad ke-13. Pada masa-masa ini berkembanglah penerjemahan karya yunani ke dalam bahasa Arab atas dorongan khalifah Al-Manshur dan Harun al-Rasyid, kemudian al-Ma’mun. berdirilah perguruan Bait al-Hikmah yang selain sebagai pusat penerjemahan, juga menjadi pusat pengembangan filsafat dan sains.
Kepala penerjemah di Bait al-Hikmah ialah Hunain Ibn Ishaq al-‘Ibadi (809-877), orang nasrani. Mereka menerjemahkan buku-buku yunani seperti karya Galen, Hipokrates, Ptolemeus, Euklid, dan Aristoteles. Yang mencakup pengetahuan filsafat, kedokteran, matematika, fisika, mekanika, botani, optika, astronomi, dan lain-lain. Gerakan penerjemahan ini berlangung selama tahun 750-900. Hasilnya ialah berkembangnya ilmu hitung, ilmu ukur, al-jabar, ilmu falak, kedokteran, kimia, ilmu alam, geografi, sejarah, dan bahasa serta sastra Arab di samping filsafat itu sendiri, terkenallah nama-nama besar seperti Al-Biruni (973-1048), Umar al-Khayyam (1048-1123), Ibn Musa al-Khawarizmi(780-850), Zakaria Ar-Razi (865-925), dan Ibn Sina (filosof dan dokter) (980-1037). Buku-buku ini kelak yang mempengaruhi Barat menuju modernisasinya.
Uraian selintas itu memperlihatkan bahwa penghargaan Al-Qur’an kepada akal telah menimbulkan kemajuan yang amat penting, itu adalah akibat yang positif. Akibat negatif juga ada, antara lain, Al-Qur’an cenderung dirasionalkan. Akibat yang lain adalah rasa beragama yang dangkal, beragama terasa kering, maka kesungguhan beragama akan kurang, dengan kata lain, agamanya kurang kuat.
Berkembangnya pemikiran rasional (filsafat) dalam islam memperoleh dorongan dari dua sumber : dari Al-Qur’an dan dari luar Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diterima kebenarannya sehingga ia amat berwibawa. Berbeda dari kitab suci kristen, kitab suci yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw, amat menghargai akal. Kata arab yang dapat berarti “kegiatan pikir” cukup banyak terdapat di dalam Al-Qur’an.
Dalil-dalil naqli itu mempunyai kekuatan yang amat dahsyat mendorong orang islam untuk menggunakan dan mengembangkan akalnya. Hasilnya, seperti dapat dilihat dalam sejarah, ialah berkembangnya pengetahuan rasional (filsafat) dan sains dalam islam. Filsafat yunani (dan sains yunani) banyak mempengaruhi perkembangan filsafat dan sains salam islam. Filsafat dan sains yunani mulai bekembang sejak kurang-lebih tahun 600 SM. Pada masa aristoteles (384-322 SM), jadi hanya kira-kira 300 tahun sejak thales, filsafat dan sains yunani sudah berkembang pesat, baik obyek bahasan maupun kedalamannya. Islam lahir pada tahun  600-an. Filsafat dalam islam berkembang secara intensif sejak tahun 800-an.
Masuknya filsafat dan sains yunani ke dalam islam lebih banyak terjadi melalui irak dibandingkan dengan melalui daerah-daerah lain. Disanalah timbulnya gerakan penerjemahan karya-karya yunani ke dalam bahasa arab, atas dorongan khalifah Al-Manshur, kemudian khalifah Harun Ar-Rasyid, dilanjutkan oleh puteranya, khalifah Al-Ma’mun. Ba’it al-Hikmah didirikannya. Selain sebagi pusat penerjemah, masjid juga sebagai pusat pengembangan filsafat dan sains yang ditinggalkan oleh yunani tadi. Selain buku-buku yunani, buku persia dan India juga diterjemahkan kedalam bahasa arab.
Dari India terutama diambil astronomi dan matematika, dari persia diambil sastra dan seni. Gerakan penerjemahan ini terjadi dari tahun 750 samapi tahun 900 M. Inilah riwayat singkat masuknya filsafat dan sains yunani (dan india serta parsi sedikit) ke dalam islam. Oleh karena itu, dapatlah dipahami mengapa filsafat dengan beberapa cabangnya, dengan cepat berkembang di dalam masyarakat Islam. Dalam pengembangan sains dan filsafat itu, jasa orang islam sekurang-kurangnya ada tiga : (1) menerjemahkan, (2) Membuat komentar sehingga karya yunani itu lebih mudah dipahami, dan (3) menambahkan beberapa hal baru, termasuk koreksi-koreksi.
Karya-karya itu tersebar ke Barat melalui berbagai jalur. Jalur yang paling utama ialah Cordova. Selain itu, melalui Sisilia pengetahuan itu meyeberang juga ke Barat. Jika orang mengatakan orang barat dapat maju karena berhutang pada Islam, pernyataan itu tidaklah semuanya benar. Yang benar ialah orang barat berhutang pada orang yunani dan juga kepada orang Islam, sebenarnya juga pada orang india dan parsi.
Al-Qur’an menghargai akal. Dari dorongan ini berkembanglah filsafat dan sains Islami yang kelak diteruskan ke Barat. Selain itu Al-Qur’an juga menghargai rasa atau hati. Ayat-ayat Al-Qur’an banyak juga yang tidak dapat dipahami dengan akal; yang hanya mungkin dipahami dengan rasa. Oleh karena itu, pengetahuan yang berbasis rasa cukup berkembang  masyarakat Islam yang ini disebut jalur rasa, jalur tashawwuf.

Sehingga berdasar pada uraian tadi mengenai akal dan hati di jalur barat, telah dijelaskan dengan melihat Al-Ghazali itu membuktikan bahwa dominasi akal yang tidak seimbang dengan dominasi hati akan merugikan Islam dan umat Islam, demikian juga dominasi hati yang tidak seimbang dengan dominasi akal. Keseimbangan pikir dan dzikir, dapat dilakukan dalam Islam. Penyeimbangan seperti itu tampaknya tidak dapat dilaukan di dunia Barat kristen. Bukti yang jelas ialah perlunya sekuralisme di Barat. Ini membuktikan tak mungkinnya keseimbangan dominasi itu dilakukan.

Dalam hal ini terdapat kesamaan dengan kritik kant dimana mengemukakan bahwa akal dan hati haruslah seimbang, tidak ada satu yang saling mendominasi. Seperti yang telah dijelaskan oleh kan hanya akal budi praktis sajalah yang mampu menyentuh daerah noumena sehingga perlu adanya keteraturan, keseimbangan antara akal, dan hati karena antara keduanya saling melengkapi. Begitu yang telah dikemukakan pada akal dan hati di jalur timur ini harus terdapat kesesuaian antara akal dan hati. Tidak dapat salah satunya mendominasi karena akan menghasilkan kehancuran bagi umat islam. Karena hakikatnya al-qur’an sendiri menghargai akal bukan hanya sebatas pada hati semata atau lebih mengunggulkan hati.

Setelah membaca keduanya, saya kemudian lebih berpihak terhadap pemikiran kant dan jalur timur ini karena pada dasarnya manusia sejak lahir memiliki kata hati dan telah terlahir dengan memiliki hati. Dimana suara hati ini ialah suara yang selalu mengajak menjadi orang yang baik. Dan dalam dunia ini khususnya kehidupan ini kebaikan kemudian menjadi suatu nilai yang dielukan ataupun didambakan oleh sebagian masyarakat karena mampu membawa kehidupan kearah kedamaian dan mendekatkan kepada tuhan sebagai puncak dari segala kebaikan yang ada. Dan kemudian dengan adanya hati juga maka akan timbul moral yang merupakan aturan berbuat yang muncul setelah manusia itu bergaul dengan masyarakat atau telah mengalami interaksi maupun sosialiasi dengan yang lainnya. Sehingga kemudian moral ini dibentuk oleh pengaruh lingkungan.

ANALISIS BUKU KTIRIK ATAS AKAL BUDI PRAKTIS IMMANUEL KANT

22.04 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Judul Buku      : KRITIK ATAS AKAL BUDI PRAKTIS
Penulis             : IMMANUEL KANT
Penerjemah      : NURHADI, M.A
Penerbit           :PUSTAKA PELAJAR
Tahun terbit     : 2005
Dalam buku Immanuel Kant “Kritik Atas Akal Budi Praktis”. Critique ini Kant membahas diantaranya mengenai akal budi dimana akal budi ini menuntun pembentukan pengetahuan secara sistematis dengan mengatur pencarian kita atas kondisi-kondisi absolut dari semua kondisi kontingen, yang akan mendukung seluruh bangunan pengetahuan. Kant juga mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini termasuk manusia berperilaku menurut hukum-hukum tertentu. Tetapi hanya makhluk rasionallah yang dapat berperilaku sesuai dengan konsepsi hukum-hukum. Selain akal budi, Kant pun membahas mengenai moral. Dimana moral adalah kata hati, suara hati, perasaan, suatu prinsip yang a priori absolut. Moral ini merupakan suatu realitas yang amat mengherankan karena tak dapat dielakkan menentukan benar atau salah. Moral ini berkaitan pula dengan kata hati dimana dalam kata hati, kata hati itu memerintah. Perintah itu merupakan perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan universal yaitu suatu hukum kewajaran.
Dalil akal murni ini berasal dari prinsip moralitas yang bukan merupakan suatu dalil melainkan perlu dipahami bahwa akal budi ini secara langsung menentukan kehendak. Kehendak ini muncul berdasarkan fakta bahwa akal budi ini sangat ditentukan, sebaai kehendak murni mengharuskan adanya syarat niscaya bagi kepatuhan terhadap prinsip-prinsipnya. Maka dari itu dikarenakan sejalan dengan prinsip moralitas maka kemudian terdapat kesaaman untuk adanya suatu syarat hukum tertentu. Sehingga dalil ini bukan merupakan dogma teoritis melainkan  pengandaian dari aturan praktis yang diperlukan, jadi kendati tidak memperluas pengetahuan spekulatif, mereka memberikan realitas obyektif kepada ide tentang akal budi praktis secara umum (dengan sarana relasi mereka dengan arena praktis) dan mereka membenarkannya dengan berpengangan kepada konsep itu walaupun kemungkinannya tidak akan dengan berani diakui.
Antara akal budi dan moral ini kemudian memunculkan suatu hukum tertentu bagi akal budi dan hukum kewajaran bagi moral dimana keduanya memiliki suatu kesamaan yakni adanya suatu keharusan berperilaku sesuai dengan hukum yang bersifat secara universal dalam kehidupan manusia. Sehingga dengan demikian tindakan manusia bukan lagi didasarkan atas menghasilkan tindakan yang baik tau menguntungkan bagi si pelaku akan tetapi tindakan dilakukan karena merupakan kepatuhan kepada perintah kalbu hukum moral yang baku yang dalam melakukan tindakan tersebut merupakan kemauan yang baik, kemauan bertindak mengikuti hukum tadi tanpa memperhitungkan untung atau rugi bagi diri kita atau bagi orang lain. sehingga moralitas ini kemudian bukanlah doktrin tentang bagaimana kita mencapai kebahagiaan, tetapi bagaimana kita dapat membuat diri kita layak berbahagia.
Yang kemudian terdapat hubungan antara akal teoritis (logis) dengan moral, yakni akal teoritis (logis) tidak dapat dijadikan dasar agama, maka kitab suci harus dipahami sesuai dengan nilainya bagi moral, tetapi kitab suci tidak dapat dijadikan penilaian moral. Gereja dan dogma ada gunanya hanya bila dimajukan pertumbuhan moral masyarakat. karena tesis utama Kant yaitu tuhan itu tidak dapat dibutikan adanya dengan akal teoritis. Maka disinilah kemudian Kant menjawab melalui karya kritik akal budi praktis bahwa moral mampu membantu menjawab persoalan tersebut. Karena menurut Kant ide-ide tentang adanya Tuhan, Kebebasan, dan keabadian hanya mungkin bagi akal budi spekulatif, tidak aktual. Namun Kant mengatakan bahwa ide-ide tersebut diperlukan bagi moralitas.
Dengan demikian menurut Kant akal dan moral (dalam hal ini hati) sama-sama diperlukan dan perlu adanya suatu kesinambungan antara keduanya atau dengan kata lain akal dan hati sama-sama menang, tidak ada yang diunggulkan antara akal ataupun moral. Karena menurut kant kehidupan memerlukan kebenaran. Dan kebeneran tidak dapat seluruhnya diperoleh dengan indera dan akal. Indera dan akal terbatas kemampuannya. Ada kebenaran yang diperlukan, dan hanya mungkin diperoleh dengan hati atau iman. Sampai sekarang masih banyak orang yang beranggapan bahwa semua kebenaran dapat diperoleh dengan indera dan akal, dengan metode sains dan filsafat. Dalam hal inilah pentingnya kant menjelaskan bahwa sains terbatas. Bila sains memasuki daerah noumena, sains akan sesat dalam antinomy. Filsafat pun terbatas, bila filsafat memasuki daerah noumena, ia akan sesat dalam paralogisme. Dan daerah noumena ini hanya mungkin dimasuki oleh akal praktis.


Buku Immanuel Kant yang berjudul “Kritik Atas Akal Budi Praktis” yang dterbitkan oleh Pustaka Pelajar ini merupakan buku terjemahaan dari buku asli karya Immanuel Kant yakni Critique Of Practical Reason dimana dalam buku berbahasa Indonesia ini diterjemahkan oleh Nurhadi, M.A.. buku ini membahas mengenai seputaran metafisika moral, kritik dan akal budi praktis ini bagi pemula pembelajar filsafat akan mengalami kesulitan dalam memahami makna ataupun esensi dari pemikiran Kant jika tidak di baca dengan seksama, karena dalam terjemahannya ini menggunakan kata-kata intelektual yang tidak semuanya mampu dijabarkan dengan mudah sehingga bagi para pemula mengalami kesulitan tersendiri untuk memahami pemikiran Kant. Padahal salah satu sumber buku seorang filsuf yang mengikuti pemikiran kant mengatakan bahwa seseorang belum dapat dikatakan dewasa jika belum memahami filsafat Immanuel kant. Dikarenakan kant dalam setiap karyanya mengupas mengenai permasalahan moral yang menjadi sorotannya maupun beberapa topik metafisika pun tak luput dari pembahasan kant ini. sehingga kelebihan dari buku ini adalah pembahasan yang disajikan oleh penulis sangatlah beragam, dimulai dari bagaimana prinsip-prinsip akal budi praktis itu sendiri hingga ke metodologinya pun dibahas oleh penulis secara lengkap sehingga buku ini cocok untuk dipelajari guna memahami bagaimana filsafat moral dan kaitannya antara akal budi dengan hati secara praktisnya yang kemudian dapat digunakan dalam memahami realita yang terjadi ditengah masyarakat.  

Minggu, 18 Desember 2016

SISTEMATIKA FILSAFAT

12.32 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
Sistematika Filsafat
Perlu diulang lagi bahwa dalam garis besar filsafat mempunyai 3 cabang besar, yaitu teori pengetahuan, teori hakikat dan teori nilai.
Ø  Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan (epistomologi).
Ø  Teori hakikat membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat (ontologi).
Ø  Teori nilai, membicarakan guna pengetahuan tadi (aksiologi) 
Epistimologi
Epistimologi membicarakan pengetahuan dan cara memperoleh pengetahuan. Disebut juga sebagai filsafat pengetahuan. Istilah ini pertama kali muncul dan digunakan oleh J.F.Ferrier pada tahun 1854 (Runes, 1971:94). Pengetahuan diperoleh manusia dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang mebicarakan tentang ini.
Empirisme
Berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari empeiria yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini, manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.
Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh  dan diukur dengan akal. Manusia menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melaui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini ialah Rene Descartes(1596-1650). Akan tetapi sesungguhnya paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada aristoteles.
Positivisme
Tokoh aliran ini ialah August Compte (1798-1857). Ia penganut empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen. Pada dasarnya positivisme bukan aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerjasama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memerlukan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme.
Intuisionisme Henri Bergson(1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelek atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu. Jadi dalam hal seperti itu manusia tidak mengetahui keseluruhan. Tidak juga dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari objek. Kemudian bagian-bagian itu digabungkan oleh akal.
Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara dalam sampai pada hakikatnya. Itulah sebabnya teori ini dinamakan teori hakikat. Ada pula yang menamainya ontologi. Hakikat merupakan kenyataan yang sebenarnya. Kosmologi membicarakan hakikat asal, hakikat turunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos.
Matrealisme
Menurut aliran ini, hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit, dan sebagainya mucul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya tidak akan ada seandainya tidak ada benda.
Idealisme
Aliran ini berpendapat sebaliknya. Hakikat benda adalah rohani, spirit, atau sejenisnya.Alasannya:
a. Nilai roh lebih tinggi dari pada badan
b. Manusia lebih dapat memahai dirinya dari pada dunia luar dirinya
c. Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang; benda tidak ada, yang ada itu energi saja (Oswald)
DualismeYang merupakan hakikat pada benda itu ada dua , yakni materi dan imaterial, benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Pemikiran orang idealis menyatakan bahwa hakikat adalah roh. Paham ini akan berujung padaTuhan, surga, dan neraka.
a. Theodichea membicarakan Tuhan dari segi pikiran. Apa tuhan itu ada, apa buktinya, apa sifatnya, dll.
b. Teisme merupakan paham yang menyatakan bahwa tuhan itu ada.
c. Monoteisme mengajarkan bahwa tuhan itu esa.
d. Trinitisme mengajarkan bahwa tuhan itu satu tapi beroknum tiga.
e. Politeisme adalah paham yang mengajarkan bahwa tuhan itu banyak.
f. Panteisme mengajarkan bahwa antara alam dan tuhan tidak ada jarak.
g. Panenteisme mengajarkan bahwa tuhan adalah kesadaran jagat raya.
h. Ateisme merupakan isme yang mengajarkan bahwa tuhan itu tidak ada.
i. Agnostisisme merupakan paham ketuhanan yang terletak antara teisme dan ateisme.
Logika merupakan cabang filsafat yang dikembangkan oleh Aristoteles. Logika membicarakan norma-norma berpikir benar agar diperoleh dan terbentuk pengetahuan yang benar. Ada dua macam logika yaitu logika formal dan logika material.


Logika formal merupakan logika yang memberikan norma berpikir benar dari segi bentuk berpikir. Logika formal adalah logika bentuk. Logikanya ialah agar diperoleh pengetahuan yang benar, maka bentuk berpikirnya pun harus benar. Benar atau salah isinya, dibicarakan oleh logika material.


Dalam logika,dikenal perbedaan antara kesimpulan yang tepat dan kesimpulan yang benar. Kesimpulan yang tepat diperoleh bila bentuk berpikirnya benar. Kesimpulan yang benar berasal dari penyelidikan terhadap isi kesimpulan itu.
- Contoh bentuknya benar (tepat) dan isinya benar:
Setiap manusiaakan mati. Muhammad adalah manusia. Jadi, Muhammad akan mati.


- Contoh bentuknya tepat tapi isinya tidak benar:
Manusia adalah sejenis hewan. Kuda adalah salah satu jenis hewan, jadi kuda sama dengan manusia.


Suatu kesimpulan dikatakan benar bila isi kesimpulan itu sesuai dengan objeknya. Sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk mengetahui kesesuaian itulah tugas logika material. Dalam garis besarnya, logika formal membicarakan masalah pengertian, putusan dan penuturan.


Pengertian merupakan gambaran di dalam jiwa tentang objek yang telah diabtraksikan. Cara membentuk pengertian ialah dengan membuat gambaran dalam jiwa kita tentang objek itu dengan membuang seluruh ciri aksidensinya. Bila kita buang ciri aksidensinya maka yang tersisa ialah ciri esensinya. Ciri esensi merupakan ciri yang menunjukkan bahwa ia adalah ia, dan merupakan ciri yang tidak boleh tidak adapada objek. Ciri aksidensi adalah ciri pelengkap , sifat yang melekat pada esensi objek. Selanjutnya tugas logika adalah membentuk pengertian itu menjadi definisi. Definisi ialah penyebutan ciri esensi suatu objek. Bakry dan Mehra menjelaskan jika definisi ialah pengertian yang lengkap tentang suatu istilah yang mencakup semua unsur yang menjadi ciri utama istilah itu. Ada 4 syarat definisi:
1. Ciri esensi yang disebut tidak boleh berlebihan dan tidak boleh kurang
2. Tidak memakai kata yang berulang-ulang
3. Tidak memakai perkataan yang terlalu umum
4. Tidak memakai kata negatif


Tahap-tahap dalam logika disebut memutuskan dan hasilnya disebut putusan. Kegiatan memutuskan harus mempertimbangkan hal berikut:
1. Menguasai struktur kalimat
2. Menyadari mana esensi dan aksidensi
3. Mengetahui mana esensi dan mana aksidensi yang telah menjadi aksidensi untuk objek yang lebih khusus.
4. Memahami pola putusan
Penuturan ialah putusan baru yang dibentuk dari putusan-putusan yang telah ada. Kegiatan putusan baru tersebut disebut menuturkan. Jadi urutannya ialah pengertian,putusan, putusan baru. Etika merupakan teori tentang nilai baik dan buruk. Sedangkan estetika merupakan nilai keindahan.
Aksiologi
Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Filsafat sebagai philosophie of life merupakan suatu kondisi ketika filsafat dijadikan sebagai pandangan hidup. Yang amat penting ialah, filsafat sebagai methodology dalam memecahkan masalah. Sesuai dengan sifat filsafat, ia memecahkan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam maksudnya menyelesaikan masalah dengan mencari penyebabnya sebagai langkah awal. Universal artinya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.
Khulasah
Pengantar kepada filsafat yang ringkas ini bermaksud menjelaskan apa filsafat itu, apa objek yang ditelitinya, bagaimana cara penelitiannya, dan apa saja sistematikanya. Lalu diperkenalkan juga isme-isme dalam filsafat.

 Daftar Pustaka :
Tafsir, Ahmad. 2008. FILSAFAT UMUM AKAL DAN HATI SEJAK THALES SAMPAI CAPRA. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA