Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2016

AMANAT BUYUT BADUY LEBAK BANTEN

22.52 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Buyut nu dititipkeun ka puun                    
Nagara salelung puluh telu
Bangawan sawidak lima
Pancer salawe Negara
Gunung teu menang dilebur
Lebak teu menang dirusak
Larangan teu meunang dirempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung
Nu lain kudu dulainkeun
Nu ulah kudu diulahkeun
Nu enya kudu dienyakan
---Artinya---
Buyut yang dititipkan kepada pun
Negara tiga puluh tiga
Sungai enampuluh lima
Pusat duapuluhlima Negara
Gunung tak boleh dihancurkan
Lembah tak boleh dirusak
Larangan tak boleh dilanggar
Buyut takboleh diubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditiadakan
Yang jangan harus dinaifkan
Yang benar harus di benarkan


Daftar Pustaka :
Kurnia, Asep. Ahmad Sihabudin. 2010. Saatnya Baduy Bicara. Jakarta : Bumi Aksara.


Rabu, 14 Desember 2016

GURU DAN FILSAFAT

19.46 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Bagi guru dan pendidik pada umumnya,filsafat pendidikan itu sangat perlu karena tindakan-tindakannya mendidik dan mengajar akan selalu dipengaruhi oleh filsafat hidupnya dan oleh filsafat pendidikan yang dianutnya. Filsafat pendidikan akan memberikan arah kepada perbuatannya mendidik dan mengajar. Misal dalam menyusun kurikulum sekolah,guru harus jelas merumuskan tujuan kurikulum itu, dan untuk itu ia harus merujuk kepada filsafat pendidikannya. Gaya mengajarnya juga akan dipengaruhi oleh filsafatnya yang dianutnya.


Seorang guru seharusnya memiliki filsafat hidup dan filsafat pendidikan yang jelas yang merupakan bagian dari kepribadiannya.oleh karena itu bagi seorang mahasiswa calon guru mempelajari ilmu filsafat dan ilmu filsafat pendidikan adalah perlu. Bukan saja memperluas wawasannya mengenai pendidikan serta membantunya dalam memmahami siswa dan mengembangkannya gaya belajar yang tepat, tetapi juga dapat menyadarkannya mengenai makna dari berbagai aspek kehidupan manusia. Dan yang lebih penting lagi bahwa sikap dan tindakanya yang mencerminkan filsafatnya akan berpengaruh kepada siswanya. Disinilah peran yang sangat esensial dari seorang guru.  

            Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan . Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup.

Guru sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.


Peran filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.

Kamis, 24 November 2016

Be Aware With Karinding As Traditional Culture Which Can Stimulate Social Conscious

14.32 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , , No comments
Be Aware With Karinding As Traditional Culture Which Can Stimulate Social Conscious
By Tyas Siti Nur Asiyah (2290150047/Sociology education)
Karinding is one of traditional music from Indonesia from sundanese. Karinding was made by the bamboo and in the few century ago karinding use for eradicate the pest because karinding product the low decibel voice. Beside that karinding also be an intercommunication music for the young people in that time, and also be a music which can interested the women with the melody from the karinding because karinding has characteristic sound to listen, and use for the region ritual as an accompaniment music. Some history expert  in their opinion said that karinding was come from the Padjajaran kingdom. Difficult to know when karinding appear in sundanese people because there is’nt source tell about that. One of the reference that ever made by Ragil Soeripto and that post in bulletin west java’s culture, kawit on 1192, Rachmat Ruchiyat has said that beside the throve of bamboo music in Indonesia that so close with the transmigration the people from Asia on 1000 BC even far from 10.000-5000 BC there is a few people stay on asia and there’s a few of them was in Irian Jaya. And Irian Jaya also has a few traditional music from bamboo like karinding but with another name, like karinding in pasundan called rinding or genggong in central java and east java or ginggung in Bali. But the true information about karinding come from should be there is a special study for it. But in Banten was on 300 years ago karinding appear. But karinding was extinct on 1953 because the existence was lost with radio in that time. But in Jaha village karinding was exist again by the young generation who introduce karinding to the people in Jaha village by the tradisional club Barak Karinding which give the learning to the people about karinding, and how to play karinding. Before that karinding in Jaha village was extinct by the era and globalization.
The way to play karinding is we have to know about the part of karinding is. Karinding has three part that is pancepengan, cecet ucing, and panenggeul. If we hit the part of panenggeul, that can product a sound if we keep the karinding in front of the mouth that karinding squeeze with the mouth can result a characteristic sound from karinding. That sound setting by our shape of mouth when we open our mouth, the depth of resonance, and our taking breath. Karinding can play in single and also in group. And karinding can collaborate with other bamboo percussion to made a new creation like guitar or celempung. Karinding is not about music performance but also about the musical drama. For make one of karinding the old people use the old bamboo one. Because that can result a good voice and that can survive for a long time than the young bamboo.
When we play karinding there is the philosophy that present by Sir Entang the one of karinding expert from Cicalengka, that philosophy is “Confident, Patient, and Awareness”. That philosophy contain the value that can use for the player to implement that value in their life. That philosophy also inspire the player of karinding to make a creation that can make the people’s conscious to aware about social reality around us as social human. Like from the song the title “peace” and another song is “the core of conscious”. From the “peace” that tell to the people to take the peace in every act with another people because we lived in Indonesia which has many culture and we have to tolerance to it and make the peace everywhere. And from “the core of conscious” that tell to the people so that they use their live to do the best not to waste the time with the worse thing like consume alcohol and using drug which can make their life getting bad.

The philosophy of karinding can also use in the daily live to guide us to face the problem or when we want to do something to consider with the philosophy to made our life better that before. In karinding also has the value like we have to simple in our life that face with the costume that the player use in their performance. And also the value to always patient and aware also to confident to face the era and do in our life so to take that value to a new people or to another people we can use the strategy to success it. Like we can go to the field together to gather so close and in the free time can play karinding, so with this we can try to love our culture by go to the field which the place that karinding the first time was played in the few century ago. And for remember that karinding is from the the field in the first cause Indonesia is a agrarian country which there’s so many field in Indonesia can meet and that can be the strategy for know karinding more, another way we can make the solidarity so close than before so the people feel comfortable with karinding and want to play and learn karinding, that strategy can use by eat together, play football together, hang out to drink a coffee than when a free time can play karinding together and that the another way to preserve karinding as traditional culture. Another strategy we can visit to the place that has the culture value and region value. For the place which has the culture value like visit Baduy as a culture village in Banten and karinding was there also so that’s the ideal place to make us more interest to karinding. For visit the place that has religion value that’s for make us more close with God and that can also be the implementation by karinding’s the philosophy we also have to aware and sure to the God and patient to face the problem when we get it. In this globalization era also we can use the social media for introduce karinding to the people by using instagram, twitter, facebook, and youtube that’s can be a way to make karinding more exist and we can give the culture value by the karinding to another people with the philosophy, creation, and every act when their performance. Build the relation with another community and the government also can be the starategy to introduce karinding beside with that the player of karinding has another experience, with government the traditional culture can get the attention for be preserve if that was almost extinct. With that traditional culture can introduce with the government by the government’s program to preserve the traditional culture. So with that karinding can be the traditional culture and exist in this globalization era as the identity of Indonesia in global and karinding also give the value to the listener and that can stimulate them for be aware with the social conscious like the function of the music is a music for the conscious like said before in Plekhanov theory. So when the people know about the value that can live in themselves and than they can implement about the value in their daily activity, because the people do by the meaning that they get from something that similar with karinding to the value in karinding then can be a meaning for the player and listener and then they implement that for the guide of live in their activity.

Minggu, 20 November 2016

PENDIDIKAN KARAKTER DAN ETNOPEDAGOGI SEBAGAI BEKAL GENERASI MUDA UNTUK MENGHADAPI MEA

17.53 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
PENDIDIKAN KARAKTER DAN ETNOPEDAGOGI SEBAGAI BEKAL GENERASI MUDA UNTUK MENGHADAPI MEA
Oleh Tyas Siti Nur Asiyah (Pendidikan Sosiologi/2)

Kini masyarakat Asia Tenggara akan dimudahkan dalam sektor ekonomi karena sekarang ini telah ada pasar bebas di bidang permodalan, barang, jasa dan tenaga kerja dengan tujuan meningkatkan stabilitas ekonomi di kawasan negara-negara ASEAN melalui AEC (Asean Economic Community) yang dicanangkan berlangsung pada akhir tahun 2015. AEC merupakan bentuk  kerjasama baru antara negara-negara di kawasan ASEAN yang bertujuan untuk meningkatkan sektor perekonomian dan stabilitas politik serta keamanan. AEC yang terdiri dari  gabungan negara-negara di Asia Tenggara ini sepakat melakukan integrasi ekonomi berupa rancangan implementasi serangkaian peraturan dan kebijakan khusus yang bertujuan untuk meningkatkan pertukaran barang maupun faktor produksi antarnegara. AEC 2015 ini diikuti oleh 10 negara yaitu Indonesia, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Laos, Kamboja dan Vietnam. Sebagai negara yang telah bergabung dengan AEC, maka Indonesia wajib dan harus siap untuk menghadapi AEC sehingga di Indonesia dikenal istilah MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Sehubungan dengan adanya MEA ini maka Indonesia harus meningkatan sumber daya manusia yang memadai sehingga mampu dan juga berani untuk bersaing di lingkup MEA.
MEA diharapkan mampu menyokong kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh negara ASEAN dengan berlandasakan pada 3 (tiga) pilar yaitu politik keamanan (politico-security cooperation), kerjasama ekonomi (economic cooperation) dan kerja sama sosial budaya (sosial-cultural cooperation). Namun jika ditilik lebih mendalam dengan adanya MEA ini dianggap kurang menguntungkan bagi negara-negara yang masih harus “merangkak” dalam sektor ekonomi dan teknologinya seperti Indonesia. Bukannya MEA menjadi jalan untuk meningkatkan sektor ekonomi namun malah membuat Indonesia terpuruk di rumah sendiri. Mengingat adanya kebebasan dalam sektor ekonomi ini membuat pekarja asing juga memiliki hak yang sama untuk bekerja di Indonesia karena adanya MEA ini yang pada akhirnya mengakibatkan anak bangsa harus bersaing dengan pekerja luar yang jika dibandingkan dengan orang asing dari segi pendidikan dan etos kerja, orang Indonesia sendiri tertinggal, sebab dari hal ini melahirkan pemikiran dibenak masyarakat Indonesia bagaimana cara bertahan hidup di era MEA seperti sekarang ini.
Bila mencoba untuk membuka mata mengenai realitas yang ada saat ini bahwa sumber daya manusia Indonesia belum mampu bersaing secara optimal di pasar. Ini bisa dilihat dari indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya. Dalam indeks pembangunan manusia tahun 2014 tidak berubah pada posisi 108 dari 187 negara di dunia semenjak tahun sebelumnya, kemudian Singapura (9), Brunei Darussalam (30), Malaysia (62) dan Thailand (89) dan diikuti oleh negara-negara lain seperti Myanmar (150), Laos (139), Kamboja (136), Vietnam (121) dan Filipina (117). Sementara itu, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan dasar Indonesia berada di urutan ke-6 di ASEAN dan ke-69 di dunia. Hal ini menunjukan masih rendahnya partisipasi pendidikan dan tingkat kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.
Data lain yang menunjukan bahwa Indonesia harus berkerja keras dalam menghadapi MEA ini bahwa dari total angkatan kerja menurut badan pusat statistik Indonesia pada tahun 2013 dalam satuan juta orang terdapat 118,19 angkatan kerja namun yang bekerja 110,80 dan pengangguran 7,39. Sehingga prosentase tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) 66,90% dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 6,25%. Artinya ada lowongan kerja yang tidak dapat terisi yang pada umumnya diakibatkan oleh rendahnya tingka pendidikan dan tidak sesuainya keahlian pencari kerja. Selain itu daya saing tenaga kerja Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina karena menurut Asian Productivity Organization (APO) dari setiap 1000 tenaga kerja Indonesia hanya sekitar 4,3% yang terampil, sedangkan Filipina 8,3%, Malaysia 32,6% dan singapura 34,7%. Data-data tersebut menjadi pertimbangan bagi Indonesia, siapkah Indonesia untuk menghadapi MEA?
Indonesia sendiri dikenal dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah yang mampu mengalahkan Malaysia dan Singapura. Namun hal ini belum terwujud karena Indonesia masih kekurangan tenaga kerja ahli dan terdidik serta kurangnya penguasaan teknologi. Kelemahan yang dihadapi oleh Indonesia tersebut akan menjadi sasaran empuk bagi negara-negara maju untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya Indonesia dengan biaya yang murah. Sehingga dalam hal ini peran generasi muda sangat dibutuhkan. Generasi muda Indonesia dituntut lebih kreatif, yang tidak hanya mampu berfikir secara kognitif namun juga harus bisa berfikir kreatif. Hal signifikan yang dapat dilakukan adalah menjadi generasi muda yang tidak hanya mengejar nilai dan terpaku pada kepentingan pribadi tetapi juga situntut untuk lebih berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung Indonesia di kancah internasional sehingga dengan begitu Indonesia akan menjadi lebih eksis dan berdampak pula pada kehidupan masyarakat Indonesia itu sendiri kelak dikemudian hari.
Dalam hal ini pendidikan memegang peranan penting dalam membangun sumber daya manusia  yang kompetitif dan mampu bersaing dengan negara lain. Oleh karena itu untuk menghadapi MEA maka pendidikan harus mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang terampil dalam menghadapi tantangan serta perubahan yang tejadi di era sekarang ini. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan termasuk kedalam negara multikultural hendaknya pendidikan Indonesia mampu mengangkat kearifan-kearifan lokal bangsa Indonesia sebagai bekal generasi muda untuk memiliki jiwa kompetitif yang berdasarkan pada budaya tempat mereka tinggal selain itu pula pentingnya pendidikan karakter bagi para generasi muda sehingga ketika mereka mendapatkan pendidikan karakter dan juga pengetahuan tentang kearifan lokal yang ada akan mampu menciptakan generasi muda yang kreatif, kompetitif dan mampu bersaing berbasis pada kearifan lokal yang ada sebagai modal untuk menghadapi persaingan luar yang ketat.
Generasi muda saat ini hendaknya dipersiapkan sedini mungkin untuk menghadapi tantangan-tantangan global yang ada, seperti siswa SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi hendaknya mendapat persiapan yang sesuai dengan jenjangnya masing-masing. Kepada generasi muda ini hendaknya tidak hanya memikirkan tentang bagaimana mendapat nilai yang tinggi akan tetapi harus mulai sadar akan pentingnya keterampilan yang harus dimiliki di era modern seperti sekarang ini. Generasi muda Indonesia saat ini harus sadar akan pentingnya soft skill terutama dalam kemampuan berbahasa dan bakat-bakat individu. Tanpa melupakan hard skill yang juga memiliki peranan bagi kehidupan dan karirnya kelak. Hard skill merupakan kemampuan yang dimiliki berdasarkan bidang yang didalaminya, dengan kata lain hard skill adalah keterampilan teknis. Sehingga hard skill dan soft skill harus dikuasai generasi muda untuk mendapatkan kair yang lebih baik.
Karakter merupakan aktualisasi dari soft skill seseorang, yang mana karakter merupakan cara berpikir dan perilaku yang menunjukkan ciri khas dari seseorang dan bekerjasama dengan orang lain dan mampu bertanggung jawab dengan apa yang menjadi keputusannya, sehingga soft skill bisa dibangun dan dikembangkan. Oleh karena itu pengembangan soft skill melalui pelatihan tidak jauh beda dengan apa yang sekarang dikenal dengan pengembangan karakter bangsa. Jadi konsep soft skill adalah karakter. (Marzuki.2012.Pengembangan Soft Skill berbasis Karakter melalui pembelajaran IPS Sekolah Dasar)
Generasi muda yang memiliki soft skill akan lebih siap dalam menghadapi persaingan pada era MEA. Karena menurut hasil penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa orang yang sukses di dunia ditentukan oleh peranan ilmu sebesar 18%, sisanya 82% dijelaskan oleh keterampilan emosional soft skill dan jenisnya. Dunia kerja menyatakan bahwa yang dimaksud dengan lulusan yang “high competence” yaitu mereka yang memiliki kemampuan dalam aspek teknis dan sikap yang baik. Susilo Bambang Yudhoyono (Masaong.2012. Pendidikan Karakter Berbasis Multiple Intelligence.) mengemukakan bahwa pada waktu menjadi Presiden Republik Indonesia mengatakan bahwa ada lima agenda utama pendidikan nasional, yaitu (1) pendidikan dan pembentukan watak (character building), (2) pendidikan dan kesiapan menjalani kehidupan, (3) pendidikan dan lapangan kerja, (4) membangun masyarakat berpengetahuan, (5) membangun budaya inovasi. Sehingga pendidikan karakter penting untuk diberikan kepada generasi muda untuk menjadikan generasi muda sebagai manusia yang cerdas, jujur, tangguh dan peduli. Karena keempat hal tersebut beralasan untuk menjadi kunci sukses. Ketika seseorang memiliki kecerdasan maka ia akan bisa memilih  mana yang baik dan buruk. Kecerdasan itu kemudian harus diimbangi dengan kejujuran agar mendapat kepercayaan orang lain. Sedangkan tangguh perlu dimiliki di era MEA karena lingkupnya bukan hanya Indonesia tetapi persaingan terjadi antara negara-negara ASEAN. Dan memiliki sikap yang peduli tak kalah pentingnya, karena dengan kepedulian kepada orang lain maka akan mudah untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Soft skill menjadi begitu penting karena didalamnya terdapat kepemimpinan, pengambilan keputusan, penyelesaian konflik, komunikasi, kreatifitas, kemampuan presentasi, kecerdasan emosional, interitas, komitmen dan kerja keras, serta kerendahan hati dan kepercayaan diri. Hal-hal tersebut merupakan bekal yang harus dimiliki oleh generasi muda untuk mampu bertahan dan berkompetisi dalam MEA. Implementasi pendidikan karakter ini dapat dilakukan melalui upaya pemerintah memasukan pendidikan karakter sedini mungkin pada kurikulum yang akan dijalani oleh para peserta didik agar sedini mungkin juga mereka akan melatih soft skill yang mereka miliki sehingga semakin hari soft skill mereka akan terasah dan mampu membangun jiwa kompetetif di benak generasi muda.
Contoh kecil dari penguatan karakter ini dapat ditemui pada trilogi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Dalam ing ngarso sung tulodho generasi muda diajarkan bahwa bila menjadi pemimpin wajib menjadi suri tauladan bagi semua. Dalam ing madya mangun karso mendorong generasi muda untuk dapat proaktif berbaur dan memotivasi dalam lingkungan belajarnya guna meningkatkan kualitas pendidikan dan tentunya kualitas peserta didik seperti setia kawan, kompetisi, kreatif, inovasi, dan analisis. Dan dalam tut wuri handayani memerdekakan generasi muda untuk mengembangkan kreatifiasnya dan mampu menjadi pamong membina dari belakang bukan hanya sekedar mendikte.
Dengan demikian pelaksanaan pendidikan karakter bagi generasi muda dapat melalui tiga jalur yaitu (1) penerapan pendidikan karakter dalam kurikulum sehingga diimplementasikan pada saat proses pembelajaran; (2) pemberian pendidikan karakter dengan kegiatan-kegiatan terprogram dan terstruktur, sebagai contoh kegiatan pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), tutorial pendidikan agama, pelatihan kreatifitas (creativity training), pelatihan kepemimpinan (leadership training), dan pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship training); (3) melalui kegiatan ekstrakulikuler yang mana dengan kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemaran peserta didik. Perlu dingat bahwa dalam pendidikan karakter ini hal yang kemudian menjadi penting adalah aktor-aktor yang berperan dalam menanamkan karakter ini hendaklah benar-benar memberikan pendidikan karakter terhadap peserta didik dalam hal ini guru, orang tua dan masyarakat sekitar ikut berperan dalam mendidik karakter generasi muda, yang hendaknya semua kooperatif dalam memberikan pendidikan karakter dan mendukung setiap pembangunan dan penguatan karakter yang sedang dilakukan oleh setiap individu. Orang tua misalnya dapat mulai mengajarkan kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai salah satu aspek soft skill kepada setiap anaknya agar sedari kecil dimulai dengan rumah sebagai lingkungan pertama individu tinggal, keterampilan tersebut mulai terasah yang kemudian diimbangi peranan masyarakat sekitarnya yang memberi dukungan terdapat pembangunan karakter. Dan sebagai generasi muda seharusnya dimulai sejak dini mengikuti ekstrakulikuler ataupun keorganisasian dan program-program khusus pengembangan soft skill. Mengingat bahwa soft skill mampu dikembangkan maka pengembangan itu harus dimulai sedini mungkin dan lingkungan sekitar mendukung terhadap pengembahan karakter yang ada. Kegiatan yang dapat dicoba yakni dengan mengikuti kepramukaan sebagai ekstrakulikuler ataupun organisasi ataupun komunitas bakat yang sesuai.
Yang kemudian menjadi hal penting lainnya untuk menghadapi MEA adalah kejelian untuk menggali kearifan lokal Indonesia untuk menjadi modal dalam menghadapi MEA. Dalam hal ini etnopedadogi memiliki peranan untuk memberikan warna baru pada MEA melalui pendidikan yakni mengangkat kearifan-kearifan lokal bangsa Indonesia yang mampu berfungsi sebagai sumber ataupun acuan bagi penciptaan baru misalnya dalam hal seni, kuliner, tata masyarakat, teknologi maupun kebiasaan hidup. Indonesia yang memiliki banyak suku bangsa dan daerah yang luas juga pasti memiliki kekayaan budaya yang mampu menjadi daya tarik untuk menghadapi MEA. Namun dalam hal ini diperlukan kejelian generasi muda terhadap budayanya sendiri untuk lebih dikembangkan. Etnopedagogi sendiri memiliki peran untuk membentuk generasi muda yang nantinya akan bersikap dan mengimplementasikan kearifan lokal yang ada sebagai modal mereka dalam bertindak, mengambil keputusan dan berkompetisi. Karena etnopedagoi adalah praktik pendidikan berbasis kearifan lokal dalam berbagai ranah seperti pengobatan, seni bela diri, lingkungan hidup, pertanian, ekonomi, pemerintahan dan sistem penanggalan. Guru sebagai pemeran etnopedagogi dalam penerapannya di tingkat sekolah hendaknya terlebih dahulu mengimplementasikan kearifan lokal yang ada seperti yang dilakukan di negara Jepang bahwa dalam mengajar harus memasukan kearifan lokal yang ada. Dengan soft skill yang telah dimiliki dan terdapat kreatifitas didalamnya, kemudian kearifan lokal yang diberikan pada dunia pendidikan akan menjadi bahan segar bagi masyarakat mancanegara karena akan menonjolkan ciri khas dari negara Indonesia yang mampu menjadi daya tarik pada era MEA sekarang yang dituntut adanya selalu berinovasi dan kreatifitas anggota MEA untuk menciptakan peluang dan menaikan sektor ekonomi. Seperti trilogi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu contoh kearifan yang mampu kita gunakan untuk menghadapi MEA dalam hal sikap dan pembangunan karakter. Seperti etos kerja masyarakat padang untuk mencari rejeki dengan selalu bersemangat dan pantang menyerah juga mampu digunakan etosnya untuk menghadapi MEA dan menumbuhkan jiwa kompetitifnya. Sehingga ketika generasi muda telah memiliki soft Skill maka hal lain yang dapat membantu dalam menghadapi MEA adalah objek apakah yang mampu menjadi daya tarik pada era sekarang. Maka kembali pada bangsa Indonesia sendiri yang kaya sumber daya alam dan budayanya maka kearifan lokal mampu menjadi daya tarik yang didapat melalui etnopedagogi sehingga ketika soft skill dipadukan dengan kearifan lokal, maka akan menjadi modal yang cukup bagi generasi muda menghadapi MEA karena selain bertujuan untuk mempertahankan hidup dengan memperhatikan kearifan lokal generasi muda juga telah berpartisipasi untuk melestarikan kearifan lokal yang ada sebagai warisan dari leluhur bangsa Indonesia yang kemudian dengan pengoptimalisasian kreasi ini maka akan membawa masyarakat Indonesia menjadi lebih terdepan dengan dibandingkan negara ASEAN lainnya dan lebih terampil serta kreatif tanpa melupakan aspek kognitif didalamnya. Dengan adanya soft skill dan hard skill yang dimiliki generasi muda ditambah dengan pengetahuan kearifan lokal yang diberikan oleh pendidikan karakter dan etnopedagogi maka bangsa Indonesia akan siap menghadapi MEA dan bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam AEC (Asean Economic Community).

Sabtu, 19 November 2016

Pengembangan Pendidikan IPS di Masyarakat

20.03 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi dengan manusia yang lain demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu segala sesuatu   tidak terlepas dari kemasyarakatan misalnya seperti interaksi dengan masyarakat, organisasi masyarakat, struktur masyarakat, lembaga masyarakat maupun keanggotaan sebagai masyarakat. Dengan demikian sebagai makhluk sosial kita perlu mempelajari, memahami dan juga menerapkan hal-hal sosial dan pengetahuan sosial yang erat kaitannya dengan masyarakat. Hal tersebut dapat kita peroleh dengan mempelajari ilmu-ilmu sosial dan juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari yang mampu dijadikan sebagai pedoman berperilaku ditengah masyarakat yang didasarkan pada pengetahuan ilmu sosial yang telah dipelajari sehingga kita mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat secara baik. Selain itu pentingnya pembelajaran ilmu sosial dimaksudkan untuk menciptakan warga negara yang baik sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Maka dari itu untuk mendapatkan bekal mengenai ilmu sosial agar mampu menerapkannya diperlukan pembelajaran IPS bagi setiap individu, karena Pendidikan IPS membantu para peserta didiknya untuk mengembangkan kemampuan membuat keputusan-keputusan yang bersifat reflektif sehingga mereka dapat memecahkan masalah-masalah pribadi dan membentuk kebijakan umum dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial, yang pada akhirnya akan bermanfaat ketika terjun secara langsung di masyarakat tempat ia tinggal.  
            Pendidikan ips merupakan disiplin ilmu pengetahuan yang mampu memberikan bekal bagi peserta didiknya mengenai kehidupan sosial, karena dalam Pendidikan IPS ini memiliki materi yang secara global. Maksudnya adalah materi dalam Pendidikan IPS itu berwawasan global sehingga mampu untuk membekali para peserta didik secara kognitif mengenai wawasan global dalam konteks kehidupan sosial. Selain itu juga bertujuan untuk membantu tumbuhnya pola pikir ilmuwan sosial dan juga analisis terhadap kondisi sosial yang ada di masyarakat. Adapun ruang lingkup materi Pendidikan IPS menurut (Gunawan, 2011, hal.22) diantaranya sebagai berikut.
1.      Tentang kesadaran diri; sebagai makhluk Tuhan, eksistensi, potensi dan jati diri sebagai warga dari sebuah bangsa yang berbudaya dan bermartabat sederajat dengan bangsa lain di dunia (tidak lebih rendah dari bangsa lain). Artinya bahwa peserta didik diharapkan mampu memiliki kesadaran diri terhadap dirinya mengenai status dan perannya sehingga tidak semena-mena ataupun bertindak tanpa perhitungan karena merasa dirinya mampu. Dalam materi PIPS ini memberikan bekal kepada peserta didik mengenai kesadaran diri baik secara individu maupun kesadaran sosial untuk lebih peka tehadap lingkungan sosialnya yang didasarkan atas kesadaran diri tersebut.
2.      Tentang kecakapan berpikir, seperti kecakapan berpikir kritis, menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Materi PIPS mengenai kecakapan berpikir ini diberikan agar kelak peserta didik menjadi warga negara yang kritis dan rasional serta logis dalam bertindak dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial di masyarakat.
3.      Tentang kecakapan akademik, tentang ilmu-ilmu sosial, seperti kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang sistem sosial dan budaya, lingkungan hidup, perilaku ekonomi dan kesejahteraan, serta tentang waktu dan keberlanjutan perubahan yang terjadi di dunia. Kecakapan ini didasarkan atas cabang ilmu sosial yang dipelajari dalam Pendidikan IPS seperti sejarah, ekonomi, antropologi, geografi, hukum, filsafat, komunikasi yang disetiap disiplin ilmu terdapat konsep masing-masing yang memerlukan generalisasinya.
4.       Mengembangkan social skills, dengan maksud supaya pada masa yang akan datang kita tidak hanya menjadi objek penguasaan globalisasi belaka. Social skills ini dapat berupa kemampuan berinteraksi yang dapat dipelajari baik dari sosiologi maupun ilmu komunikasi.
 Pengembangan IPS di tengah masyarakat idealnya harus responsif dan menata diri dalam menghadapi globalisasi karena sekarang kita telah memasuki era globalisasi yang terkenal dengan modernisasinya dan kecanggihan serta kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu teknologi yang seakan terus memberikan inovasi di era sekarang ini seperti terciptanya mesin-mesin baru, penemuan-penemuan terbaru dalam konteks biologi maupun kesehatan. IPS cenderung lebih terkesan jalan di tempat dan masih belum mendapatkan posisi yang membanggakan ditengah era globalisasi ini. Maka muncul pertanyaan, apakah IPS masih mampu menjadi kekuatan pendidikan yang mampu menopang kehidupan umat manusia? Jika memang iya, bagaimana PIPS harus menempatkan diri sebagai sebuah disiplin ilmu?.
             Ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila PIPS ingin tetap eksis di era sekarang bersanding dengan disiplin ilmu lainnya, dan mempunyai kedudukan yang berarti dan membanggakan di mata umat manusia. Yang pertama yaitu perlunya perhatian terhadap kurikulum PIPS. Dalam hal ini pembaharuan kurikulum PIPS hendaknya bukan sekedar tambal sulam, tetapi lebih bersifat interdisipliner dan berorientasi pada “functional knowledge” serta aspirasi kebudayaan Indonesia dan nilai-nilai agama. Dalam pengembangan kurikulum ini dasarnya adalah mengikuti kurikulum nasional yang didasarkan pada standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagaimana terlampir, standar kelulusan, standar ketuntasan, struktur dan muatan kurikulum, standar proses pembelajaran, dan standard penilaian secara nasional yang dikeluarkan oleh BSNP dalam dokumen tersendiri. Berdasarkan standar  nasional tersebut, maka dikembangkanlah KTSP dengan muatan minimal terdiri atas  tujuan, struktur kurikulum, standar  ketuntasan minimal, muatan lokal, pengembangan diri, silabus dan RPP. Di sekolah-sekolah di lingkungan sekolah tertentu,  setiap guru di lingkungan sekolah tertentu tersebut  wajib  mengembangkan kurikulum mata pelajaran IPS yang diasuhnya  minimal  dalam bentuk  program tahunan, semesteran, silabus, dan RPP. Dalam menyusun kurikulum maupun progam-program pembelajaran agar dapat beradaptasi secara aktif dengan perkembangan yang terjadi maka pengembangan kurikulum perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, guru-guru di lingkungan hendaknya selalu melakukan up-date terhadap  silabus dan RPP IPS yang sedang  dioperasikan. Perubahan-perubahan dan pengembangan kurikulum akan dilakukan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi baik ditingkat nasional maupun global. Sehingga kurikulum yang digunakan akan mampu mengikuti perkembangan zaman dan diharapkan mampu membekali peserta didik dengan kemampuan untuk menghadapi arus globalisasi seperti sekarang.
            Kedua, pengajar harus mampu menyajikan pengajaran/pembelajaran yang bersifat interdisiplin, berperan sebagai fasilitator pembelajar, dan menjadi problem solver baik di sekolah maupun di kampus dan ditengah masyarakat. Pengajar harus mampu memahami kebutuhan dasar lingkungannya, sehingga pengajaran PIPS tidak bersifat kering. Dalam hal ini peran tenaga pengajar juga merupakan hal yang penting dalam upaya mempertahankan eksstensi PIPS sehingga perlu adanya kemampuan guru untuk membawa proses belajar menjadi menarik.cara untuk membuat pembelajaran menarik di kelas yakni dengan memanfaatan kecanggihan teknologi yang ada di era ini. Seperti dalam membahas materi penyimpangan sosial, guru dapat menggunakan fasilitas internet untuk menunjukan penyimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat ataupun membuat video animasi untuk memberikan materi pembelajaran agar siswa tertarik untuk belajar IPS dan pembelajaran tidak monoton.
            Ketiga, membangun hubungan yang sinergis antara LPTK, praktisi pendidikan, sekolah, pembuat kebijakan pendidikan, serta elemen environment guna melakukan sharing untuk menyusun kurikulum yang integratif dan responsif terhadap permasalahan-permasalahan riil, baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Dengan demikian kurikulum ini akan selaras dengan apa yang sedang berkembang sekarang sehingga kurikulum yang digunakan dan materi yang diberikan mampu membekali peserta didik pengetahuan untuk menghadapi perkembangan zaman. Selain itu juga melatih analisis terhadap kondisi sosial kelak dimasyarakat karena jika kurikulum menyajikan permasalahan yang riil maka mampu melatih kecakapan berpikir dan analisis peserta didik. Selain itu kurikulum IPS harus bersifat fleksibel, artinya senantiasa bisa diubah agar mampu mengikuti perkembangan zaman dan tidak ketinggalan zaman.
            Keempat, Paradigma kurikulum IPS berorientasi ke depan sehingga kurikulum PIPS mampu membuat estimasi kehidupan yang akan berlangsung 30-50 tahun yang akan datang. Hal ini dikarenakan peserta didik yang mempelajari materi IPS sekarang kelak bukan hanya mengaplikasikannya untuk satu atau dua tahun tapi sepanjang hidupnya, maka dari itu kurikulum harus mampu mengantisipasi hal tersebut dengan membuat kurikulum dengan orientasi beberapa puluh tahun kedepan.  Dari yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai cara agar PIPS tetap eksis maka diperlukan sinergitas dari beberapa komponen yang telah dijelaskan.
Dalam pengembangan IPS ini bukan hanya dilakukan di lingkungan sekolah guna mengembangkan potensi peserta didik, namun pengembangan IPS ini dapat digunakan untuk pengembangan masyarakat. Sebagaimana dikemukakan menurut (Suharto, 2009, hal.38), pengembangan masyarkaat fokus terhadap upaya menolong anggota masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi kebutuhan bersama, melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Pengembangan masyarakat lokal adalah proses yang ditujukan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Pengembangan IPS di masyarakat adalah salah satunya dengan pengembangan partisipasi sosial, dimana topik utama dari pengembangan partisipasi sosial ini yakni pengembangan kepekaan sosial dan menerapkan strategi pengembangan sosial. Adapun penjelaskan mengenai pengembangan kepekaan sosial dan pengembangan partisipasi sosial adalah sebagai berikut.
1.      Pengembangan kepekaan sosial, kepekaan adalah keadaan dimana mudah terangsang atau mudah merasa terhadap suatu kondisi. Apabila dikaitkan dengan kondisi sosial maka kepekaan sosial adalah keadaan seseorang yang mudah bereaksi terhadap permaslahan-permasalahan kemasyarakatan. Sehingga kelak peserta didik menjadi paham dan peka terhadap berbagai aspek kehidupan. Dengan PIPS diharapkan masyarakat memiliki kepekaan sosial karena sudah memiliki ponasi pengetahuan mengenai kehidupan sosial. Contohnya ketika terjadi masalah prostitusi di lingkungan tempat tinggalnya sebaiknya masyarakat peka terhadap adanya  dampak terhadap anak-anak di lingkungan prostitusi dan menindak tempat prostitusi  tersebut. Tindakan ini didasarkan atas kepekaan sosial yang melahirkan sebuah tindakan sosial.

2.       Pengembangan partisipasi sosial, pengembangan partisipasi sosial sejalan dengan tujuan ips bahwa aspek yang cukup penting dan perlu diterapkan kepada peserta didik adalah bagaimana agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat. Sebagai generasi muda, dalam berpartisipasi hendaknya didasari adanya pengetahuan dalam bertindak ketika berpartisipasi sehingga perlu adanya PIPS untuk memberikan bekal kepada peserta didik mengenai kehidupan sosial, selain itu pula PIPS mampu mengembangkan kemampuan dan potensi berpartisipasi melalui materi dan keterampilan yang diberikan oleh PIPS. Sehingga PIPS mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan masyarakat. 

Jumat, 18 November 2016

Siapakah pemimpin pendidikan?

18.39 Posted by TyasSiti Nur Asiyah No comments
SIAPAKAH PEMIMPIN PENDIDIKAN
OLEH: TYAS SITI NUR ASIYAH
Pemimpin dalam benak kita pastilah terbersit seseorang yang menjadi pengatur, ataupun orang yang dapat mengatur ataupun. Pemimpin merupakan suatu kata yang disematkan kepada orang yang memimpin tersebut. Kemudian ada pula kata kepemimpinan yang sering terdengar pula, dimana kepemimpinan ini adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seorang  untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakan, mengarahkan dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang ditetapkan.[1] Dengan demikian kepemimpian dapat dimaknai sebagai suatu kemampuan dalam mengatur suatu hal. Dimana dalam dunia pendidikan pun tak luput dari adanya suatu kepemimpinan pendidikan. Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif fan efisien.[2] Berdasar pada definisi tersebut maka dalam konteks ini kepala sekolah, guru, wali kelas, pengawas, kepala kantor bidang pendidikan, hingga semua tenaga edukatif yang berada pada kantor dinas kepala direktorat dalam lingkup direktorat jendral pendidikan merupakan pemimpin-pemimpin pendidikan. Sehingga dalam hal tersebut setiap orang yang memiliki kemampuan dalam mempengaruhi ataupun mengatur dalam pelaksanaan pendidikan dapat disematkan sebagai pemimpin pendidikan. Pemimpin pendidikan kini sangat diperlukan sebagai satu bagian yang tak terpisahkan di era globalisasi seperti sekarang ini, dapat diliat berbagai fenomena pendidikan yang santer terdengar bukan hanya kabar baik pun kabar buruk tak luput mewarnai pendidikan Indonesia. Masuknya globalisasi hingga pengaruh kapitalisme yang kemudian menyebabkan hedonism di kalangan anak Indonesia dalam usia belajar pun kian hari kian menunjukan keberadaannya. Dalam hal ini tidak hanya memerlukan satu pihak saja yang perlu membenahi namun semua saling bahu membahu untuk kepetingan pendidikan di Indonesia. Mulai dari keluarga masyarakat hingga pemerintah memiliki andil penting dalam memajukan pendidikan Indonesia.
Sebagaimana disebutkan diawal bahwa pendidikan adalah urusan bersama begitupun harus ada suatu kepemimpinan pendidikan yang mampu menaungi itu semua menjadi suatu jalan dari berbagai permasalahan pendidikan yang terjadi maka dari itu peran pemimpin-pemimpin pendidikan ini kemudian menjadi suatu hal yang dapat dipertimbangkan. Pemimpin pendidikan dalam hal ini memiliki berbagai fungsi dalam dunia pendidikan seperti membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama, dan penuh rasa kebebasan jikalau pemimpin ini memang menerapkan suatu kebijakan maupun bersikap yang mampu menimbulkan rasa yang telah disebutkan tadi. Pemimpin pendidikan juga mampu membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan menjelaskan tujuan, dari fungsi mampu membantu kelompok dalam mengorganisir tersebut seorang pemimpin yang baik hendaknya memaksimalkan fungsi ini sebagai salah satu upaya pemimpin dalam menetapkan kebijakan guna pencapaian tujuan negara Indonesia  yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang dengan melakukan penetapan kebijakan-kebijakan baik terkait kurikulum, tenaga pendidik, peserta didik hingga persoalan pendidikan yang memerlukan kebijakan tertentu seperti misalnya konsepsi keadilan, persamaan ras dan gender dalam dunia pendidikan yang terkadang masih sering terjadi di dunia pendidikan di Indonesia.
Pemimpin pendidikan juga memiliki fungsi-fungsi lain seperti bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok. Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman. Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk melatih kelompok menyadari proses dan isi pekerjaan yang untuk melatih kelompok menyadari proses dan isi pekerjaan yang untuk melatih kelompok menyadari proses dan isi pekerjaan yang dilakukan dan berani menilai hasilnya secara jujur dan objektif. [3]
Berdasar pemaparan tersebut maka pemimpin pendidikan dapat berstatus pemimpin resmi atau yang biasa disebut “status Leader” atau formal leader” pun ada kepemimpinan yang tidak resmi. Dimana dalam kepemimpinan resmi ini dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dalam struktur organisasi pendidikan, baik secara resmi oleh ppihak atasan atau yang berwenang maupun karena dipilih secara resmi menjadi pemimpin oleh anggota staf pelaksana pendidikan di mana ia bekerja. Misalnya seperti kepala sekolah, kepala dinas pendidikan merupakan masuk ke dalam kategoripemimpin resmi. Sedangkan pemimpin tidak resmi adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, memberi tauladan dan mendorong kea rah perbaikan kualitas kerja petugas-petugas penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran meskipun di dalam hierarki struktur organisais pendidikan mungkin ia tidak menduduki posisi pemimpin. Antara pemimpin resmi dan pemimpin tidak resmi ini seharusnya terjalin suatu koordinasi yang baik dimana kemudian mereka saling bahu membahu guna mewujudkan pendidikan indonesa yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Kemudian peran guru sebagai salah satu pemimpin pendidikan seharusnya dimaksimalkan karena guru merupakan bagian yang bertatapan langsung dengan peserta didik yang dapat memberikan suatu pengajaran ataupun pembelajaran penanaman nilai yang paling dekat dengan peserta didik setelah keluarga karena di Indonesia hampir seluruh orang tua dalam suatu keluarga memberikan pendidikan sekolah baik fprmal nonformal kepada putra putri mereka. Hal ini perlulah kemudian menjadi suatu motivasi bagi guru bahwa guru juga merupakan pemimpin pendidikan yang memiliki suatu kesempatan untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia melalui pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas.
Meskipun kepemimpinan pendidikan kemudian menjadi salah satu jawaban untuk penentasan masalah pendidikan di Indonesia, perlu adanya suatu pemahaman kembali mengenai pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh pendidikan di Indonesia. Menilik pada aliran filsafat kemudian ada yang relevan guna pelaksanaan pendidikan indoensia misalnya aliran humanisme yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi kemampuan, bakat dan potensinya dalam pembelajaran yang dalam hal ini guru hanya sebagai fasilitator. Hal ini kemudian dapat menjadi pertimbangan dalam proses pembelajaran yang dapat pula menerapkan aliran humanisme ini karena dengan aliran ini menempatkan peserta didik sebagai subjek yang kemudian dapat menumbuhkan kreativitas mereka karena terbiasa mengeksplor hal apa yang mereka miliki.
Peran pemimpin ataupun kepemimpinan pendidikan di Indonesia tidak melulu hanya mengenai kepala sekolah dan hal-hal yang berau statis lainnya yang menimbulkan citra hal yang tidak mungkin untuk bantu merubah pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik, tapi perlu diketahui bahwa kepimpinan bukanlah hanya tentang pemimpin formal namun ada pula pemimpin-pemimpin tidak resmi yang memiliki peranan dan fungsi yang tak dapat dipandang sebelah mata, maka jikalau kita belum mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin formal mulailah menjadi pemimpin tidak resmi yang dapat pula memberi kontribusi yang mampu meningkatkan pendidikan Indonesia dengan menggunakan strategi, kebijakan yang sesuai dengan memperhatikan aspek-aspek sosiologis pula yang terkadang terlupakan.



[1] Prof. Dr. H. Dadang Suhardan, dkk. 2014. Manajemen Pendidikan. Bandung : ALFABETA. Hlm. 125
[2] Prof. Dr. H. Dadang Suhardan, dkk. 2014. Manajemen Pendidikan. Bandung : ALFABETA. Hlm. 126
[3] Ibid. hlm. 126

Rabu, 16 November 2016

Hubungan antara Ilmu dengan Krisis Kemanusiaan

09.53 Posted by TyasSiti Nur Asiyah , No comments
Suatu kenyataan yang tampak jelas dalam dunia modern yang telah maju ini, ialah adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagiaan orang dalam hidup. Kemajuan industri telah dapat menghasilkan alat-alat yang memudahkan hidup, memberikan kesenangan dalam hidup, sehingga kebutuhan-kebutuhan jasmani tidak sukar lagi untuk memenuhinya. Seharusnya kondisi dan hasil kemajuan itu membawa kebahagiaan yang lebih banyak kepada manusia dalam hidupnya. Akan tetapi suatu kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagiaan itu ternyata semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran mental. Beban jiwa semakin berat, kegelisahan dan ketegangan serta tekanan perasaan lebih sering terasa dan lebih menekan sehingga mengurangi kebahagiaan.

Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih untuk mengatasi berbagai masalah hidupnya, namun pada sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (ahlak) yang mulia. Dunia modern saat ini, termasuk di indonesia ditandai oleh gejalah kemerosotan akhlak yang benar-benar berada pada taraf yang menghawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal dan saling merugikan. Untuk memahami gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian itu, maka kehadiran filsafat ilmu berusaha mengembalikan ruh dan tujuan luhur ilmu agar ilmu tidak menjadi bomerang bagi kehidupan umat manusia. 

Dalam masyarakat beragama, ilmu adalah bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan karena sumber ilmu yang hakiki adalah dari Tuhan. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan mahluk yang lain, karena manusia diberi daya berfikir, daya berfikir inilah yang menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi. Pada waktu yang bersamaan, daya pikir tersebut menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan. Sehingga dia tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama manusia, tetapi juga kepada pencipta-Nya.
Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang otonom. Ilmu memang berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan secara filsafat, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, di mana keduanya mempunyai ciri-ciri yang sama.

Setiap ilmu pengetahuan akan menghasilkan teknologi yang kemudian akan diterapkan pada masyarakat. Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah teknologi yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tentu tidak terlepas dari siilmuwannya. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuan serta masalah bebas nilai. Untuk itulah tanggungjawab seorang ilmuwan haruslah dipupuk dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis, dan tanggung jawab moral.

Penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan, apakah itu berupa teknologi, ataupun teori-teori emansipasi masyarakat, mestilah memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya. Ini berarti ilmu pengetahuan tersebut sudah tidak bebas nilai. Karena ilmu sudah berada di tengah-tengah masyarakat luas dan masyarakat akan mengujinya.

Oleh karena itu, tanggung jawab lain yang berkaitan dengan teknologi di masyarakat, yaitu menciptakan hal yang positif. Namun, tidak semua teknologi atau ilmu pengetahuan selalu memiliki dampak positif. Di bidang etika, tanggung jawab seorang ilmuwan, bukan lagi memberi informasi namun harus memberi contoh. Dia harus bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar, dan berani mengakui kesalahan. Semua sifat ini, merupakan implikasi etis dari proses penemuan kebenaran secarah ilmiah. Di tengah situasi di mana nilai mengalami kegoncangan, maka seorang ilmuwan harus tampil kedepan. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Hal yang sama harus dilakukan pada masyarakat yang sedang membangun, seorang ilmuwan harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan contoh yang baik.


Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan telah menjadi suatu sistem yang kompleks, dan manusia terperangkap didalamnya, sulit dibayangkan manusia bisa hidup layak tanpa ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak lagi membebaskan manusia, tetapi manusia menjadi terperangkap hidupnya dalam sistem ilmu pengetahuan. Manusia telah menjadi bagian dari sistemnya, manusia juga menjadi objeknya dan bahkan menjadi kelinci percobaan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan telah melahirkan mahluk baru yang sistemik, mempunyai mekanisme yang kadangkala tidak bisa dikontrol oleh manusianya sendiri. Suatu mekanisme sistemik yang semakin hari semakin kuat, makin besar dan makin kompleks, dan rasanya telah menjadi suatu dunia baru di atas dunia yang ada ini.

Dalam realitas kehidupan masyarakat dewasa ini, terjadi konflik antara etika prakmatik dengan etika pembebasan manusia. Etika prakmatik berorentasi pada kepentingan-kepentingan elite sebagai wujud kerja sama denga ilmu pengetahua dan kekerasan yang cenderung menindas untuk kepentingannya sendiri yang bersifat materialistik. Etika pembebasan manusia, bersuifat spiritual dan universal itu bisa muncul dari kalangan ilmuwan itu sendiri, yang bisa jadi karena menolak etika prakmatik yang dirasakan telah menodai prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan agama yang menjunjung tinggi kebenaran, kebebasan, dan kemandirian.

Kemajuan ilmu pengetahuan dikembalikan pada tujuan semula  yaitu filsafat ilmunya sebagai sarana untuk memakmurkan umat manusia dimuka bumi bukan malah sebaliknya mengancam eksistensi manusia. 

Diharapkan perkembangan ilmu yang begitu sepektakuler di satu sisi dan nilai-nilai agama yang statis dan universal disisi lain dapat dijadikan arah dalam menentukan perkembangan ilmu selanjutnya. Sebab, tanpa adanya bimbingan agama terhadap ilmu dikhawatirkan kehebatan ilmu dan teknologi tidak semakin mensejahterahkan manusia, tetapi justru merusak dan bahkan menghancurkan kehidupan mereka.